RADARSEMARANG.ID, Semarang - Masyarakat Talunkacang, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, menyambut satu Suro dengan mengumpulkan air dari tujuh sumber, Minggu (9/7).
Kegiatan ini diawali dengan pengajian akbar oleh Habib Umar Mutahar. Kemudian ritual pengambilan Tirto Waluyo Jati menggunakan kendi di tujuh sumber air. Yakni Banjarsari, Tok Lampean, Sendang Gonjit, Kali Sendang, Pandan Krengseng, Sendang Kali Lor, dan Kreo.
Air tersebut kemudian diserahterimakan tokoh masyarakat, lurah, dan tokoh agama kepada ketua RT dan ketua RW 3. Kegiatan ini merupakan tradisi turun temurun.
"Setiap menjelang 1 Muharram, warga Talunkacang selalu menguri-uri budaya yang sudah jalan sejak nenek moyang," kata tokoh masyarakat Talunkacang, Danu Kasno.
Pengambilan Tirto Waluyo Jati diawali dengan meminta izin kepada sesepuh. Kemudian kendi air diserahkan kepada ibu-ibu. Setelah itu arak-arakan ke lokasi sumber air.
Pengambilan Tirto Waluyo Jati dilanjutkan dengan kegiatan Nyangkrip (tolak bala) dan Barikan (sedekah untuk meminta barokah kepada Tuhan Yang Maha Esa) pada malam satu Muharram atau satu Suro.
"Air ini ditaruh ke gentong. Pas malam satu Suro akan dibagikan ke warga atau bisa mengambil sendiri-sendiri," jelasnya.
Warga meyakini, rituali tersebut untuk pemasangan tolak bala di empat penjuru, timur, barat, selatan, dan utara.
Setelah pengumpulan air di tujuh sumber akan dipondokkan di Masjid Al-Mabrur selama tujuh hari enam malam menjelang satu Suro. "Ditirakati, dibacakan Alquran, Maulid Nabi, dan Manaqib oleh kiai-kiai dan sesepuh,"
Lurah Kandri, Mutmainah, berharap rangkaian Suronan di Kampung Talunkacang dapat dilestarikan. "Tujuannya agar warga di sini dapat berbahagia, aman, dan tentram," harapnya. (fgr/zal)
Editor : Baskoro Septiadi