RADARSEMARANG.ID - Banyak anggapan dari kita, khususnya saat mengendarai mobil di jalan tol, bahwa dengan memacu mobil dalam kecepatan tinggi, adalah cara yang efektif memangkas waktu perjalanan.
Karenanya, banyak dari pengemudi mobil saat melaju di jalan tol, memilih injak pedal gas dalam-dalam alias ngebut, melaju secara agresif dengan pindah jalur yang terkadang secara tiba-tiba.
Baca Juga: Mitos Menyesatkan: Mengapa Oli Kental Justru Bikin Mobil Bekas Anda Cepat Masuk Bengkel?
Ternyata, anggapan ngebut di jalan tol agar cepat sampai tujuan, karena dapat memangkas waktu , tidak sepenuhnya benar.
Karena dibalik sensasi melaju kencang, ternyata keuntungan waktu yang diperoleh ternyata sangat kecil jika dibandingkan dengan besarnya risiko keselamatan kita.
Berapa Selisih Waktu Jika Ngebut?
Dalam sebuah simulasi sederhana, dengan menempuh perjalanan sejauh 100 kilometer, menunjukkan bahwa mobil yang melaju dengan speed 90 km/jam, membutuhkan waktu kurang lebih 66 menit untuk sampai ditujuan.
Sementara, pengemudi yang memacu mobilnya dalam kecepatan 130 km/jam, secara teori memang turun menjadi sekitar 46 menit. Namun kondisi di lapangan tidak pernah ideal.
Baca Juga: Prancis vs Swedia: Prediksi Skor, Susunan Pemain, dan Live Streaming Piala Dunia 2026
Kepadatan lalu lintas, kendaraan besar, proses menyalip, hingga penyempitan jalur membuat kecepatan tinggi sulit dipertahankan secara terus-menerus.
Artinya, selisih waktu antara yang jalan santai dengan yang ngebut hanya berkisar 10 hingga 15 menit saja.
Risiko Kecelakaan Meningkat Drastis
Jika menilik selisih waktu yang relatif kecil, tidak sebanding dengan resiko kecelakaan yang jauh lebih tinggi.
Analisis keselamatan jalan menunjukkan bahwa berkendara agresif pada kecepatan sekitar 130 km/jam dapat meningkatkan risiko kecelakaan fatal hingga lima kali lipat atau sekitar 500 persen dibandingkan berkendara pada kecepatan yang lebih aman.
Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin panjang pula jarak pengereman yang dibutuhkan. Pada saat yang sama, waktu reaksi pengemudi untuk menghindari bahaya menjadi jauh lebih singkat.
Dalam kondisi seperti ini, kesalahan kecil dari kendaraan lain atau perubahan kondisi jalan dapat berujung pada kecelakaan fatal, hal ini disebabkan pengemudi kehilangan kesempatan untuk mengendalikan kendaraan.
Lebih Singkat Tapi Mahal
Selain resiko keselamatan yang lebih tinggi, kebiasaan mengemudi dalam kecepatan tinggi, juga bisa berdampak pada beaya operasional kendaraan yang lebih mahal.
Hal itu karena mesin bekerja lebih keras, sehingga konsumsi bahan bakar meningkat. Komponen seperti kampas rem, cakram, hingga ban juga lebih cepat aus akibat sering melakukan akselerasi dan pengereman mendadak.
Baca Juga: Jangan Sampai Zong! SKTP Juni 2026 Sudah Terbit Massal, Segera Kunci Data Guru Lewat Link Ini
Tidak cuma itu, pengemudi yang suka ngebut juga cenderung mengalami kelelahan mental lebih cepat. Konsentrasi terus-menerus saat berpindah jalur, menjaga kecepatan tinggi, dan mengantisipasi kendaraan lain memicu stres serta menurunkan fokus selama perjalanan.
Keselamatan Tetap Menjadi Prioritas
Pada akhirnya, menghemat waktu sekitar 10 hingga 15 menit tidak sebanding dengan risiko yang harus dihadapi. Berkendara dengan kecepatan stabil, mematuhi batas kecepatan, serta menjaga jarak aman tetap menjadi pilihan paling bijak demi keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.
Sebab, tujuan perjalanan bukan hanya tiba lebih cepat, tetapi juga tiba dengan selamat. (sls)