RADARSEMARANG.ID - Mengulik berbagai sejarah masa kolonial selalu menarik untuk dibahas dan ditelaah lebih lanjut.
Masa penjajahan Belanda yang berdurasi sangat lama membuat banyak peninggalan-peninggalan ini banyak ditemukan di seluruh penjuru negeri.
Banyak dari bangunan ini yang dialihfungsikan sebagai bangunan baru, namun tetap meninggalkan estetika keindahan arsitektur ala Eropa dan menghormati sejarah panjang berdirinya bangsa ini.
Salah satu yang menarik adalah Kantor Satlantas Kota Salatiga. Mungkin berbeda dengan Satlantas lain, Satlantas Salatiga menempati bangunan lawas bekas benteng bernama Fort de Hersteller peninggalan VOC pada masa Kolonial.
Dengan arsitektur khas Eropa pada masa lalu, bangunan ini cukup menyita perhatian saat berkunjung kedalam wilayah kompleks Satlantas Salatiga.
Sejarah Benteng Fort de Hersteller
Benteng ini dibangun oleh VOC (Vereenidge Oost Indische Company) untuk menghalau dan mengawasi pergerakan pasukan perlawanan yakni berbagai divisi pasukan milik Pangeran Diponegoro yang terpecah.
Selain itu dengan letak yang strategis, benteng di Salatiga juga diperuntukkan sebagai tempat kontrol VOC terhadap dua kekuasaan penting di Jawa yakni Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Perang Jawa yang mengakibatkan kerugian besar dari pihak Belanda menyebabkan VOC memberlakukan sistem tanam paksa (Cultuur Stelsel) dan membebankan pada pribumi.
Para pengusaha Belanda mulai berdatangan dan membangun tempat tinggal di daerah Salatiga, tepatnya di Toentangscheweg yang sekarang lebih dikenal sepanjang Jalan Diponegoro.
Daerah tersebut merupakan daerah kelas satu tempat pemukiman warga Belanda, yang paling populer adalah kediaman pengusaha bernama Van Blommestein.
Pemukiman tersebut dilindungi oleh sebuah benteng yang didirikan pada abad ke-19. Gedung tersebut lah yang kini menjadi Gedung Satlantas Kota Salatiga.
Baca Juga: Sejarah Gereja Girisonta yang Menjadi Saksi Bisu Masa Suram Penjajahan Jepang
Banyak juga yang menyebut gedung ini dengan sebutan Fort de Hock, yang merupakan nama dari sang arsitek perancang gedung berwarna putih tersebut.
Gedung ini difungsikan sebagai markas dan asrama bagi militer Belanda paska Perang Jawa, dalam kurun waktu 1825 hingga 1830.
Posisi Kota Salatiga sendiri pada masa itu merupakan basis pusat bagi pasukan kavaleri VOC di wilayah koloni Hindia Belanda
Paska kemerdekaan, gelombang gerakan nasionalisasi dan alih aset dari pihak kolonial menjadi milik republik tak luput dari kota ini, sejak tahun 1947, bangunan ini resmi menjadi Kantor Jajaran Kepolisian hingga saat ini menjadi Kantor Satlantas Kota Salatiga.
Source: Bangunan Kolonial kota2 Indonesia (Facebook) dan Humas Kota Salatiga
Editor : Baskoro Septiadi