RADARSEMARANG.ID - Banyak dari kita selama ini menganggap, jalan tol adalah jalur yang cukup aman untuk berkendara. Kondisi jalan yang lurus, lebar dan mulus, membuat kita merasa nyaman saat mengemudi.
Kondisi ini berbeda saat kita mengemudi dijalur pegunungan yang dipebuhi dengan tanjakan terjal, tikungan tajam dengan keberadaan jurang di kanan kiri jalan.
Tapi tahukah anda, bahwa anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Mengapa?berdasar stastistik keselamatan berkendara mengungkapkan, bahwa kecelakaan fatal justru lebih banyak terjadi di jalan tol yang lurus dibanding di jalan pegunungan.
Baca Juga: Ngebut di Tol: Dompet Tekor, Stres Melonjak, Risiko Naik 5 Kali Lipat!
Lalu faktor apa yang membuat kecelakaan di jalan tol lebih fatal ketimbang berkendara di jalur pegunungan.
Ini dia tiga faktor penyebabnya :
1. Fenomena "Highway Hypnosis" Membuat Pengemudi Kehilangan Fokus
Salah satu penyebab utama tingginya angka kecelakaan di jalan tol adalah fenomena psikologis yang dikenal sebagai highway hypnosis atau hipnotis jalan raya.
Kondisi ini terjadi ketika pengemudi melintasi jalan lurus dalam waktu yang lama dengan sedikit rangsangan visual.
Baca Juga: Mitos Menyesatkan: Mengapa Oli Kental Justru Bikin Mobil Bekas Anda Cepat Masuk Bengkel?
Hal ini mengakibatkan, otak bekerja secara otomatis sehingga tingkat kewaspadaan menurun. Pengemudi bisa melamun, kehilangan konsentrasi, bahkan mengalami microsleep atau tidur singkat tanpa disadari.
Saat kondisi tersebut terjadi, kemampuan pengemudi untuk merespons situasi darurat menjadi jauh lebih lambat.
Kondisi berbeda saat mengemudi di jalur pegunungan, dimana pengemudi dituntut untuk selalu fokus karena kondisi jalan penuh tikungan, tanjakan, maupun turunan.
Aktivitas seperti mengerem, memindahkan gigi, dan mengendalikan setir secara terus-menerus membuat otak tetap aktif sehingga risiko mengantuk menjadi lebih kecil.
2. Kecepatan Tinggi Memperbesar Risiko Kecelakaan Fatal
Faktor berikutnya adalah kecepatan kendaraan yang cenderung lebih tinggi di jalan tol.
Baca Juga: Haaland Segar Bugar! Mampukah Tembok Fisik Pantai Gading Hentikan Monster Norwegia Malam Ini?
Jalur yang panjang dan minim hambatan sering kali menciptakan rasa percaya diri berlebihan sehingga pengemudi memacu kendaraan hingga batas aman.
Padahal, semakin tinggi kecepatan, semakin panjang pula jarak pengereman yang dibutuhkan saat menghadapi situasi darurat.
Jika kecelakaan terjadi pada kecepatan di atas 100 kilometer per jam, energi benturan akan meningkat drastis.
Dampaknya bukan hanya menyebabkan kerusakan kendaraan yang lebih parah, tetapi juga meningkatkan risiko korban jiwa alias kecelakaan fatal.
Berbeda dengan jalur pegunungan yang umumnya memaksa kendaraan melaju dengan kecepatan rendah. Meski kecelakaan tetap dapat terjadi, tingkat fatalitas biasanya lebih rendah dibanding kecelakaan di jalan tol.
3. Rasa Aman Semu Membuat Pengemudi Lalai Memeriksa Kendaraan
Rasa aman saat berkendara di jalan tol juga sering membuat pengemudi mengabaikan kondisi kendaraan sebelum melakukan perjalanan.
Tidak sedikit yang tetap melaju dengan ban yang sudah aus, tekanan angin tidak sesuai, atau sistem pengereman yang kurang optimal.
Padahal, kecepatan tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan suhu ban secara signifikan dan memicu risiko ban pecah.
Sebaliknya, ketika akan melewati jalur pegunungan, sebagian besar pengemudi cenderung melakukan pemeriksaan kendaraan secara lebih teliti. Kondisi rem, cairan pendingin mesin, hingga ketebalan ban biasanya dipastikan dalam keadaan baik sebelum perjalanan dimulai.
Kesadaran terhadap medan yang lebih menantang secara tidak langsung mendorong budaya berkendara yang lebih disiplin dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, tingkat keselamatan di jalan tidak hanya ditentukan oleh kondisi medan, tetapi juga oleh perilaku pengemudi.
Jalan tol yang terlihat aman justru dapat menjadi sangat berbahaya apabila pengemudi lengah, memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, atau mengabaikan kondisi kendaraan sebelum berkendara. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi