Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Bentengi Gen Alpha, PIAUD UIN Salatiga Jadikan Budaya Lokal ‘Senjata’ Karakter

Radar Semarang • Senin, 27 April 2026 | 19:35 WIB
Seminar Nasional bertajuk “Pendidikan Berbasis Budaya untuk Generasi Kreatif dan Berkarakter melalui Budaya Lokal” di Aula Lt. 3 Gedung KH. Ahmad Dahlan, Senin (27/4).
Seminar Nasional bertajuk “Pendidikan Berbasis Budaya untuk Generasi Kreatif dan Berkarakter melalui Budaya Lokal” di Aula Lt. 3 Gedung KH. Ahmad Dahlan, Senin (27/4).

 

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - “Di tengah zaman ketika anak-anak lebih cepat mengenal tren digital dan tokoh kartun luar, akar karakter anak harus tetap tumbuh dari kearifan lokal. Kita tidak boleh membiarkan mereka kehilangan jati diri,” tegas Dekan FTIK UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd.

Pernyataan lugas tersebut menjadi pembuka yang kuat dalam Seminar Nasional bertajuk “Pendidikan Berbasis Budaya untuk Generasi Kreatif dan Berkarakter melalui Budaya Lokal” di Aula Lt. 3 Gedung KH. Ahmad Dahlan, Senin (27/4).

Acara ini diinisiasi oleh HMPS PIAUD 2026 Kabinet Widyanata Ceria Bersinergi sebagai respons atas krisis karakter pada Generasi Alpha.

Baca Juga: Gelar Pelatihan Publikasi Ilmiah, Mahasiswa Prodi PIAUD UIN Salatiga Bisa Lulus Tanpa Skripsi

Sebelum memasuki sesi materi, suasana aula pecah oleh kemeriahan penyerahan piala lomba tari dan Alat Peraga Edukatif (APE).

Penyerahan hadiah di awal acara ini bukan sekadar seremonial, melainkan bukti nyata bahwa mahasiswa PIAUD telah berhasil mengonversi nilai tradisi menjadi karya kreatif yang aplikatif bagi pendidikan anak usia dini.

Ketua Program Studi PIAUD, M. Agung Hidayatulloh, M.Pd.I., menyebut kolaborasi lomba dan seminar ini sebagai ‘jembatan emas’.

Menurutnya, calon pendidik harus memiliki kecakapan ganda: memahami teori sekaligus mampu menciptakan metode mengajar yang hidup.

Baca Juga: Dolanan Bareng Bunda PAUD Pecah, Anak TK Salatiga Diajak Tinggalkan Gawai: Main Tradisional dan Lahap Makan Bergizi

“Kurikulum kita harus adaptif. Budaya lokal bukan hanya untuk dipelajari, tapi disisipkan sebagai napas dalam setiap instruksi di kelas agar belajar menjadi menyenangkan dan bermakna,” ungkap Agung.

Senada dengan hal itu, Sekretaris Program Studi PIAUD, Dr. MS Viktor Purhanudin, M.Pd., membedah strategi teknis bertajuk “Nilai Budaya Jadi Bahasa Karakter”.

Ia menekankan pentingnya internalisasi nilai lokal ke dalam perilaku sehari-hari anak.

"Misalnya nilai tepa selira kita terjemahkan menjadi empati, dan gotong royong menjadi pembiasaan membantu teman. Dengan begitu, anak tidak hanya tahu budayanya, tapi menghidupi nilai-nilainya," jelas Viktor.

Seminar kian berbobot dengan hadirnya Agung Wahyoe Utomo, S.Pd. (Pimpinan Sanggar ESELBE Wonosobo) yang menyoroti pentingnya kebanggaan terhadap identitas diri.

Melengkapi perspektif praktis, Paimin, M.A., Dosen Seni Tari ISI Surakarta, memperkenalkan konsep “Tari Karakter” sebagai terapi emosional.

“Tari tradisional itu latihan kesabaran dan kerja sama. Melalui gerak dan irama, anak belajar mengendalikan emosi serta membangun keberanian diri,” pungkas Paimin di hadapan ratusan mahasiswa yang antusias.(sas)

Editor : Tasropi
#Calon Pajangan #UIN Salatiga