RADARSEMARANG.ID – Mitsubishi Lancer, Galant dan Eterna merupakan tiga nama yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah sedan Mitsubishi di Indonesia. Ketiganya pernah menjadi pilihan masyarakat yang menginginkan mobil dengan karakter berbeda dari sedan keluarga pada umumnya.
Lancer dikenal lebih kompak dan lincah, Galant menawarkan bodi lebih besar dengan kenyamanan yang lebih tinggi, sementara Eterna menjadi salah satu sedan yang paling kuat citranya sebagai mobil bertenaga di era 1980-an hingga 1990-an.
Ketiga model tersebut juga memperlihatkan bagaimana Mitsubishi membangun reputasi melalui perpaduan mesin bertenaga, sasis kokoh, handling yang mantap dan teknologi yang pada masanya tergolong maju.
Mitsubishi sendiri mencatat Lancer sudah masuk Indonesia sejak 1975 dengan mesin 1.400 cc, sedangkan Galant Sigma 2.000 cc juga mulai diperkenalkan pada periode tersebut.
Bagi masyarakat umum yang sekarang mencari sedan bekas dengan karakter klasik, Mitsubishi Lancer, Galant dan Eterna masih menarik untuk dipertimbangkan.
Harga unit bekas tentu sangat bergantung pada tahun produksi, kondisi bodi, mesin, transmisi, kelengkapan dokumen dan kualitas perawatan pemilik sebelumnya.
Karena sebagian besar unit sudah berusia puluhan tahun, kondisi aktual mobil jauh lebih penting dibanding sekadar melihat tahun produksi.
Mobil dengan harga pembelian murah tetapi membutuhkan perbaikan mesin, kaki-kaki, kelistrikan dan interior secara bersamaan dapat berakhir lebih mahal dibanding unit yang sejak awal dirawat dengan baik.
Baca Juga: Hilux Rangga vs Isuzu Traga, Siapa yang Lebih Unggul
Lancer memiliki posisi yang cukup berbeda dibanding Galant dan Eterna. Dimensinya lebih kompak sehingga karakter berkendaranya terasa lebih ringan.
Dalam sejarah Mitsubishi, Lancer berkembang melalui berbagai generasi dan pilihan mesin. Mitsubishi mencatat salah satu generasi Lancer memiliki pilihan mesin 1.300 cc, 1.500 cc, 1.600 cc, 1.600 cc turbo dan 1.800 cc diesel, menunjukkan luasnya pengembangan model tersebut.
Di Indonesia, perjalanan Lancer juga cukup panjang, mulai dari Lancer 1.400 cc, Lancer Notchback dan Hatchback, kemudian Lancer DanGan, Lancer GTi hingga generasi 1.600 cc GLXi dan SEi.
Lancer DanGan menjadi salah satu model yang cukup dikenal masyarakat karena desainnya yang sederhana tetapi memiliki karakter berkendara menyenangkan.
Posisi mengemudi rendah, ukuran bodi relatif kompak dan bobot yang tidak sebesar sedan kelas menengah membuat Lancer terasa mudah diarahkan.
Untuk penggunaan sehari-hari, karakter tersebut menjadi salah satu keunggulan karena mobil tidak terlalu sulit diajak bermanuver di jalan perkotaan. Radius putar dan dimensi bodinya juga membuatnya relatif mudah ditempatkan ketika parkir dibanding sedan berukuran besar.
Lancer GTi kemudian membawa karakter yang lebih agresif. Di Indonesia, Mitsubishi pernah meluncurkan Lancer dengan mesin 1.800 cc GTi-16V, sementara varian lain menggunakan mesin 1.600 cc GLXi.
Performa tentu sangat bergantung pada generasi dan kondisi mesin, tetapi Lancer GTi dikenal memiliki respons mesin yang lebih kuat dibanding varian Lancer standar.
Mesin dengan teknologi multi-valve dan sistem injeksi memberikan karakter putaran mesin yang lebih responsif, terutama ketika pengemudi membutuhkan tenaga untuk berakselerasi.
