Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kekhawatiran Anak Kecanduan Gawai, Lahir Kit Jamur Edukasi Karya Alumni UKSW

Dhinar Sasongko • Selasa, 7 Juli 2026 | 10:07 WIB
Tim UKSW pengembangan jamur
Tim UKSW pengembangan jamur

RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Keresahan melihat anak-anak lebih akrab dengan layar ponsel daripada alam justru melahirkan sebuah peluang. Berbekal kegelisahan itu, alumni Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Aditya Yoga Sustika, menciptakan Mikoologi atau Mikoo, sebuah paket budidaya jamur yang mengajak anak belajar sambil bermain.

Awalnya, Aditya hanya ingin membuat produk pertanian yang memiliki nilai lebih. Ia membayangkan jamur tak lagi sekadar bahan pangan, tetapi bisa menjadi media edukasi yang membuat anak-anak kembali mengenal proses tumbuhnya makhluk hidup.

Ide tersebut kemudian dipertemukan dengan keahlian akademik. Bersama dosen FPB UKSW, Ruth Meike Jayanti, ia melakukan riset selama tiga bulan, mulai Maret hingga Mei 2025. Dari laboratorium kampus, lahirlah formula media tanam yang membuat jamur tumbuh lebih cepat, stabil, dan aman dikonsumsi.

Hanya dalam waktu sekitar setahun, hasil riset itu berubah menjadi bisnis yang kini dipasarkan di berbagai kota. Mikoo tidak hanya dijual secara daring, tetapi juga masuk ke swalayan hingga destinasi wisata edukasi di Salatiga, Solo, Semarang, Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Baca Juga: Mimpi Amerika Serikat Kandas, Setan Merah Belgia Mengamuk di Seattle untuk Segel Tiket Perempat Final

"Banyak orang tua bercerita anak-anak mereka jadi antusias menyiram dan merawat jamur setiap hari. Bahkan ada balita yang sudah bisa melakukannya sendiri. Tanpa disadari, waktu mereka bermain gawai pun berkurang," ujar Aditya.

Baginya, keberhasilan Mikoo bukan hanya soal penjualan. Yang paling berharga adalah ketika sebuah produk sederhana mampu menghadirkan kembali interaksi anak dengan alam di tengah derasnya arus digital.

Di balik kesuksesan tersebut, peran UKSW sangat besar. Bukan hanya membantu riset, tetapi juga mendampingi proses pengembangan produk hingga siap dipasarkan. Dua mahasiswa bahkan diterjunkan langsung ke lokasi produksi untuk melakukan pengawasan kualitas setiap hari.

"Kalau hanya riset lalu selesai menjadi laporan, manfaatnya terbatas. Kami ingin hasil penelitian benar-benar diproduksi, digunakan masyarakat, dan memberi dampak ekonomi," kata dosen FPB UKSW, Ruth Meike Jayanti.

Kolaborasi itu juga meningkatkan kepercayaan pasar. Setelah menandatangani kerja sama resmi dengan UKSW pada Oktober 2025, Mikoo semakin mudah meyakinkan calon mitra bisnis karena didukung riset akademik.

Kini, jamur tiram yang selama ini dikenal sebagai bahan makanan telah bertransformasi menjadi hadiah, suvenir, media belajar, sekaligus peluang usaha. Sebuah perjalanan yang bermula dari kegelisahan sederhana seorang anak muda melihat generasi kecil semakin tenggelam dalam dunia digital.

Bagi Aditya, inovasi terbaik sering lahir dari keberanian untuk bertanya dan berkolaborasi. Karena itu, ia mengajak mahasiswa tidak ragu menggandeng akademisi agar ide-ide yang lahir di kampus tidak berhenti sebagai penelitian, melainkan tumbuh menjadi solusi nyata bagi masyarakat.(sas)

Editor : Baskoro Septiadi
#ruth Mieke #FPB UKSW #UKSW Salatiga