Pulang ke Jejak Leluhur, Keluarga Raja Kopi Belanda Napak Tilas di Salatiga

Dhinar Sasongko • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 09:05 WIB
Keluarga Sherly saat mengunjungi gedung papak Pemkot
Keluarga Shirley saat mengunjungi gedung papak Pemkot

 

RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Langkah Shirley Hamar de la Brethoniere melambat saat memasuki kawasan bekas Hotel Kalitaman. Sesekali ia berhenti, memandangi bangunan tua yang masih menyimpan jejak masa lalu. Wajah perempuan Belanda itu sekilas memiliki sedikit kemiripan dengan orang Indonesia. Senyumnya mengembang setiap kali mendengar kisah tentang leluhurnya yang pernah membangun sejarah di Salatiga.

Didampingi pegiat sejarah dan cagar budaya Salatiga, Warin Darsono, Shirley datang bersama suaminya, Olaf serta kedua anak mereka, Marente dan Lucas, untuk menelusuri jejak keluarga yang selama ini hanya mereka kenal dari cerita turun-temurun.

Shirley merupakan keturunan ketujuh Pierre Hamar de la Brethoniere, pelopor Perkebunan Getas. Bersama saudaranya, Carolus Hamar de la Brethoniere, Pierre dijuluki *Koffie Koning* atau Raja Kopi karena sukses membuka perkebunan kopi pertama di Getas pada 1828.

Berbeda dengan Shirley yang berparas lembut, Olaf tampil dengan ciri khas pria Eropa. Tubuhnya tinggi, kulitnya cerah, dan ia lebih banyak mengamati setiap penjelasan sejarah yang disampaikan Warin. Sesekali ia mengabadikan bangunan-bangunan tua menggunakan telepon genggamnya.

Kesuksesan Pierre di bisnis kopi kemudian melahirkan Hotel Kalitaman sekitar 1837. Dengan dana sekitar 100 ribu gulden, hotel termegah pada masanya itu dibangun untuk menyambut rencana kedatangan Pangeran Hendrik, adik Raja Willem III, sekaligus mengangkat Salatiga sebagai kota peristirahatan di era Hindia Belanda.

Baca Juga: Kronologi Dugaan Perampokan di Konter HP Royal Phone Ambarawa, Pemilik Belum Diketahui Keberadaannya

Di tengah rombongan, Marente Hamar de la Brethoniere tampak paling ekspresif. Siswi Grade 11 itu beberapa kali melontarkan pertanyaan mengenai sejarah keluarganya.

Bola matanya yang biru cerah tampak berbinar saat mendengar kisah tentang leluhurnya. Sementara Lucas Hamar de la Brethoniere lebih banyak berjalan di samping sang ayah. Perawakannya yang mirip Olaf membuat keduanya sekilas tampak seperti pinang dibelah dua.

Perjalanan sehari mengelilingi Salatiga rupanya meninggalkan kesan mendalam bagi Shirley. Ia mengaku mulai memahami mengapa leluhurnya memilih menetap dan membangun kehidupan di kota ini.

"Salatiga sangat sejuk, tenang, dan indah. Kota ini dikelilingi pegunungan dengan pemandangan yang luar biasa. Orang-orangnya juga sangat ramah. Sekarang saya sedikit mengerti mengapa keluarga kami dulu memilih tinggal di sini," ujarnya.

Baginya, kunjungan itu bukan sekadar napak tilas keluarga. Salatiga adalah kota kelahiran kedua orang tuanya sekaligus tempat asal keluarga besar Hamar de la Brethoniere. Selama berada di kota itu, Shirley juga diajak mengunjungi Prasasti Plumpungan, berkeliling kawasan bersejarah, hingga singgah di Balai Kota Salatiga dan sempat berbincang dengan Wali Kota.

"Saya baru mengetahui Salatiga sudah berusia sekitar 1.270 tahun. Saya bangga karena keluarga kami pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang kota ini," katanya.

Baca Juga: SInopsis Terikat Janji Episode 124, Dituduh Berkhianat, Jihan Ketakutan Ditinggal Tunangan: Nasib Dipa di Sel Malah Tragis?

Warin Darsono mengatakan, kunjungan tersebut bukan sekadar napak tilas keluarga, melainkan juga menjadi momentum menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang sejarah Salatiga.

"Kunjungan ini bukan sekadar napak tilas keluarga, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap warisan sejarah yang pernah membangun kota ini. Kami ingin semakin banyak masyarakat mengenal dan menjaga tinggalan sejarah yang masih ada," ujarnya.

Hampir dua abad telah berlalu sejak Pierre Hamar de la Brethoniere membuka perkebunan kopi di Getas. Namun jejaknya belum hilang. Melalui langkah tiga generasi keluarga Hamar de la Brethoniere yang kembali ke Salatiga, sejarah itu kembali menemukan jalannya untuk dikenang.

Editor : Baskoro Septiadi
de la brethoniere hotel kalitaman raja kopi