RADARSEMARANG.ID, Salatiga – Aksi libur berjualan yang dilakukan pedagang daging sapi di Pasar Raya I Salatiga mulai menimbulkan efek berantai. Setelah lima hari pasokan tersendat, pelaku usaha bakso dan rumah makan mengaku kesulitan memperoleh bahan baku dan mendesak pedagang daging segera kembali berjualan.
Desakan tersebut mengemuka dalam audiensi yang digelar di Los Daging Pasar Raya I Salatiga, Rabu (24/6). Pertemuan mempertemukan pedagang daging sapi, Paguyuban Penjual Bakso Kota Salatiga, serta Dinas Perdagangan Kota Salatiga untuk mencari jalan keluar atas kelangkaan sapi siap potong yang kian mengkhawatirkan.
Perwakilan Paguyuban Penjual Bakso Kota Salatiga, Warno, mengatakan penghentian penjualan daging selama lima hari telah memukul sektor kuliner yang bergantung pada pasokan harian daging sapi.
Baca Juga: Pedagang Daging Salatiga Mogok Jualan Lima Hari, Pasokan Langka dan Harga Naik Terus
"Kami sudah merasakan dampaknya. Banyak pedagang bakso dan warung makan kesulitan mendapatkan bahan baku. Kami berharap pemerintah segera turun tangan dan pedagang daging bisa kembali berjualan," ujarnya.
Keluhan senada disampaikan Muji. Ia menilai kondisi di lapangan jauh berbeda dengan berbagai informasi yang menyebut stok sapi masih tersedia.
"Kalau memang stok aman, kenapa kami kesulitan mendapatkan daging? Yang kami rasakan di lapangan justru kelangkaan nyata," katanya.
Menurutnya, penghentian penjualan selama satu hingga dua hari masih dapat ditoleransi. Namun aksi yang berlangsung hingga lima hari mulai mengancam keberlangsungan usaha kecil yang setiap hari membutuhkan pasokan daging.
Dampak tersebut juga dirasakan pelaku rumah makan. Slamet, pemilik Rumah Makan Padang Kawan Lamo, mengaku kesulitan mendapatkan pasokan daging dalam dua hari terakhir.
"Kalau kondisi ini terus berlanjut, usaha kami yang terdampak. Kami berharap ada langkah konkret dari pemerintah agar pasokan kembali normal," ujarnya.
Sementara itu, pedagang daging sapi menegaskan aksi libur berjualan dilakukan bukan tanpa alasan. Mereka mengaku kelangkaan sapi siap potong terjadi hampir di seluruh wilayah Jawa Tengah. Harga sapi dari peternak maupun blantik terus melonjak sehingga margin usaha pedagang semakin tertekan.
Menurut mereka, persoalan yang terjadi bukan semata-mata menyangkut pedagang pasar, tetapi sudah menyentuh seluruh rantai pasok daging sapi.
Meski memahami kesulitan yang dialami pedagang bakso dan rumah makan, para pedagang daging tetap memilih melanjutkan aksi libur berjualan selama lima hari sesuai kesepakatan yang telah dibuat. Aksi tersebut dianggap sebagai bentuk protes terhadap sulitnya memperoleh sapi siap potong dan tingginya harga pasokan.
Baca Juga: Pasokan Daging Seret, Stok Sapi Salatiga Diperkirakan Hanya Cukup 22 Hari
Kepala Dinas Perdagangan Kota Salatiga, Agung Pitoyo, mengakui kelangkaan sapi siap potong tidak hanya terjadi di Salatiga, melainkan juga di sejumlah daerah lain di Jawa Tengah. Pemerintah Kota Salatiga melalui Dinas Pertanian telah melaporkan kondisi tersebut kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mendapatkan solusi.
"Kondisi ini memang terjadi di banyak daerah. Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk mencari langkah penanganan," katanya.
Berdasarkan inventarisasi yang dilakukan pemerintah, ketersediaan sapi siap potong di Kota Salatiga saat ini diperkirakan masih berkisar antara 150 hingga 170 ekor. Pemerintah juga meminta pedagang tetap berjualan meski dengan volume terbatas agar kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha kuliner tetap terpenuhi.
Di tengah tarik-menarik kepentingan antara pedagang daging dan pelaku usaha kuliner, harga daging sapi di tingkat konsumen masih bertahan pada kisaran Rp130 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram. Namun jika krisis pasokan terus berlanjut, tekanan terhadap usaha kuliner dan daya beli masyarakat diperkirakan akan semakin besar.
Editor : Baskoro Septiadi