Dalam hal konsumsi bahan bakar, Lancer lawas tidak dapat disamakan dengan mobil modern yang sudah menggunakan teknologi mesin dan transmisi terbaru.
Baca Juga: Wuling Air ev vs BYD Atto 1 Standard, Persaingan Mobil Listrik Murah Makin Sengit
Untuk mesin 1.5 hingga 1.6 liter dalam kondisi sehat, penggunaan normal dapat berada di kisaran sekitar 9-13 km per liter, tergantung transmisi, kondisi mesin, kepadatan lalu lintas dan gaya berkendara.
Varian berkapasitas lebih besar atau GTi yang digunakan dengan gaya berkendara agresif tentu berpotensi lebih boros. Angka tersebut merupakan kisaran realistis penggunaan mobil tua, bukan angka resmi pabrikan untuk seluruh varian Lancer.
Keunggulan Lancer terletak pada perpaduan ukuran bodi, bobot, handling dan karakter mesin. Mobil ini cocok bagi masyarakat yang menginginkan sedan lawas dengan sensasi berkendara yang masih terasa lincah. Kekurangannya adalah usia kendaraan.
Seal, selang, karet-karet, sistem pendinginan, komponen kaki-kaki dan beberapa bagian kelistrikan dapat membutuhkan perhatian lebih besar dibanding mobil yang usianya jauh lebih muda.
Konsumen juga perlu memeriksa kondisi transmisi, terutama pada mobil otomatis, karena perbaikan transmisi tua dapat membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Beranjak ke Galant, karakter mobil langsung berubah. Galant merupakan sedan yang berada di kelas lebih besar dan menawarkan ruang kabin serta kenyamanan yang lebih tinggi.
Mitsubishi mencatat generasi Galant tertentu memiliki panjang 4.610 mm, lebar 1.730 mm dan tinggi 1.400 mm, dengan pilihan mesin 1.800 cc, 2.000 cc, 2.000 cc turbo dan 2.000 cc diesel turbo pada pasar tertentu. Ukuran tersebut membuat Galant terasa lebih berwibawa ketika digunakan di jalan.
Galant generasi 1990-an menjadi salah satu model yang paling dikenal masyarakat Indonesia. Mitsubishi Indonesia mencatat peluncuran New Galant 2.000 cc V6 24 valve pada 1993, kemudian New Galant V6 2.500 cc ECI Multi 24 Valve pada 1998.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa Galant bukan sekadar sedan untuk mengejar kenyamanan, tetapi juga menjadi salah satu produk Mitsubishi yang menawarkan performa tinggi pada masanya.
Galant 2.0 liter memiliki karakter yang cukup berbeda dari Lancer. Bodi lebih panjang dan wheelbase lebih besar membuat mobil terasa stabil ketika melaju.
Baca Juga: Sama-Sama Diesel, Panther Grand Touring atau Innova yang Lebih Layak Dibeli?
Ruang kabinnya juga lebih lega sehingga penumpang depan maupun belakang memperoleh kenyamanan yang lebih baik. Mitsubishi bahkan menjelaskan bahwa salah satu generasi
Galant menggunakan wheelbase 2.635 mm dan menawarkan ruang kabin besar di kelasnya. Suspensi multi-link di keempat roda juga digunakan untuk meningkatkan handling, stabilitas dan kenyamanan.
Untuk Galant generasi 1990-an, performa sangat tergantung pada mesin yang digunakan. Varian empat silinder 2.0 liter memberikan keseimbangan antara tenaga dan kenyamanan, sedangkan V6 memberikan karakter lebih halus dengan tenaga yang lebih kuat pada putaran tertentu.
Pada Galant 2.5 V6, kapasitas mesin yang lebih besar memberikan kemampuan akselerasi yang lebih baik, tetapi konsumsi bahan bakarnya juga cenderung meningkat.
Konsumsi BBM Galant tua dapat berada di sekitar 6-9 km per liter untuk pemakaian dalam kota, sedangkan perjalanan luar kota dengan kondisi lalu lintas lebih lancar dapat mencapai sekitar 9-12 km per liter pada unit yang sehat dan dikendarai secara normal.
