Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Cerita Pemulung TPA Jatibarang Semarang, Gudang Rongsokan Ludes Terbakar, Bingung Cari Uang Bayar Wisuda Anak

Muhammad Hariyanto • Sabtu, 7 Oktober 2023 | 05:33 WIB
Zubaidah sibuk dengan handphone miliknya. Sesekali juga menelpon dan berbicara dengan seseorang terkait kondisi bedeng yang terbakar.
Zubaidah sibuk dengan handphone miliknya. Sesekali juga menelpon dan berbicara dengan seseorang terkait kondisi bedeng yang terbakar.

 

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Kebakaran di zona 3, TPA Jatibarang Semarang Jumat (6/10/2023) tak hanya menghanguskan tumpukan sampah.

Tetapi juga menghanguskan tempat penyimpanan barang rongsokan milik Zubaidah, 47, warga Pucung, Bambankerep, Kecamatan Ngaliyan.

"Ini tidak bisa bekerja. Tempat rongsok juga ikut terbakar. Padahal lumayan, kalau dijual ya kurang lebih Rp 2 jutaan dapat. Itu mengumpulkan sudah berhari-hari, dua mingguan lebih," ungkapnya di lokasi TPA Jatibarang, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Terlihat, Zubaidah sibuk dengan handphone miliknya. Sesekali juga menelpon dan berbicara dengan seseorang terkait kondisi bedeng yang terbakar.

Menurutnya, hasil jualan rongsokan yang terbakar tersebut untuk keperluan biaya wisuda putrinya yang kedua.

"Rencananya bulan Oktober 2023 ini wisuda, anak saya di Unimus jurusan Manajemen keuangan. Kemarin sudah daftar, tapi belum tahu bayarnya berapa. Ya nanti kalau belum dapat ganti, belum tau," katanya.

Zubaidah mengakui setiap harinya mencari nafkah sebagai pemulung di TPA Jatibarang, bersama suaminya, Jupri, 52.

Penghasilan tersebut juga untuk mencukup kebutuhan sehari-hari keluarganya. Tak disangka, hasil jerih payahnya bisa menyekolahkan dua orang anaknya hingga tuntas sampai ke perkuliahan.

"Anak pertama kuliah di Upgris, jurusan analis sastra bahasa Inggris, terus kuliah lagi di UT (universitas terbuka). Sekarang jadi wakil kepala sekolah di daerah Kebongarjo," katanya.

Menurutnya, bekerja menjadi pemulung sejak usia 30 tahun. Awalnya bekerja menjadi karyawan pabrik. Kemudian, menekuni mengumpulkan sampah setelah diajak suaminya, yang sudah 30 tahun menjadi pemulung di TPA Jatibarang.

"Berangkat subuh, kadang jam 08.00. Kalau pulang ya kadang jam 15.00. Ya setiap hari naik sampai ke atas yang paling tinggi juga. Ya namanya cari makan, untuk hidup yang penting halal," imbuhnya.

Sementara Tarno, Koordinator Pemulung TPA Jatibarang, juga mengaku resah. Sebab, piaraan hewan anak-anaknya yang mencari makan di zona tiga belum diketahui kondisinya. Menurutnya, jumlahnya mencapai puluhan ekor.

"Ya kurang lebih 30 an, punya anak-anak saya. Itu setiap hari kan sapinya nyari makan disini. Ini juga belum tau, kondisinya seperti apa, ada yang terbakar atau tidak. Katanya sudah ada empat sapi yang terbakar, di dalam kandang semua, tiga milik Pak Kasiyanto sama satu milik Pak Junaidi," jelasnya.

Informasi yang diperoleh dua orang ini, seorang perempuan pedagang di bagian bawah, zona empat juga mengalami nasib sial.

Pedagang tersebut terinjak-injak sapi, yang dimungkinkan mengalami stres akibat asap dan api kebakaran.

"Ya mungkin sapinya stres, kemudian berlari-lari. Lha pas yang pedagang warung nasi itu pas mau menyelamatkan diri, tiba-tiba keterangan sapi-sapi," imbuh Tarno.

Sementara terlihat, api kembali menyala besar sekitar pukul 18.00. Kobaran api warna merah kombinasi jingga membumbung tinggi disertai kepulan asap pekat. (mha/bas)

Editor : Baskoro Septiadi
#TPA Jatibarang #semarang #api #KEBAKARAN #rongsokan