Gandeng Yayasan ADDIN Malaysia, FTIK UIN Salatiga Gulirkan Asistensi Mengajar Internasional

Dhinar Sasongko • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 10:45 WIB
Prof Rasimin selaku dekan FTIK bersama petinggi dari Malaysia
Prof Rasimin selaku dekan FTIK bersama petinggi dari ADDIN Malaysia

 

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga resmi menjalin kerja sama internasional dengan Yayasan Pendidikan Maahad Tahfiz Al-Quran Wal Qiraat (ADDIN) Perak, Malaysia.

 

Penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) berlangsung di Kompleks Pendidikan Masjid Al-Aulia, Kota Ipoh, Perak, Malaysia, Sabtu (1/8).

 

Kesepakatan ditandatangani langsung oleh Dekan FTIK UIN Salatiga Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., bersama Ketua Pegawai Eksekutif Yayasan ADDIN Perak Tuan Haji Mohd Sabri Bin Nordin.

 

Kemitraan mendasar ini memetakan tujuh pilar prioritas. Antara lain mencakup bidang pendidikan, penelitian, pelatihan, pengabdian masyarakat, penguatan kompetensi SDM, ekspansi bisnis, hingga kemitraan antarlembaga.

 

Rasimin menegaskan kolaborasi lintas negara tersebut menjadi pijakan krusial perguruan tinggi keagamaan Islam dalam mengawal agenda global Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 sekaligus memperkuat kurikulum nasional.

 

"Kerja sama ini wujud komitmen kami mengawal pencapaian SDGs, khususnya SDG Nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG Nomor 17 terkait Kemitraan Kunci," ujar Rasimin.

 

Ia menjelaskan, kemitraan ini secara konkret dijadikan wadah pelaksanaan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) program Asistensi Mengajar Internasional bagi mahasiswa FTIK UIN Salatiga di jaringan Maahad Tahfiz Yayasan ADDIN Perak.

 

"Tujuannya membentuk tenaga pendidik yang kokoh secara spiritual, berdaya saing global, serta adaptif terhadap akselerasi teknologi," lanjutnya.

 

Lebih jauh Rasimin merinci, program riset terapan dan pengabdian masyarakat diarahkan untuk mengikis kesenjangan sosial (SDG 10). Sementara penguatan jejaring bisnis lembaga disiapkan untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi berbasis syariah yang inklusif (SDG 8 & 9).

 

Sementara itu, Mohd Sabri menilai integrasi keilmuan akademis UIN Salatiga dengan model pendidikan tahfiz di Perak berpotensi memperluas maslahat bagi masyarakat luas.

 

"Sinergi bersama UIN Salatiga menjadi ikhtiar memperkuat pendidikan Al-Qur'an dan karakter generasi muda. Melalui pemaduan kapasitas akademis, asistensi mengajar, pelatihan keterampilan, serta pengembangan usaha berbasis syariah, kami optimistis melahirkan modal insan adaptif," tutur Mohd Sabri.

 

Ia menambahkan, kolaborasi ini diharapkan berkontribusi langsung pada pembangunan sosioekonomi masyarakat Islam di Malaysia dan Indonesia.

 

"Nota Kesepahaman bernomor B-2014/Un.29/D1/KS.01.5/05/2026 ini berlaku selama lima tahun dan memuat mekanisme evaluasi berkala tiap enam bulan. Detail teknis di lapangan langsung diturunkan ke Perjanjian Kerja Sama antarunit agar terukur dan berdampak nyata," pungkas Rasimin.

Editor : Baskoro Septiadi
prof rasimin addin malaysia UIN Salatiga