Mobil Listrik Bekas Mulai Rp100 Jutaan, Harganya Menggoda tapi Kondisi Baterainya Bikin Wajib Waspada

Deka Yusuf Afandi • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 13:21 WIB

 

mobil listrik bekas Rp100 jutaan
mobil listrik bekas Rp100 jutaan

 

RADARSEMARANG.ID –   Mobil listrik bekas kini bukan lagi barang yang hanya dilirik oleh kalangan tertentu. Di pasar mobil bekas Indonesia, kendaraan listrik mulai menawarkan harga yang jauh lebih masuk akal untuk masyarakat umum.

Bahkan pada Agustus 2026, sejumlah mobil listrik bekas sudah bisa ditemukan mulai kisaran Rp100 jutaan, membuatnya berhadapan langsung dengan mobil bensin bekas dan LCGC yang selama ini menjadi pilihan utama keluarga Indonesia.

Namun, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar melihat harga di iklan: bagaimana kondisi baterainya? Inilah hal yang membuat membeli mobil listrik bekas berbeda dengan membeli mobil bensin bekas.

Pada mobil konvensional, calon pembeli biasanya memeriksa mesin, transmisi, kaki-kaki, bodi, dan riwayat servis. Pada mobil listrik, semua pemeriksaan tersebut tetap penting, tetapi kondisi baterai bertegangan tinggi menjadi salah satu faktor paling menentukan nilai kendaraan.

Salah satu contoh yang paling mudah ditemukan adalah Wuling Air ev. Model ini menjadi pintu masuk menarik bagi masyarakat yang ingin mencoba mobil listrik dengan dana terbatas.

Berdasarkan pantauan pasar pada 2026, Wuling Air ev bekas tahun 2022 bahkan sudah ada yang ditawarkan sekitar Rp95 juta sampai Rp100 jutaan, sedangkan varian Long Range berada di kisaran Rp105 juta hingga sekitar Rp130 jutaan tergantung tahun, kondisi dan kelengkapan. Harga tentu dapat berbeda antarwilayah dan penjual.

Baca Juga: Toyota Hilux vs Mitsubishi Triton, Sama-sama Diesel Tangguh Tapi Ada Perbedaan yang Berbeda

Angka tersebut memang terlihat menggoda. Bayangkan mendapatkan mobil listrik dengan biaya pembelian setara sebagian mobil bensin bekas. Akan tetapi, jangan langsung tergiur hanya karena harga murah.

Pada kendaraan listrik, baterai bukan sekadar komponen tambahan. Baterai merupakan sumber energi utama yang menggerakkan motor listrik.

Karena itu, mobil bekas dengan kondisi baterai yang sehat bisa menjadi kendaraan harian yang sangat ekonomis, sedangkan unit dengan masalah baterai atau sistem kelistrikan bertegangan tinggi dapat membuat biaya kepemilikan menjadi jauh lebih berat.

Untuk masyarakat umum yang mencari mobil listrik bekas, Wuling Air ev menjadi salah satu contoh paling menarik. Mobil mungil ini memiliki dimensi panjang sekitar 2.974 mm, lebar 1.505 mm dan tinggi 1.631 mm. Kapasitas kabinnya empat penumpang.

Ukurannya yang kecil menjadi keuntungan besar ketika digunakan di jalan perkotaan, terutama untuk parkir di area sempit dan menghadapi lalu lintas padat.

Untuk performanya, Air ev menggunakan motor listrik 30 kW dengan penggerak roda belakang. Varian Standard Range menggunakan baterai LFP 17,3 kWh dengan klaim jarak tempuh hingga 200 kilometer, sementara Long Range menggunakan baterai 26,7 kWh dengan klaim hingga 300 kilometer dalam kondisi tertentu.

Angka jarak tempuh tersebut merupakan klaim pabrikan, sehingga hasil penggunaan sehari-hari dapat berbeda karena gaya mengemudi, kecepatan, beban, kondisi jalan, cuaca dan penggunaan AC.

Karakter performanya memang tidak dibuat untuk mengejar kecepatan tinggi. Air ev lebih tepat dipahami sebagai kendaraan perkotaan. Respons motor listrik terasa cepat ketika pedal akselerator diinjak dari kondisi berhenti,

 sehingga mobil cukup lincah untuk berpindah jalur atau keluar dari persimpangan. Keunggulan terbesar justru ada pada kemudahan mengendalikan bodinya yang mungil.

Baca Juga: Isuzu MU-X vs Pajero Sport, Sama-Sama Diesel:,Siapa Lebih Irit, Bertenaga dan Tangguh?

Handling-nya juga cocok untuk penggunaan harian. Radius dan dimensi bodinya memudahkan pengemudi masuk ke gang, tempat parkir, pusat perbelanjaan maupun lingkungan perumahan.

