RADARSEMARANG.ID, Salatiga - Warung ikhlas. Dari namanya banyak yang mengira jika tempat ini bayarnya seiklasnya. Ternyata salah.
Warung ini semua gratis. Ikhlas adalah sifat para relawan dalam melayani semua tamu yang datang.
Luar biasa karena warung ini sudah berdiri satu tahun.
Tidak banyak yang bisa membuat warung gratis dan bertahan dengan cukup lama.
Berada di jalan Imam Bonjol Salatiga, tepatnya dekat pertigaan Kalimangkak, warung ini cukup terlihat. Papan besar warna hijau menempel di muka warung.
Seperti halnya warung makan lainnya, disana tersedia meja kursi dan etalase makanan.
Saat wartawan ini datang, menu yang tersedia adalah sayur tumpang, mie goreng, sayur oseng tempe, kacang panjang. Ditempat itu juga disediakan minuman teh.
Warung ini buka Senin sampai Sabtu mulai jam 10.00 sampai 13.00 siang. Relawan yang bertugas bergantian.
Dari mempersiapkan menu, masak hingga mencuci gelas dan membersihkan sisa makanan jika ada yang ditinggal.
Koordinator warung ikhlas Pratiwi Sukesi menjelaskan, jika semua ini berada dibawah jejaring sekolah kehidupan. Salah satu ilmu yang dipelajari adalah keikhlasan.
"Kami berusaha. Dan alhamdulillah, hingga satu tahun ini bisa berjalan tanpa pernah meminta donasi siapapun," jelas Pratiwi.
Warga yang ingin menderma, bisa langsung datang dan bertemu para relawan.
Baik barang maupun uang. Tetapi para relawan dilarang untuk meminta.
"Termasuk pernah ada partai yang hendak memberi beras, namun harus wawancara. Akhirnya kami tolak," jelasnya.
Pratiwi Sukesi dan puluhan relawan ikhlas meyakini jika tiap hari akan ada jalan bagi mereka untuk menjalankan warung.
Bahkan saldo rekening mereka pun hanya Rp 106 ribu.
Bahkan usulan membuat kotak donasi pun ditolak. Pasalnya jika ada, maka akan mengganggu keikhlasan baik relawan maupun tamu yang makan.
Jika ada kotak, khawatirnya relawan ada yang berharap isinya.
Kemudian para tamu akan berfikir berapa uang yang pantas diberikan dengan menu yang tersedia.
Mereka meyakini keikhlasan mereka akan menjadi jalan. Dan harus selalu berprasangka baik kepada siapapun.
Seperti tadi, tiba-tiba ada yang datang dengan membawa sayuran segar. Pare hingga bayam berikat ikat.
"Alhamdulillah bisa sampai senin mendatang," ujar dia.
Sejumlah relawan berada di dalam dapur. Antara lain Retno Dewi, Rini, Uci, dan Esther. Mereka menyiapkan masakan sekaligus melayani tamu.
Sehari rata-rata menghabiskan hingga 6 kg beras.
Pengunjungnya beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, pedagang asongan hingga driver online.
Semua sudah menjadi pelanggan dan keberadaan warung ini dianggap sangat membantu.
"Warung ini sangat membantu dan harus bisa bertahan. Apalagi masakannya enak," ujar salah satu pedagang asongan yang sedang makan.
Setelah selesai makan, mereka cukup membuang kertas lapis piring ke tempat sampah serta mengembalikan gelas ke tempat gelas dikumpulkan. (sas/bas)
Editor : Baskoro Septiadi