Dalam peta besar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029, Semarang mematok target presisi: bertransformasi menjadi kota global sekaligus episentrum MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di Jawa Tengah. Menjamu puluhan ribu kafilah, dewan hakim, ofisial, dan pelancong dari 38 provinsi adalah ujian kelayakan infrastruktur publik kita. Mulai dari kapasitas bandara, denyut stasiun, ketepatan BRT Trans Semarang, hingga ketangguhan fasilitas ruang publik.
Menariknya, para tamu nusantara tidak sekadar disambut gemerlap panggung lomba. Mereka menjejakkan kaki di sebuah kota dengan ekosistem toleransi yang matang. Lanskap Masjid Agung Jawa Tengah, aroma lumpia di Gang Lombok Pecinan, hingga fasad anggun Kota Lama merangkum narasi otentik: Semarang adalah miniatur persatuan nusantara yang religius tanpa kehilangan akar kebudayaan.
Namun, di atas panggung etalase tersebut, ada mandat yang jauh lebih mendesak: memastikan perhelatan megah ini tidak berhenti di balik pintu ruang sidang berpendingin udara. MTQ harus merembes ke jalanan, menyapa meja-meja pedagang kecil, dan membakar motor ekonomi akar rumput. Tahun lalu, laju pertumbuhan ekonomi Semarang melesat 6,42 persen, melompati rerata Jawa Tengah (5,37 persen) maupun nasional (5,11 persen), dipacu realisasi investasi yang menembus Rp30,05 triliun. Angka makro ini menuntut pembuktian di level mikro. Kehadiran puluhan ribu orang selama sepuluh hari adalah suntikan likuiditas langsung bagi para pelaku UMKM.
Peluang emas ini jangan sampai buyar akibat salah rancang. Sektor kuliner khas—dari lumpia, tahu gimbal, hingga babat gongso—serta perajin batik Semarangan berhak menikmati lonjakan konsumsi ini. Dari kursi legislatif, DPRD terus mengawal agar Pemerintah Kota Semarang tidak mengurung transaksi di tenda-tenda eksklusif. Ruang pamer dan gerai UMKM lokal wajib terintegrasi di simpul utama kegiatan, bukan sekadar pelengkap di sudut belakang.
Sinergi serupa berlaku bagi industri perhotelan dan transportasi. Tingkat keterisian kamar hotel dan rerata masa tinggal (length of stay) pelancong harus dioptimalkan melalui paket wisata terpadu yang ramah dan berdaya pikat. Keramahan (hospitality) warga adalah komoditas tak kasat mata yang akan menentukan apakah para tamu sekadar mampir berlomba atau berkeinginan kembali berwisata bersama keluarga di masa mendatang.
Ujian sesungguhnya bagi penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI terletak pada tiga pilar keberhasilan: sukses penyelenggaraan, sukses syiar kerukunan, dan sukses dampak kesejahteraan rakyat.
DPRD Kota Semarang berkomitmen memastikan setiap rupiah anggaran daerah dikelola secara transparan dan tepat sasaran. Pesta akbar ini didanai oleh uang rakyat, maka manfaat ekonominya wajib kembali berputar di dompet rakyat.
Saat gema ayat suci Al-Qur'an mengalun syahdu di seantero kota, pada saat yang sama gerobak pedagang kaki lima laris manis dan dapur wirausaha lokal terus mengepul. Itulah esensi sejati dari membumikan Al-Qur'an: membawa kesejukan bagi batin, seraya mengangkat harkat dan kesejahteraan masyarakat Kota Atlas.(*)
Oleh: Ali Umar Dhani
(Anggota DPRD Kota Semarang)
Editor : Sugiyanto