RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Dua intelektual organik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga mengajak publik untuk membaca ulang pemikiran R.A. Kartini secara lebih kritis dan relevan dengan situasi kekinian.
Dalam wawancara daring bersama redaksi Jawa Pos Radar Semarang pada Senin (21/4), Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), bersama MS Viktor Purhanudin, M.Pd., dosen pendidikan seni dan budaya, memperkenalkan konsep “Kartinisme” sebagai kerangka baru untuk memahami relasi perempuan dengan tradisi dan kolonialisme.
Gagasan ini diajukan sebagai respon terhadap kecenderungan publik yang masih memahami Kartini sebatas figur simbolik dalam peringatan rutin tahunan. “Jangan tempatkan Kartini sebagai ikon yang hanya dipuja dalam seremoni,” ujar Prof. Rasimin.
“Ia adalah dialektika. Kartini hidup di tengah tekanan kekuasaan kolonial dan struktur budaya feodal yang kaku. Dari perjumpaan inilah pemikirannya tumbuh—dalam keheningan, dalam perenungan, dan dalam tindakan.”
Menurutnya, perjuangan Kartini tidak semata tentang akses pendidikan formal. Kartini sedang menyusun fondasi bagi proses pembebasan batin dan penguatan kesadaran.
Pendidikan yang ia rancang bertujuan membuka ruang berpikir kritis, bukan sekadar memberikan ijazah.
MS Viktor Purhanudin menyoroti pentingnya konteks geografis dan budaya tempat Kartini tumbuh.
Jepara, menurutnya, bukan kota sunyi. Sejak abad ke-15, wilayah ini telah menjadi titik temu berbagai pengaruh global dan lokal.
“Jepara itu poros dunia dalam bentuk yang lebih sederhana,” ucap Viktor. “Kartini hidup di tengah arus pengaruh Islam, budaya Jawa, Hindu-Buddha, Konfusianisme, dan juga pemikiran Eropa yang masuk lewat pendidikan.”
Kartini menjadi representasi dari sintesis ideologis. Ia menyerap berbagai nilai yang datang padanya, menganalisisnya, dan membentuk arah pemikiran yang khas.
Ia tidak memposisikan diri sebagai peniru, namun sebagai penyusun arah pikir yang cermat dan penuh kesadaran.
Keduanya sepakat bahwa Kartinisme harus dibaca sebagai kerangka berpikir kritis. Bukan pujaan atas tokoh sejarah, melainkan cara untuk meninjau kembali bagaimana perempuan menjalani peran dalam sistem sosial dan budaya.
Dalam gagasan ini, perempuan diposisikan sebagai penggerak aktif yang turut menciptakan perubahan sosial melalui pembacaan reflektif dan keterlibatan dalam masyarakat.
“Perempuan adalah penggerak utama dalam pandangan Kartini,” kata Prof. Rasimin. “Ia membentuk visi bahwa pendidikan adalah alat untuk memperkuat karakter dan menata kembali hubungan sosial agar lebih adil.”
Viktor menambahkan bahwa konsep Kartinisme sangat relevan dalam konteks hari ini. Ia menyampaikan bahwa narasi tentang perempuan kerap terjebak dalam kemasan visual, pencitraan, dan slogan kosong.
“Kartini menunjukkan kepada kita bahwa keberanian intelektual adalah bentuk pembebasan yang paling kuat. Ia membaca struktur sosial, menulis pikirannya, dan terlibat dalam transformasi lewat tindakan nyata,” ungkapnya.
Kartini tidak pernah mengabaikan nilai-nilai lokal yang membentuknya. Ia tidak menjauhi tradisi Jawa, justru menggali ulang nilai-nilainya dan menggunakannya sebagai titik berangkat untuk perubahan.
Pelatihan membatik, pertukangan, dan keterampilan lain yang ia gagas menjadi basis ekonomi kerakyatan yang berpijak pada budaya.
“Ia menempatkan sistem ekonomi dalam bingkai budaya,” ujar Viktor. “Baginya, kemajuan bukan datang dari peniruan semata, tapi dari keberanian merancang cara pandang yang menghargai akar budaya dan kebutuhan masyarakat.”
Pendidikan menjadi napas utama pemikiran Kartini. Ia percaya bahwa hanya melalui pendidikan, manusia dapat membaca ulang dunianya, membangun nalar, dan membuka jalan menuju keadilan. Kartini mewujudkan gagasannya tidak hanya melalui tulisan, tetapi melalui lembaga pendidikan dan relasi sosial yang ia bangun.
“Jika kita ingin mewarisi Kartini secara utuh, maka kita perlu menghadirkan kembali keberanian untuk berpikir kritis dalam sistem pendidikan hari ini,” ujar Prof. Rasimin.
Kartini berpikir global dari ruang lokal. Surat-suratnya tidak berhenti pada keluh kesah, melainkan menjadi jembatan antara dunia kecilnya di Jepara dan percakapan-percakapan besar tentang peradaban. Viktor menyebut hal ini sebagai bentuk internationalization at home.
“Dalam ruang lokalnya, Kartini sudah membayangkan dunia,” jelas Viktor. “Ia membuka akses pemikiran lintas batas dan membuktikan bahwa transformasi bisa lahir dari tempat yang paling dekat.”
Percakapan ditutup oleh Prof. Rasimin dengan mengutip salah satu kalimat legendaris dari Kartini: Habis gelap terbitlah terang.
Ia menyebut kalimat ini sebagai refleksi dari perjuangan yang terus dilakukan oleh setiap individu untuk menyalakan cahaya pemahaman.
“Cahaya itu tidak turun begitu saja. Ia muncul lewat proses panjang: berpikir, bertindak, dan menciptakan makna dalam kehidupan sehari-hari.”(sas)
Editor : Tasropi