RADARSEMARANG.ID, Semarang – Kelenteng Sam Poo Kong Semarang berhias meriah. Masyarakat berbondong-bondong menghadiri Festival Cheng Ho yang digelar di tempat yang juga dikenal dengan nama Kelenteng Gedung Batu itu Sabtu (19/8/2023).
Di hari itu terdapat perayaan hari ulang tahun kedatangan Laksamana Cheng Ho atau dalam nama Cina Laksamana Zheng He ke Semarang yang ke-618.
Salah satu yang menarik di Festival Cheng Ho adalah kehadiran para pengawal kuda atau yang biasa disebut Bhe Kun.
Bhe Kun adalah orang-rang yang memiliki nazar dan berbondong-bondong turut memeriahkan perayaan tersebut.
"Bhe itu kuda, Kun itu pengawal, jadi kami disebut pengawal kuda," kata Monika, salah satu Bhe Kun ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang.
Monika menjelaskan, para Bhe Kun harus mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir, mereka memiliki titik kumpul di Klenteng Tay Kak Sie, untuk pada malam hari sekitar pukul 21.00 WIB melakukan persiapan makeup untuk seluruh Bhe Kun.
"Start nya itu dari kelenteng Tay Kak Sie jam 05.00, lalu sampai Sam Poo Kong pukul 07.30, lumayan lah ya berjalan selama 2 jam setengah," jelasnya.
Menjadi Bhe Kun terkesan seram, pasalnya banyak coretan wajah yang menjadi ikon bagi seorang Bhe Kun.
“Menjadi Bhe Kun tidak berpatok pada satu agama, siapapun yang mau bisa menjadi Bhe Kun," imbuh Budi, salah satu Bhe Kun.
Dalam perayaan kali ini, terdapat 114 Bhe Kun yang terdaftar. Bhe Kun diyakinin sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, hal ini dilakukan sebagai bentuk refleksi dari pengorbanan dan kesetiaan terhadap pemimpin.
"Makannya kita tampil dengan coretan ini, sebagai bentuk tirakat, bahkan seorang Bhe Kun ada yang berpuasa sebagai bentuk prihatin terhadap doa yang dipanjatkan," tambah Budi.
Ia menyebut, para Bhe Kun memiliki nazar yang berbeda-beda, biasanya terdapat Bhe Kun yang bernazar setelah doa dikabulkan, adapula yang menjadi Bhe Kun terlebih dahulu sebagai bentuk harapan atas doa yang dipanjatkan nantinya dikabulkan.
"Kalau saya sendiri memang bernazar untuk diberikan kesehatan di usia yang sekarang," ungkapnya.
Dalam rangkaian acara yang disediakan panitia, biasanya para Bhe Kun akan kembali ke Tay Kak Sie menaiki alat transportasi pada pukul 12.00 WIB.
Kemudian para peserta kirab akan diturunkan di Pecinan untuk kembali memutari Pecinan dengan berjalan kaki untuk menuju Klenteng Tay Kak Sie.
Bhe Kun memiki ciri khas berpakaian serba hitam, dengan riasan wajah berwarna dominan merah, hitam, dan putih.
"Riasan wajah ini biasanya meniru wayang opera cina," tutur pria berusia 57 tahun, salah satu Bhe Kun.
Bhe Kun tidak akan bisa lepas dari jejeran arak-arakan Cheng Ho. Kuda Sam Poo yang terdapat dalam iringan biasanya berlaku agresif ketika memasuki pelataran Klenteng Sam Poo Kong.
Menurut Budi, terdapat sebuah kepercayaan Tionghoa, dimana kuda yang berlaku agresif untuk orang yang bisa melihat dalam konteks hal yang gaib terdapat arwah leluhur yang menaiki kuda tersebut.
Pria berusia 57 tahun tersebut menambahkan, ketika melihat arak-arakan kuda Sam Poo hendaknya lebih waspada.
"Tadi soalnya ada ibu yang sedang menggendong anaknya terjatuh dan hampir terinjak kuda," pungkasnya. (mg15/mg14/bas)
Antusiasme masyarakat terhadap festival Sam Poo yang diselenggarakan di Klenteng Sam Poo Kong di bongasari, Semarang Barat, Kota Semarang Sabtu 19/8/2023. Diva Rizki Saputri/Asma Nida Nurhayah Fauziyyah/Jawa Pos Radar Semarang
Deretan pasukan Bhe Kun yang akan memasuki pelataran Klenteng Sam Poo Kong di Bongasari, Semarang Barat, Kota Semarang Sabtu 19/8/2023. Diva Rizki Saputri/Asma Nida Nurhayah Fauziyyah/Jawa Pos Radar Semarang
Salah seorang Bhe Kun yang sedang berjalan di pelataran Klenteng Sam Poo Kong di Bongasari, Semarang Barat, Kota Semarang Sabtu 19/8/2023. Diva Rizki Saputri/Jawa Pos Radar Semarang
Salah seorang pengunjung festival Sam Poo dengan anaknya yang hampir terinjak kuda Sam Poo yang dibawa oleh Bhe Kun di Bongasari, Semarang Barat, Kota Semarang Sabtu 19/8/2023. Diva Rizki Saputri/Jawa Pos Radar Semarang
Editor : Baskoro Septiadi