RADARSEMARANG.ID, SALATIGA - Pada bulan Oktober, beberapa tahun setelah politik etis 1901, muncul generasi baru di Indonesia yang berani menyuarakan pendapat mereka di hadapan penjajah.
Mereka menolak tunduk pada ancaman fisik maupun psikis dan tetap teguh menyuarakan kebenaran.
Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., Dosen PLP FTIK UIN Salatiga, dalam acara penarikan mahasiswa PLP di SMA Muhammadiyah (Plus) Salatiga, Kamis (3/10/2024).
"Generasi itu dikenal dengan Priyayi Baru. Mereka berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, tidak sekadar mengikuti jejak generasi lama. Mereka menolak bungkam di bawah janji-janji kenyamanan palsu," jelas Prof. Rasimin.
Prof. Rasimin menambahkan bahwa mahasiswa PLP bimbingannya yang telah melakukan praktik mengajar di SMA Muhammadiyah (Plus) kini telah menjadi bagian dari golongan priyayi baru.
"Selama hampir dua bulan, mereka telah menjalani praktik mengajar di bawah bimbingan kepala sekolah dan para guru. Ketika kembali ke kampus, saya yakin mereka akan menjadi priyayi baru yang tidak lagi terjebak dalam zona nyaman. Mereka akan bergerak, berani menyuarakan kebenaran, berinovasi, dan berupaya mendorong pendidikan menuju arah yang lebih baik," ujarnya.
Menurut Prof. Rasimin, semangat Sutan Syahrir yang berbunyi "Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangi" harus menjadi pedoman mahasiswa.
"Mahasiswa ini akan menjadi pejuang sejati, pendidik yang berani tampil dengan gagasan baru. Saya ucapkan terima kasih kepada kepala sekolah dan para guru yang telah menempa mahasiswa sehingga menjadi bagian dari kaum priyayi baru," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Risda Mila Shanti, S.Pd., Kepala SMA Muhammadiyah (Plus), menyoroti peningkatan kekerasan di sekolah.
"Laporan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menunjukkan lonjakan signifikan kasus kekerasan di sekolah pada bulan September. Ini menjadi sinyal bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi tempat yang aman bagi siswa," katanya.
Risda berpesan kepada mahasiswa PLP FTIK UIN Salatiga agar menjadi agen perubahan yang mampu menyosialisasikan pentingnya peran guru dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah bagi peserta didik.
"Mari kita lawan segala bentuk kekerasan di sekolah dan wujudkan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua siswa," tambahnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kreativitas dan kerja sama mahasiswa selama menjalani praktik mengajar di sekolah tersebut.
"Mereka membawa semangat baru dan selalu kooperatif dalam menghadirkan metode pembelajaran yang menarik," ungkapnya.
"Kami percaya, kerja sama dengan FTIK UIN Salatiga akan terus terjalin dengan baik. Dengan tangan terbuka, kami siap bersinergi untuk terus memajukan pendidikan di sekolah ini," tutup Risda.
Semangat mahasiswa PLP FTIK UIN Salatiga dalam menjadi pendidik priyayi baru memberikan optimisme besar dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman dan inovatif.
Dengan menghayati nilai-nilai perjuangan Sutan Syahrir, mereka diharapkan mampu menyuarakan kebenaran, mendidik dengan keberanian, serta turut berperan dalam menentang segala bentuk kekerasan di sekolah.
Kerja sama yang terjalin antara mahasiswa dan sekolah menjadi fondasi penting untuk menjadikan pendidikan sebagai ruang pembentukan karakter peserta didik yang akan berkontribusi bagi terciptanya masyarakat lebih berkeadilan.(sas)
Editor : Tasropi