RADARSEMARANG.ID, Salatiga - Ratusan mahasiswa dari berbagai program studi di Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga mengikuti pelatihan intensif menulis karya ilmiah edisi kedua.
Acara ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Salatiga.
Pelatihan yang berlangsung di auditorium FTIK pada Selasa (25/6/2024), menghadirkan MS Viktor Purhanudin, dosen PGMI UIN Salatiga sekaligus mahasiswa doktoral di Universitas Negeri Semarang (UNNES), sebagai pemateri.
Dalam sesi pelatihan, Viktor Purhanudin menekankan pentingnya memahami konsep berpikir ilmiah sebelum menulis artikel ilmiah. "Jangan sampai kita terjebak menggunakan cara berpikir ilmiah masa lalu di era sekarang," ujarnya.
Viktor menjelaskan tiga model kerangka berpikir ilmiah yang dominan dalam dunia intelektual: induksi, deduksi, dan abduksi.
"Induksi berangkat dari temuan observasi positivisme; deduksi mengandalkan rasio; dan abduksi, perpaduan antara induksi dan deduksi," jelasnya.
Menurut Viktor, abduksi adalah model berpikir paling mutakhir yang dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce, di mana argumentasi disusun dengan memilih yang terbaik dari yang terbaik, dan bersifat mungkin benar.
Dr. Peni Susapti, M. Si, Ketua Program Studi PGMI FTIK UIN Salatiga, juga memberikan pandangannya mengenai minat menulis artikel ilmiah dan strategi penulisan karya tulis ilmiah.
"Tradisi menulis artikel ilmiah diwariskan oleh para cendekiawan muslim seperti Ibnu Rushd, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Imam Al-Ghazali. Mahasiswa sebagai cendekiawan muslim harus meneruskan warisan ini untuk memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam," ungkapnya.
Pelatihan ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa melanjutkan tradisi menulis yang telah ada.
"Kegiatan ini menjadi salah satu strategi penting untuk mendorong mahasiswa agar aktif menulis artikel ilmiah," tambah Dr. Peni.
Dengan pelatihan ini, diharapkan mahasiswa UIN Salatiga menjadi lebih terampil dalam menulis karya tulis ilmiah dan mampu meneruskan tradisi menulis para cendekiawan muslim. (sas/bas)
Editor : Baskoro Septiadi