Angka tersebut bukan standar resmi untuk semua varian. Faktor usia mesin, kondisi injektor, sensor, sistem pendingin, transmisi otomatis, tekanan ban dan bobot kendaraan sangat berpengaruh. Karena itu, calon pengguna sebaiknya tidak membeli Galant hanya berdasarkan klaim konsumsi BBM dari satu unit tertentu.
Kenyamanan merupakan salah satu keunggulan terbesar Galant. Posisi duduknya lebih santai, kabin relatif luas dan suspensi dirancang untuk memberikan keseimbangan antara kestabilan serta kenyamanan.
Untuk perjalanan antarkota, karakter tersebut membuat Galant masih menarik sebagai sedan keluarga. Kekurangannya adalah dimensi yang lebih besar membuat mobil terasa kurang praktis di jalan sempit dibanding Lancer.
Konsumsi bahan bakar juga bukan keunggulan utamanya, khususnya pada mesin V6 dan mobil yang kondisi mesinnya sudah tidak optimal.
Eterna memiliki cerita yang sangat menarik karena namanya begitu kuat di Indonesia. Mitsubishi Indonesia mencatat New Eterna 2.000 cc DOHC 16 valve GTi dan SOHC diluncurkan pada 1988.
Baca Juga: Banyak yang Keliru! Ternyata Toyota Kijang Diesel Pertama Bukan Innova, Melainkan Mobil Ini
Sebelumnya, Eterna Super Exceed 2.000 cc SOHC sudah hadir pada 1987, sementara Eterna DOHC Automatic 2.000 cc GTi dipasarkan pada 1991. Eterna kemudian menjadi salah satu sedan yang terkenal karena performanya.
Eterna GTi menggunakan mesin 4G63 2.0 liter DOHC 16 valve. Sumber otomotif mencatat mesin tersebut mampu menghasilkan sekitar 145 PS dan torsi sekitar 170 Nm pada salah satu versi Eterna GTi.
Karakter mesin tersebut membuat Eterna memiliki akselerasi yang masih menarik untuk ukuran sedan lawas. Mesin 4G63 juga memiliki hubungan historis dengan keluarga mesin performa Mitsubishi yang kemudian digunakan pada berbagai model berorientasi performa.
Bukan hanya mesin, Eterna juga memiliki sasis dan suspensi yang mendukung karakter berkendara. Handling terasa stabil ketika mobil digunakan pada kecepatan menengah hingga tinggi, sementara bodi yang relatif besar membuat perjalanan terasa mantap.
Pada Eterna E33, spesifikasi yang banyak dicatat mencakup mesin 4G63 1.997 cc, pilihan transmisi manual lima percepatan dan otomatis empat percepatan, serta wheelbase sekitar 2.600 mm.
Konsumsi bahan bakar Eterna menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Pada penggunaan dalam kota, angka sekitar 7-8 km per liter sering dijadikan gambaran untuk unit 2.0 liter dalam kondisi normal.
Namun angka tersebut dapat berubah cukup jauh karena usia kendaraan, kondisi mesin, transmisi, penggunaan AC, kepadatan lalu lintas dan gaya berkendara.
Eterna GTi yang sering digunakan untuk mengejar performa tentu akan mengonsumsi bahan bakar lebih banyak dibanding penggunaan santai.
Dari sisi kenyamanan, Eterna berada di posisi menarik karena mampu menggabungkan karakter sedan eksekutif dengan mesin yang bertenaga. Kabin cukup lapang, posisi duduk nyaman dan suspensinya memberikan rasa stabil.
Untuk penggunaan sehari-hari, Eterna masih dapat menjadi kendaraan yang menyenangkan selama kondisi dasarnya benar-benar sehat. Mesin yang kuat tidak akan banyak berarti jika radiator, sistem pendinginan, kaki-kaki dan transmisi sudah berada dalam kondisi buruk.
