Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pandora Pedagogi: Menyigi Masa Depan Pendidikan Lewat Post Truth, Pancasila, dan Superhuman

Dhinar Sasongko • Selasa, 8 Juli 2025 | 19:37 WIB
FTIK UIN Salatiga resmi meluncurkan forum Pandora Pedagogi pada Selasa, 8 Juli 2025 melalui Zoom Meeting dan siaran langsung YouTube.
FTIK UIN Salatiga resmi meluncurkan forum Pandora Pedagogi pada Selasa, 8 Juli 2025 melalui Zoom Meeting dan siaran langsung YouTube.

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga resmi meluncurkan forum Pandora Pedagogi pada Selasa, 8 Juli 2025 melalui Zoom Meeting dan siaran langsung YouTube.

Acara bertajuk Masa Depan Pendidikan di Era Post Truth: Tantangan Etika, Teknologi, dan Kemanusiaan ini diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan akademisi dan praktisi.

Pandora Pedagogi merupakan ruang dialog intelektual yang digagas untuk membaca ulang dinamika pendidikan Indonesia di tengah derasnya perubahan wacana sosial dan teknologi.

Dekan FTIK UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin M.Pd. menyampaikan bahwa istilah post truth mengacu pada situasi ketika emosi dan keyakinan pribadi lebih memengaruhi opini publik daripada fakta objektif.

“Istilah ini pertama kali digunakan oleh Steve Tesich pada tahun 1992 dan kembali mencuat saat Oxford Dictionaries menetapkannya sebagai Word of the Year pada tahun 2016,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa fenomena ini telah mempengaruhi dunia pendidikan secara signifikan.

“Kita menghadapi era ketika pendidikan bisa kehilangan pijakan rasional. Pandora Pedagogi dihadirkan sebagai upaya mengembalikan pendidikan ke arah yang berpijak pada nalar dan nilai kebenaran,” tambahnya.

Menurut Prof. Rasimin, secara historis post truth berakar dari relativisme pascamodernisme yang menolak kebenaran tunggal.

Krisis kepercayaan terhadap institusi dan dominasi algoritma media sosial menciptakan ruang gema atau echo chamber yang memperkuat pandangan subjektif.

Ia menekankan bahwa pendidikan harus tetap menjadi ruang pencarian kebenaran yang jujur, etis, dan berpijak pada realitas sosial.

“Forum ini menjadi bagian dari komitmen FTIK untuk menghidupkan ruang diskusi terbuka yang mencerahkan,” ucapnya.

Narasumber pertama, Prof. Dr. Saadi M.Ag., Guru Besar UIN Salatiga, mengangkat peran sentral Pancasila sebagai fondasi pendidikan nasional.

“Pancasila bukan hanya dasar negara, melainkan pedoman nilai yang hidup dan selaras dengan teologi Islam, sosiologi lokal, dan kultur kebatinan bangsa,” ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa integrasi nilai nilai Pancasila dalam sistem pendidikan dapat memperkuat karakter bangsa dan membentuk peserta didik yang memiliki kesadaran moral dan spiritual yang kuat.

Ia menyatakan bahwa pendidikan yang berpijak pada kekuatan ideologi, teologi, dan sosiologi akan memperkuat ketahanan nilai di tengah era informasi yang kompleks.

“Pendekatan ini mendorong lahirnya generasi yang tidak mudah terpecah oleh polarisasi sosial dan tetap menjaga harmoni dalam keberagaman,” tuturnya.

Narasumber kedua, Hammam M.Pd. Ph.D., Ketua LP2M UIN Salatiga, menyampaikan gagasannya mengenai dialektika superhuman dalam pendidikan.

Ia menyoroti perkembangan teknologi informasi termasuk Internet of Things yang telah mengubah cara manusia mengakses dan memproduksi pengetahuan.

“Informasi yang melimpah di media sosial sering kali dianggap cukup untuk menggantikan pendidikan formal. Ini menjadi tantangan besar bagi lembaga pendidikan,” ujarnya.

Hammam menyampaikan bahwa pendidikan adalah institusi sosial yang memberi ruang bagi pembentukan kepribadian yang utuh.

“Sekolah adalah ruang etis untuk membina integritas berpikir, kematangan emosional, dan tanggung jawab sosial,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pendidikan masa depan perlu mendorong lahirnya pribadi yang mampu berpikir reflektif, antisipatif, serta menjunjung nilai spiritual dan kesadaran ekologis.

Salah satu peserta, Normalia Eka Pratiwi, Kepala SD Negeri 2 Kutoharjo Kaliwungu, memberikan refleksi terhadap forum ini.

“Di era post truth seperti sekarang, membedakan kebenaran menjadi sangat sulit termasuk dalam konteks pembelajaran di kelas. Kadang siswa lebih percaya pada konten viral daripada literatur pelajaran,” ujarnya.

Ia menilai bahwa Pandora Pedagogi memberikan wawasan baru.

“Saya merasa tercerahkan. Acara ini memberi inspirasi bagaimana guru dapat menjaga martabat nalar dan nilai dalam proses belajar,” tambahnya.

Acara dipandu oleh MS Viktor Purhanudin M.Pd., dosen FTIK UIN Salatiga, yang juga bertindak sebagai moderator.

Ia menutup diskusi dengan menyampaikan bahwa Pandora Pedagogi akan kembali digelar pada Agustus 2025 dengan tema Pedagogi Post Kritis dan Politik Akses: Membongkar Ketimpangan dalam Pendidikan, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.(sas)

Editor : Tasropi
#teologi islam #Zoom Meeting #Pedagogi #UIN Salatiga