Kekurangannya, ukuran roda kecil dan konstruksi mobil yang ringkas membuat sensasi berkendara di jalan rusak tidak sama dengan mobil keluarga berukuran lebih besar. Pada kecepatan tinggi, pengemudi juga harus memahami bahwa mobil mungil memiliki karakter berbeda dibanding SUV atau sedan.

Istilah konsumsi bahan bakar sebenarnya kurang tepat untuk mobil listrik karena kendaraan ini tidak menggunakan bensin atau solar. Yang lebih relevan adalah konsumsi energi listrik, biasanya dinyatakan dalam kWh per 100 kilometer.

Untuk penggunaan nyata, konsumsi sangat dipengaruhi kecepatan, AC, beban penumpang, tekanan ban, kondisi jalan, temperatur dan gaya berkendara. Karena itu, calon pembeli sebaiknya tidak hanya terpaku pada angka jarak tempuh di brosur.

Justru di sinilah salah satu keunggulan mobil listrik bekas muncul. Untuk pemakaian harian dalam kota, pengeluaran energi dapat jauh lebih sederhana dibandingkan mobil bensin karena tidak ada pembelian bensin setiap kali tangki menipis.

Selain itu, sistem penggerak mobil listrik memiliki lebih sedikit komponen mekanis dibanding mesin pembakaran internal. Tidak ada oli mesin yang perlu diganti secara berkala, sementara beberapa komponen perawatan rutin menjadi lebih sederhana.

Tetapi biaya listrik tetap harus dihitung. Jika mobil sering digunakan menempuh jarak jauh dan pengisian dilakukan di fasilitas tertentu dengan tarif berbeda, hitungan ekonominya bisa berubah.

Karena itu, sebelum membeli, masyarakat sebaiknya menghitung jarak tempuh harian dan memastikan tersedia tempat pengisian yang praktis di rumah atau lokasi yang mudah dijangkau.

Dari sisi fitur, Air ev juga cukup menarik untuk kelas harganya. New Air ev memiliki layar instrumen TFT 10,25 inci, layar terintegrasi 10,25 inci, keyless entry, smart start system, kamera dan sensor parkir belakang, TPMS, ABS, EBD, ESC pada varian tertentu, hill hold control, electric parking brake, ISOFIX dan sistem peringatan untuk pejalan kaki.

Fitur tersebut menjadi salah satu alasan mengapa mobil listrik bekas seperti Air ev menarik bagi masyarakat yang sebelumnya hanya mempertimbangkan mobil LCGC. Ukurannya memang kecil, tetapi pengalaman penggunaan sudah terasa modern.

Baca Juga: Traga vs L300 Mending Mana untuk Usaha? Jangan Salah Pilih, Ini Perbandingan Performa, Muatan dan Biayany

Namun, Air ev bukan satu-satunya pilihan.

Di pasar mobil listrik bekas, konsumen juga dapat menemukan Hyundai Ioniq Electric generasi lama yang harganya sudah turun cukup jauh. Pada 2026, sejumlah listing Ioniq Electric bekas berada di kisaran Rp190 jutaan hingga Rp200 jutaan lebih, tergantung tahun dan kondisi.

Model ini menawarkan karakter yang berbeda dari Air ev karena dimensinya lebih besar, kabinnya lebih lega dan performanya lebih cocok untuk perjalanan antarkota. Salah satu versi Ioniq Electric memiliki motor 100 kW atau sekitar 136 PS dan torsi 295 Nm.

Ioniq Electric juga menarik dari sisi kenyamanan dan efisiensi. Tetapi calon pembeli harus lebih teliti terhadap usia baterai karena sebagian unit yang berada di pasar bekas sudah berumur beberapa tahun. Riwayat penggunaan dan kesehatan baterai menjadi jauh lebih penting dibanding sekadar melihat odometer.

Pilihan lain adalah Nissan Leaf. Mobil ini memiliki baterai lithium-ion 40 kWh dan sistem garansi baterai yang secara resmi disebut Nissan mencapai 10 tahun atau 210.000 kilometer, dengan ketentuan tertentu. Nissan juga menyebut adanya perlindungan terhadap penurunan kapasitas di bawah sembilan bar pada indikator kapasitas baterai.

Leaf menawarkan pengalaman berkendara yang berbeda lagi. Tenaganya terasa lebih kuat dibanding city car listrik, kabinnya lebih nyaman untuk penggunaan keluarga kecil dan karakter pengendaliannya lebih menyerupai hatchback konvensional. Namun, pembeli mobil bekas harus memperhatikan kondisi baterai, sistem pengisian, riwayat servis dan ketersediaan komponen.