Suku cadang menjadi pertimbangan penting untuk ketiga mobil tersebut. Mitsubishi memiliki sejarah panjang di Indonesia sehingga beberapa komponen Lancer, Galant dan Eterna masih dapat ditemukan melalui jaringan toko suku cadang, spesialis mobil lama, bengkel umum maupun pemasok komponen aftermarket.
Namun tidak semua komponen tersedia dengan mudah seperti mobil Mitsubishi keluaran terbaru. Komponen tertentu yang spesifik terhadap generasi lama dapat membutuhkan pencarian lebih lama dan harga yang berbeda-beda.
Untuk masyarakat umum, pilihan antara Lancer, Galant dan Eterna sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan. Lancer lebih cocok untuk pengguna yang mengutamakan ukuran kompak, handling ringan dan biaya penggunaan yang relatif lebih sederhana.
Baca Juga: Mitsubishi Kuda Diesel Lawan Innova 2KD, Mana yang Lebih Bandel dan Layak Diburu?
Galant lebih sesuai bagi pengguna yang menginginkan sedan besar, kabin lega, kenyamanan dan karakter berkendara yang stabil. Eterna menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang menginginkan perpaduan sedan nyaman dengan performa mesin 2.0 liter yang lebih kuat.
Kelebihan lain dari sedan Mitsubishi lawas adalah karakter berkendaranya. Mobil-mobil tersebut lahir ketika produsen masih memberikan perhatian besar terhadap pengembangan sedan, termasuk kualitas sasis, geometri suspensi dan karakter mesin.
Mitsubishi bahkan mencatat bahwa Galant generasi tertentu menggunakan multi-link suspension di seluruh roda dan teknologi seperti INVECS, traction control, 4WD serta active four-wheel steering pada varian tertentu.
Teknologi tersebut menunjukkan bahwa sedan Mitsubishi pada zamannya tidak selalu tertinggal dari mobil modern dalam hal inovasi.
Namun, calon pengguna harus realistis terhadap usia kendaraan. Mobil berumur lebih dari dua dekade memiliki kemungkinan membutuhkan perbaikan pada bagian yang tidak selalu terlihat ketika kendaraan sedang diparkir.
Sistem pendinginan, radiator, water pump, selang, seal, mounting, bushing, ball joint, shock absorber, rem, kabel, alternator dan sistem AC perlu diperiksa. Kondisi bodi juga penting karena perbaikan karat atau keropos dapat membutuhkan biaya cukup besar.
Khusus mesin 4G63 pada Eterna, perawatan berkala sangat penting. Mesin tua dengan sistem hydraulic lash adjuster atau HLA dapat menimbulkan suara abnormal ketika komponen mengalami masalah.
Kondisi kaki-kaki juga perlu diperhatikan, terutama ball joint dan bushing. Pemeriksaan sebelum membeli jauh lebih penting daripada sekadar mengejar harga mobil yang terlihat murah.
Harga pasar Lancer, Galant dan Eterna bekas tidak memiliki satu angka yang dapat berlaku untuk semua unit. Perbedaan kondisi dapat membuat selisih harga cukup besar.
Baca Juga: Toyota Hilux vs Mitsubishi Triton, Sama-sama Diesel Tangguh Tapi Ada Perbedaan yang Berbeda
Unit dengan bodi rapi, interior lengkap, mesin sehat, transmisi normal dan dokumen jelas biasanya memiliki nilai lebih tinggi. Sebaliknya, unit yang membutuhkan restorasi besar mungkin terlihat murah tetapi membutuhkan anggaran tambahan setelah pembelian.
Karena pasar mobil lawas sangat dinamis, calon pembeli sebaiknya membandingkan beberapa unit sebelum menentukan pilihan.
Jika dilihat dari sisi performa, Eterna GTi memiliki daya tarik paling kuat di antara tiga nama tersebut untuk pengguna yang mengutamakan mesin.
Lancer lebih unggul dari sisi kelincahan dan dimensi yang kompak, sedangkan Galant memberikan keseimbangan antara kenyamanan, kestabilan dan performa. Dari sisi efisiensi, Lancer dengan mesin berkapasitas lebih kecil memiliki peluang menjadi yang paling hemat, tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada kondisi kendaraan.
