250 Pemimpin Mahasiswa PTKI Ditempa Jadi Tangguh dan Berdampak

Dhinar Sasongko • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:26 WIB
Dekan FTIK UIN Salatiga memberikan sambutan dalam pembukaan acara
Dekan FTIK UIN Salatiga memberikan sambutan dalam pembukaan acara

 

RADARSEMARANG.ID, Salatiga - Sebanyak 250 mahasiswa dan pengelola organisasi kemahasiswaan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) mengikuti Seminar Kepemimpinan Mahasiswa bertajuk “Penguatan Hardiness dan Daya Juang Pemimpin Organisasi Kemahasiswaan PTKI” di Hotel New Merdeka Pati, hari ini, Selasa (18/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan kerja sama Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (DIKTIS) Kementerian Agama RI, dalam rangka Program Peningkatan Mutu Pendidikan Islam NGOPI (Ngobrol Pendidikan Islam) Tahun 2026.

Seminar diarahkan untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan mahasiswa, terutama dalam membangun hardiness atau ketangguhan mental, kecerdasan emosional, daya juang organisasi, integritas, kemampuan mengelola konflik, hingga kepemimpinan yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Peserta berasal dari unsur Dewan Eksekutif Mahasiswa, Senat Mahasiswa, himpunan mahasiswa program studi, unit kegiatan mahasiswa, unit kegiatan khusus, pembina kemahasiswaan, serta unsur pengelola perguruan tinggi. Dalam laporan kegiatan, keterlibatan peserta ditempatkan sebagai bagian penting dalam penguatan tata kelola organisasi kemahasiswaan PTKI.

Baca Juga: HUT ke-81 RI di Salatiga, Doa untuk NTT hingga Semangat Persatuan

Dekan FTIK UIN Salatiga Prof. Dr. Rasimin, M.Pd. mengatakan, organisasi kemahasiswaan merupakan ruang strategis bagi mahasiswa untuk belajar menjadi pemimpin.

“Organisasi kemahasiswaan merupakan laboratorium kepemimpinan. Di dalam organisasi, mahasiswa belajar mengambil tanggung jawab, bekerja dalam tim, membangun kedisiplinan dan integritas, serta mempersiapkan diri menghadapi perubahan,” kata Rasimin saat membuka kegiatan.

Ia menegaskan, kualitas sebuah organisasi tidak semestinya hanya dinilai dari banyaknya program yang diselenggarakan. Sistem kerja, pembagian peran, komunikasi, evaluasi, dan kaderisasi menjadi unsur penting dalam menjaga kesehatan organisasi.

“Organisasi yang kuat bukan sekadar memiliki banyak kegiatan. Yang dibutuhkan adalah sistem kerja yang jelas, pembagian tanggung jawab yang sehat, komunikasi terbuka, evaluasi, dan kaderisasi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Substansi tersebut sejalan dengan arah pembukaan kegiatan yang menempatkan organisasi mahasiswa sebagai ruang pembentukan tanggung jawab, kerja tim, integritas, kemampuan menghadapi perubahan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Seminar menghadirkan Dr. Hj. Siti Malaiha Dewi, S.Sos., M.Si., Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Kudus. Ia menyampaikan materi “Membangun Hardiness Pemimpin Mahasiswa: Ketangguhan Mental, Kecerdasan Emosional, dan Daya Juang Organisasi.”

Siti Malaiha menekankan bahwa hardiness tidak boleh diterjemahkan sebagai kemampuan seorang pemimpin menanggung seluruh tekanan seorang diri.

“Hardiness bukan berarti pemimpin harus menanggung semua tekanan sendirian. Pemimpin yang tangguh justru mampu mengenali batas dirinya, menyusun prioritas, membagi tanggung jawab, melakukan delegasi, dan membangun dukungan di dalam tim,” jelasnya.

Baca Juga: Upacara HUT RI di Sinoman Salatiga Bernuansa Wayang

Menurutnya, ketangguhan perlu berjalan beriringan dengan kecerdasan emosional. Pemimpin organisasi perlu mampu mengenali emosi diri, membaca situasi tim, mengendalikan reaksi impulsif, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Ketika terjadi konflik, pemimpin harus mampu memisahkan persoalan dengan pribadi, mendengarkan semua pihak, memverifikasi informasi, kemudian mengembalikan keputusan pada tujuan organisasi,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa budaya organisasi yang menormalisasi kelelahan berpotensi menurunkan kualitas keputusan sekaligus mengganggu keberlanjutan kepengurusan. Karena itu, pembagian kerja, delegasi, evaluasi beban, dan dukungan tim menjadi bagian penting dalam membangun organisasi yang sehat.

Narasumber lainnya, Hj. Sri Wulan, S.E., M.M., Anggota Komisi VIII DPR RI, membawakan materi “Kepemimpinan Tangguh dan Berdampak: Dari Aktivisme Mahasiswa Menuju Pengabdian untuk Bangsa.”

Sri Wulan mengajak mahasiswa menjaga daya kritis sekaligus memperkuat kualitas advokasi melalui kajian dan data.

“Mahasiswa harus tetap kritis. Namun, kritik akan lebih kuat ketika dibangun berdasarkan data, kajian, argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta dilengkapi alternatif solusi,” kata Sri Wulan.

Menurutnya, aktivisme mahasiswa perlu diarahkan menjadi gerakan yang mampu menjawab kebutuhan nyata. Organisasi mahasiswa juga perlu mengubah ukuran keberhasilan dari sekadar banyaknya agenda menuju manfaat yang dihasilkan.

“Program organisasi harus berangkat dari kebutuhan nyata. Harus jelas persoalan yang ingin dijawab, siapa penerima manfaatnya, tujuan yang hendak dicapai, dan bagaimana keberhasilannya dapat diukur,” ujarnya.

Sri Wulan juga menekankan pentingnya akuntabilitas dan kaderisasi. Dokumentasi keputusan, evaluasi program, transparansi penggunaan sumber daya, serta transfer pengetahuan dinilai penting agar organisasi tidak kehilangan pengalaman setiap kali terjadi pergantian kepengurusan.

Editor : Baskoro Septiadi
prof rasimin pelatihan kepemimpinan FTIK UIN Salatiga