Untuk masyarakat yang mengincar mobil listrik bekas dengan dana lebih besar, Hyundai Ioniq 5 juga mulai menarik karena depresiasi membuat harga bekasnya jauh lebih rendah dibanding harga barunya. Data pasar pada 2026 menunjukkan Ioniq 5 bekas tahun awal sudah berada di kisaran Rp379 juta sampai Rp404 jutaan untuk varian tertentu.

Mobil ini jelas berbeda kelas dengan Air ev. Ioniq 5 memiliki kabin luas, performa jauh lebih tinggi, fitur lebih lengkap, kemampuan pengisian cepat dan teknologi seperti V2L. Hyundai mencantumkan varian baterai 58 kWh dan 72,6 kWh pada Ioniq 5 generasi tersebut, dengan tenaga hingga 170 PS untuk Standard Range dan 217 PS untuk Long Range.

Baca Juga: Solar Nih Bos, Isuzu D-Max vs Mitsubishi Triton 2021:Siapa Lebih Tangguh dan Lebih Irit

Pertanyaannya kembali ke hal yang paling penting: bagaimana cara mengetahui baterai mobil listrik bekas masih sehat? Jangan hanya bertanya kepada penjual, "Baterainya masih bagus?"

Pertanyaan tersebut terlalu umum. Mintalah bukti pemeriksaan kondisi baterai, riwayat servis dan jika memungkinkan lakukan pemeriksaan menggunakan perangkat diagnostik di bengkel resmi atau teknisi yang benar-benar memahami kendaraan listrik.

Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah State of Health atau SOH. Secara sederhana, SOH menggambarkan kondisi kapasitas baterai dibandingkan kondisi acuannya.

Semakin tinggi nilainya, semakin dekat kemampuan baterai dengan kondisi ideal. Namun angka SOH tidak sebaiknya dibaca sendirian. Pemeriksaan harus melihat keseluruhan sistem baterai, termasuk error pada Battery Management System, temperatur sel, keseimbangan sel dan riwayat pengisian.

Calon pembeli juga sebaiknya melakukan test drive dengan baterai dalam kondisi yang cukup terisi. Perhatikan apakah jarak tempuh yang ditampilkan turun secara tidak wajar, apakah indikator baterai berubah secara ekstrem, apakah tenaga terasa tidak konsisten atau muncul peringatan di panel instrumen.

Perhatikan pula proses pengisian. Colokkan kendaraan ke charger yang sesuai dan lihat apakah pengisian berjalan normal. Bila memungkinkan, periksa apakah ada kendala saat AC charging maupun DC fast charging pada model yang mendukungnya.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah riwayat pemakaian. Mobil listrik yang sering digunakan untuk perjalanan sangat jauh, sering melakukan pengisian cepat atau disimpan dalam kondisi baterai ekstrem dapat memiliki pola penggunaan berbeda dengan kendaraan yang hanya digunakan untuk perjalanan kota.

Baca Juga: Sama-Sama Tahun 2022, Innova Reborn atau Fortuner, Mesin 2GD vs 1GD, Siapa Jawaranya?

Meski demikian, bukan berarti mobil listrik bekas harus dihindari karena baterainya akan langsung rusak setelah beberapa tahun. Baterai modern dirancang untuk digunakan dalam jangka panjang dan memiliki sistem manajemen baterai untuk mengatur pengisian, temperatur dan keamanan.

Hyundai, misalnya, saat ini memberikan garansi high-voltage EV battery hingga 8 tahun atau 160.000 kilometer untuk kendaraan listriknya sesuai syarat dan ketentuan.

Pada mobil listrik bekas, yang harus diperiksa adalah apakah garansi baterai masih tersisa dan apakah garansi tersebut dapat digunakan oleh pemilik berikutnya sesuai ketentuan pabrikan. Ini bisa menjadi nilai tambah besar ketika membeli mobil bekas.

Purna jual menjadi faktor yang tidak boleh dilupakan. Harga murah tidak akan terasa murah apabila bengkel sulit ditemukan dan suku cadang harus didatangkan dalam waktu lama.

Karena itu, untuk pemakaian masyarakat umum, pilihan paling aman biasanya mengarah kepada merek yang mempunyai jaringan bengkel resmi, teknisi kendaraan listrik dan ketersediaan suku cadang yang jelas.

Wuling mempunyai keunggulan karena Air ev sudah lama beredar di Indonesia dan menjadi salah satu model EV yang cukup dikenal. Sementara Hyundai memiliki jaringan layanan resmi dan dukungan suku cadang untuk kendaraan listrik. Hyundai sendiri menyatakan telah memperluas jaringan servis dan suku cadang kendaraan listrik di Indonesia.

