Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

UKMPPG Batch 1 Dievaluasi, FTIK UIN Salatiga Usulkan Model Penilaian Humanis Berbasis Ungrading

Dhinar Sasongko • Senin, 30 Juni 2025 | 22:31 WIB
Forum Evaluasi Pelaksanaan UKMPPG Batch 1 Tahun 2025 yang digelar pada Senin (30/6) di Ruang Rapat Utama FTIK UIN Salatiga.
Forum Evaluasi Pelaksanaan UKMPPG Batch 1 Tahun 2025 yang digelar pada Senin (30/6) di Ruang Rapat Utama FTIK UIN Salatiga.

RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga mendorong pembaruan sistem penilaian dalam pelaksanaan Uji Kompetensi Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (UKMPPG) bagi peserta PPG Dalam Jabatan (Daljab).

Hal ini mengemuka dalam forum Evaluasi Pelaksanaan UKMPPG Batch 1 Tahun 2025 yang digelar pada Senin (30/6) di Ruang Rapat Utama FTIK.

Acara berlangsung dalam suasana akademik yang hangat dan konstruktif.

Sebanyak 91 peserta, terdiri dari dosen pengampu dan guru pamong dari berbagai wilayah, berpartisipasi aktif dalam diskusi.

Forum ini menjadi wahana refleksi bersama untuk meninjau proses asesmen, mengidentifikasi tantangan, serta menyusun strategi peningkatan mutu pelaksanaan UKMPPG ke depan.

Dekan FTIK UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., menjelaskan bahwa asesmen selama UKMPPG masih menggunakan model sumatif otentik dan penilaian berbasis kompetensi.

Penilaian diarahkan pada penerapan materi dalam konteks nyata serta penguasaan keterampilan profesional secara individual.

“Mahasiswa PPG dievaluasi melalui kemampuannya mengaplikasikan materi secara kontekstual dan kreatif. Evaluasi bersifat personal, berdasarkan capaian kompetensi masing-masing,” ungkapnya.

Ia menyebut bahwa model ini membutuhkan alokasi waktu dan energi yang besar.

“Para penguji harus menyiapkan tugas kontekstual, menyusun instrumen penilaian yang rinci, dan menelaah setiap hasil kerja mahasiswa yang berbeda-beda. Ini membutuhkan perhatian mendalam dan koordinasi intensif,” terangnya.

Prof. Rasimin juga menyoroti potensi ketidakkonsistenan antar penilai.

“Tanpa kerangka penilaian yang kuat dan pemahaman bersama, hasil penilaian bisa bervariasi. Maka, pelatihan serta keselarasan interpretasi perlu diperkuat agar hasil evaluasi dapat berlangsung adil dan akurat,” tambahnya.

Tantangan lainnya adalah kesesuaian tugas dengan latar belakang mahasiswa yang beragam, terutama dalam konteks pembelajaran daring.

Desain tugas perlu fleksibel agar tetap relevan bagi seluruh peserta di berbagai wilayah dan kondisi.

Menanggapi hal tersebut, FTIK UIN Salatiga mengusulkan penerapan model ungrading dalam pelaksanaan UKMPPG ke depan.

Sistem ini mengurangi dominasi angka atau huruf dalam penilaian dan lebih menekankan umpan balik kualitatif serta refleksi mahasiswa terhadap proses belajarnya.

“Mahasiswa tetap menyelesaikan tugas sesuai tujuan pembelajaran. Selanjutnya, mereka menerima catatan umpan balik secara rinci dan diberi ruang untuk melakukan perbaikan,” jelas Prof. Rasimin.

Pada akhir program, mahasiswa diminta menyusun portofolio tugas terbaik disertai narasi reflektif.

Hasil akhir ditentukan melalui diskusi berbasis karya dan proses yang telah dijalani, bukan semata nilai kuantitatif.

“Kami ingin mendorong budaya belajar yang menekankan proses, bukan sekadar hasil akhir. Penilaian yang humanis akan lebih memberi makna dalam perjalanan akademik mahasiswa PPG” tuturnya.

Sementara Ketua Jurusan Guru Kelas FTIK, Mufiq, M.Phil., menjelaskan bahwa selama pelaksanaan UKMPPG, penilaian dilakukan secara sinergis antara dosen dan guru pamong.

Kolaborasi ini memungkinkan evaluasi dilakukan secara lebih objektif dan seimbang.

“Keputusan penilaian diambil melalui diskusi yang terbuka. Rubrik digunakan bersama, sehingga standar penilaian tetap terjaga meskipun berasal dari latar belakang penilai yang berbeda,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan pentingnya penguatan kapasitas penilai.

“Kami sedang menyiapkan strategi pelatihan lanjutan, pengembangan instrumen penilaian, dan mekanisme refleksi bersama sebagai bagian dari peningkatan mutu evaluasi,” imbuhnya.

Dalam forum tersebut, Prof. Dr. Kastolani, salah satu dosen pengampu, mengungkapkan tantangan teknis yang muncul saat menggunakan Learning Management System (LMS) sebagai media penilaian.

“Platform LMS memang memudahkan dari sisi dokumentasi, tetapi di lapangan kami menghadapi kendala seperti keterbatasan format unggah, kesulitan membaca respons dalam jumlah besar, serta kestabilan koneksi,” ungkapnya.

Ia juga menilai bahwa interaksi antarmahasiswa dan penguji masih terbatas dalam sistem daring.

“Untuk tugas reflektif dan berbasis proyek, kami masih memerlukan ruang dialog langsung agar substansi pembelajaran benar-benar tersampaikan,” jelasnya.

Prof. Kastolani mendukung gagasan penggunaan metode ungrading karena memberi ruang lebih luas untuk komunikasi dua arah dan umpan balik bermakna.

Ia juga berharap LMS dapat disempurnakan agar mendukung proses evaluasi yang lebih fleksibel dan manusiawi.

Menutup forum, Prof. Rasimin menyampaikan apresiasi atas kerja sama para dosen dan guru pamong dalam mendampingi proses UKMPPG. Ia juga menyatakan harapannya agar mahasiswa PPG yang telah mengikuti ujian memperoleh hasil terbaik.

“Semoga capaian yang diraih benar-benar merepresentasikan kesiapan mereka dalam menjalankan peran sebagai pendidik profesional. Kami yakin, ini menjadi pijakan penting dalam kontribusi mereka terhadap kemajuan pendidikan,” pungkasnya.(sas)

Editor : Tasropi
#pendidikan profesi guru #Rasimin #UIN Salatiga