Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Padukan Jawa Tradisional dan Cina Cingge, Pagelaran Wayang Orang On The Steet Gaungkan Nilai Toleransi

Magang Radar Semarang • Jumat, 18 Agustus 2023 | 17:07 WIB

 

Pagelaran wayang on the street menarik perhatian kawula muda hingga orang tua untuk ikut andil dalam melestarikan wayang orang, Jumat malam (11/8/2023).
Pagelaran wayang on the street menarik perhatian kawula muda hingga orang tua untuk ikut andil dalam melestarikan wayang orang, Jumat malam (11/8/2023).

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Pertunjukan wayang orang on the street kembali digelar di Semarang. Dengan mengangkat judul ‘Mbangun Suralaya’, pagelaran wayang orang on the street ini menjadi salah satu rangkaian roadshow festival Kota Lama Semarang yang ke-12, dimana pagelaran wayang orang on the street ini rutin dilakukan setiap bulannya, tepatnya di hari Jumat minggu kedua.

Dengan mengusung konsep kolaborasi antara wayang jawa tradisional dan wayang cina cingge, membuat pagelaran wayang orang ini berbeda dengan pagelaran yang telah dipentaskan sebelumnya.

Sang sutradara, Bambang Budianto mengatakan, kolaborasi budaya tersebut menjadi yang pertama dipentaskan dalam satu panggung, dimana ia ingin menunjukkan ke dunia luar bahwa keberagaman etnis dan budaya yang ada di Kota Semarang ini dapat berkembang beriringan dan tetap bersatu walaupun berbeda agama, ras, dan budaya.

“Sehingga pagelaran wayang orang ini dinamakan wayang kebangsaan,” katanya ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang Jumat (11/8/2023).

Dengan mengangkat judul Mbangun Suralaya, pagelaran wayang orang ini diawali dengan menceritakan Kalamurka yang ingin mencari keadilan dan kebenaran tentang jati dirinya, sehingga seluruh dewata dan para kesatria berusaha sekuat tenaga untuk bisa kembali membangun bumi dan kahyangan yang rusak porak poranda.

“Mbangun Suralaya itu membangun peradaban manusia, dimana kita ingin menyampaikan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan agar tercipta kedamaian,” kata sutradara yang kerap dipanggil Budi Lee.

Di bawah arahan sang sutradara pagelaran wayang orang on the street berhasil memukau dan mengundang gelak tawa para penonton.

Salah satu penonton, Heni menuturkan bahwa pagelaran wayang orang ini sangat penting untuk anak-anak muda, karena membawakan cerita yang mengandung pesan terkait nilai-nilai kehidupan, selain itu terdapat pula nilai edukasi dan teladan tersendiri yang dapat kita petik.

“Acaranya keren banget apalagi ini kan pertama kalinya menampilkan akulturasi budaya yang dikemas dalam pertunjukan wayang orang, jadi sangat menarik dan tidak monoton,” ungkapnya.

Tentunya, kesuksesan pagelaran wayang orang malam ini berkat keterlibatan dari berbagai pihak, seperti pelaku seni budaya Ngesti Pandowo, sanggar Tirang Community, sanggar Wayang Cina Cingge.

“Kita latihannya tidak lama, hanya 3 hingga 4 kali saja, karena sulit mencocokkan jadwal dengan para pemain yang berasal dari eksekutif bank,” sambungnya. (mg14/bas)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#semarang #Kota Lama Semarang #wayang orang