Ketiga nama tersebut juga memperlihatkan perjalanan penting Mitsubishi di Indonesia. Lancer telah diperkenalkan sejak dekade 1970-an, Galant Sigma juga sudah hadir pada periode yang sama, sedangkan Eterna menguatkan posisinya pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an.
Pada dekade 1990-an, Lancer, Eterna dan Galant semakin dikenal melalui berbagai varian berperforma tinggi. Bahkan sejarah Mitsubishi secara global menunjukkan keterkaitan erat antara pengembangan Galant, teknologi turbo dan lahirnya keluarga Lancer Evolution.
Bagi masyarakat umum yang mencari mobil dengan karakter berbeda, Lancer, Galant dan Eterna masih memiliki daya tarik tersendiri. Lancer memberikan sensasi sedan kompak yang lincah, Galant menawarkan kabin lebih lega dan perjalanan yang nyaman, sedangkan Eterna menyuguhkan kombinasi mesin 2.0 liter, handling dan karakter sporty yang membuatnya tetap menarik.
Ketiganya memang tidak bisa diperlakukan seperti mobil baru karena membutuhkan perhatian lebih dalam perawatan, tetapi justru karakter mekanis yang sederhana dan pengalaman berkendara yang khas menjadi nilai tambah.
Pada akhirnya, sedan legendaris Mitsubishi bukan hanya soal usia atau tampilan klasik. Lancer, Galant dan Eterna merupakan bagian dari perjalanan panjang Mitsubishi dalam mengembangkan sedan dengan performa, kenyamanan dan teknologi yang sesuai zamannya.
Baca Juga: Bukan Diesel! Toyota Kijang Kapsul Bensin Tahun 1997–2004 Justru Banyak Dicari
Mitsubishi sendiri mencatat berbagai evolusi teknologi pada model-model tersebut, mulai dari mesin turbo, sistem injeksi, suspensi independen hingga teknologi kontrol transmisi dan penggerak. Sementara di Indonesia, catatan resmi Mitsubishi menunjukkan bagaimana Lancer, Eterna dan Galant silih berganti mengisi pasar sedan selama beberapa dekade.
Bagi pengguna yang ingin menjadikan salah satu mobil tersebut sebagai kendaraan sehari-hari, kunci utamanya bukan mencari unit dengan harga paling murah, melainkan mencari mobil dengan kondisi mekanis paling sehat. Pemeriksaan mesin, transmisi, kaki-kaki, sistem pendinginan, kelistrikan, AC, bodi dan dokumen harus dilakukan secara menyeluruh.
Dengan perawatan yang tepat, Lancer, Galant dan Eterna masih mampu memberikan pengalaman berkendara yang berbeda dari sedan modern. Dari ketiganya, Lancer menjadi pilihan yang lebih praktis dan lincah, Galant menawarkan kenyamanan serta ruang yang lebih besar, sementara Eterna GTi menjadi salah satu pilihan paling menarik bagi masyarakat yang menginginkan sedan lawas dengan karakter performa kuat.
Referensi pembaca untuk sejarah dan spesifikasi Mitsubishi dapat diperoleh dari halaman sejarah resmi Mitsubishi Motors yang mencatat perkembangan Lancer, Galant dan Eterna, serta sejarah resmi Mitsubishi Motors Indonesia yang mendokumentasikan peluncuran berbagai varian di Indonesia.
Referensi tambahan mengenai Eterna GTi dan karakter mesin 4G63 juga dapat ditemukan pada laporan otomotif mengenai Eterna 1989-1993.
Dengan demikian, pembahasan mengenai Mitsubishi Lancer, Galant dan Eterna tidak hanya bertumpu pada popularitas masa lalu, tetapi juga pada rekam sejarah, spesifikasi dan karakter teknis yang membuat ketiganya tetap dikenal hingga sekarang. (dka)
Editor : Baskoro Septiadi