Tetap saja, suku cadang mobil listrik tidak semuanya murah. Komponen seperti ban, rem, suspensi, AC, bearing, lampu dan bagian interior tetap memiliki biaya penggantian seperti mobil biasa. Komponen elektrifikasi tertentu seperti inverter, motor listrik, onboard charger dan baterai bertegangan tinggi memiliki tingkat kompleksitas lebih tinggi.

Keunggulan utama mobil listrik bekas jelas berada pada harga pembelian yang sudah turun, biaya energi harian yang berpotensi lebih hemat, respons motor listrik yang instan, kabin yang senyap dan perawatan mesin yang lebih sederhana. Untuk pengguna yang mayoritas berkendara di dalam kota, kelebihannya semakin terasa.

Baca Juga: Wuling Almaz Exclusive 2019 vs DFSK Glory i-Auto, Harga Bekasnya Kini Bikin Kaget

Tetapi kekurangannya juga nyata. Jarak tempuh sangat bergantung pada kondisi baterai, fasilitas charging belum selalu semudah SPBU, waktu pengisian lebih lama dibanding mengisi bensin, dan depresiasi beberapa model masih cukup tinggi.

Selain itu, calon pembeli harus lebih serius memeriksa baterai karena komponen tersebut memiliki nilai yang sangat besar terhadap harga kendaraan.

Depresiasi justru menjadi salah satu alasan mobil listrik bekas kini menarik. Data pasar 2026 menunjukkan beberapa mobil listrik mengalami penurunan harga cukup besar dalam beberapa tahun pertama. Air ev, misalnya, sudah banyak ditemukan di bawah Rp150 juta dan bahkan terdapat unit sekitar Rp100 jutaan.

Bagi masyarakat umum, kondisi ini sebenarnya bisa menjadi peluang. Daripada membeli mobil listrik baru dengan harga tinggi, membeli unit bekas yang sudah mengalami depresiasi besar dapat membuat biaya masuk ke dunia kendaraan listrik menjadi lebih rendah.

Namun, jangan menganggap harga Rp100 juta berarti semua unit akan sama. Air ev Rp100 juta dengan baterai sehat, surat lengkap, riwayat servis jelas dan kondisi bodi bagus tentu jauh lebih menarik dibanding unit Rp90 juta yang memiliki riwayat kecelakaan atau masalah kelistrikan.

Begitu pula dengan mobil listrik yang lebih besar. Harga Hyundai Ioniq Electric atau Nissan Leaf bekas yang terlihat murah harus dibandingkan dengan usia baterai, sisa garansi, kondisi ban, kaki-kaki, sistem pengisian dan kelengkapan dokumen.

Ada satu prinsip sederhana yang sebaiknya dipegang: jangan membeli mobil listrik bekas berdasarkan harga termurah, tetapi berdasarkan harga terbaik setelah kondisi kendaraan diperiksa.

Bagi pengguna yang hanya membutuhkan mobil kedua untuk perjalanan kantor, mengantar anak sekolah, berbelanja dan aktivitas dalam kota, Wuling Air ev bekas bisa menjadi salah satu pilihan paling rasional. Ukurannya kecil, mudah diparkir dan biaya energinya berpotensi rendah.

Baca Juga: Isuzu D-Max 2015 vs Mitsubishi Triton 2015, Siapa Lebih Unggul?

Bagi keluarga yang membutuhkan kabin lebih nyaman dan perjalanan lebih jauh, mobil seperti Hyundai Ioniq Electric atau Nissan Leaf dapat dipertimbangkan. Sementara bagi konsumen dengan anggaran lebih besar yang menginginkan mobil keluarga modern, nyaman dan bertenaga, Ioniq 5 bekas menawarkan kelas yang berbeda.

Yang perlu diingat, jarak tempuh pada layar bukanlah satu-satunya indikator kesehatan baterai. Kondisi aktual baterai harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan diagnostik, riwayat servis dan pengujian kendaraan. Jangan malu meminta penjual membawa mobil ke bengkel resmi atau bengkel EV yang kredibel sebelum transaksi.

Selain itu, jangan lupa menghitung biaya kepemilikan secara keseluruhan. Harga beli, pajak, asuransi, biaya charging, ban, perawatan kaki-kaki, kemungkinan penggantian komponen dan nilai jual kembali semuanya harus masuk dalam perhitungan.

Pada akhirnya, mobil listrik bekas Rp100 jutaan memang menawarkan sesuatu yang beberapa tahun lalu sulit dibayangkan: kendaraan listrik dengan harga yang mulai mendekati mobil bensin bekas masyarakat umum.(dka)

Editor : Baskoro Septiadi
harga mobil listrik mobil listrik bekas murah harga mobil listrik bekas mobil listrik bekas mobil listrik