RADARSEMARANG.ID - Peringatan Hari Anak Nasional setiap 23 Juli semestinya tidak berhenti pada seremoni. Lomba mewarnai, panggung hiburan, hingga pembagian hadiah memang menyenangkan. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian orang tua, yakni apakah anak benar-benar didengar?
Pertanyaan itu menjadi penting ketika masih banyak anak yang tumbuh tanpa ruang untuk menyampaikan pendapat. Mereka diajarkan untuk patuh, tetapi jarang diajak berdiskusi. Mereka diminta mengikuti keputusan orang tua, tetapi tidak diberi kesempatan untuk memahami alasan di balik keputusan tersebut. Akibatnya, hak anak untuk berpartisipasi dalam keluarga ataupun lingkungan sekitar masih kerap terabaikan.
Momentum Hari Anak seharusnya mengingatkan kita bahwa setiap anak memiliki hak untuk didengar, dihargai pendapatnya, dan dilibatkan dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan dirinya. Selama ini, perhatian terhadap hak anak lebih banyak tertuju pada pemenuhan kebutuhan fisik, pendidikan, ataupun perlindungan dari kekerasan. Ironisnya, ada satu hak yang sering kali luput dari perhatian, yaitu hak untuk berpartisipasi. Tidak sedikit orang tua yang masih menganggap anak belum cukup dewasa untuk menyampaikan pendapat. Akibatnya, keputusan keluarga sepenuhnya berada di tangan orang dewasa.
Padahal, melibatkan anak dalam pengambilan keputusan bukan berarti memberikan kebebasan tanpa batas. Justru melalui proses tersebut, anak belajar bertanggung jawab, memahami konsekuensi, dan menghargai sudut pandang orang lain. Hal-hal sederhana, seperti mengajak anak berdiskusi untuk menentukan tujuan liburan, memilih kegiatan akhir pekan, atau mendengarkan pendapat mereka ketika menghadapi persoalan, merupakan bentuk penghormatan terhadap hak partisipasi anak.
Anak yang terbiasa diajak berdialog akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan terbuka. Mereka tidak akan ragu menceritakan kesulitan yang dihadapi, baik di sekolah, lingkungan pergaulan, maupun di rumah. Sebaliknya, ketika merasa pendapatnya selalu diabaikan, anak cenderung memilih diam dan memendam masalah. Kondisi seperti ini dapat berdampak pada kesehatan mental anak, bahkan membuat mereka enggan meminta bantuan saat menghadapi kekerasan ataupun perundungan.
Karena itu, pola pengasuhan perlu bergeser. Orang tua tidak cukup hanya hadir sebagai pendamping yang memastikan anak makan, belajar, dan tumbuh sehat. Lebih dari itu, orang tua harus menjadi teman berdiskusi, pendengar yang baik, sekaligus sosok yang terlibat aktif dalam setiap proses tumbuh kembang anak. Kehadiran secara emosional jauh lebih berarti daripada sekadar kehadiran fisik.
Salah satu cara paling sederhana untuk membangun kedekatan tersebut adalah bermain bersama. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, banyak keluarga menghabiskan waktu dalam satu ruangan, tetapi setiap anggota keluarga sibuk dengan gawainya masing-masing. Interaksi yang seharusnya menjadi fondasi hubungan orang tua dan anak pun perlahan berkurang.
Padahal, UNICEF menjelaskan bahwa 1.000 hari pertama kehidupan, yang berlangsung sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan periode penting untuk mengoptimalkan potensi dan tumbuh kembang anak. Pada periode tersebut, otak anak berkembang sangat pesat dengan membentuk lebih dari satu juta koneksi saraf baru setiap detik. Karena itu, stimulasi melalui interaksi, komunikasi, pengasuhan yang responsif, dan aktivitas bermain menjadi bagian penting dalam mendukung perkembangan motorik, bahasa, sosial, emosional, serta kemampuan berpikir anak.
Pentingnya stimulasi sejak dini juga terlihat dalam studi evaluasi Program Rumah Anak SIGAP yang dipublikasikan Tanoto Foundation. Studi tersebut menunjukkan bahwa 56 persen anak pada kelompok intervensi memiliki tumbuh kembang sesuai umur. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kelompok bukan intervensi yang mencapai 39 persen. Temuan ini menunjukkan pentingnya pengasuhan berkualitas dan stimulasi dini dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Bermain bukan sekadar hiburan, melainkan proses belajar yang paling alami bagi anak usia dini. Salah satu bentuk stimulasi yang mudah dilakukan orang tua adalah melalui permainan tradisional. Permainan seperti cilukba, petak umpet sederhana, lompat karet, tepuk tangan, congklak, atau bernyanyi bersama tidak membutuhkan biaya mahal ataupun teknologi canggih. Namun, permainan tersebut mampu melatih koordinasi tubuh, kemampuan berpikir, komunikasi, kerja sama, hingga kepercayaan diri anak.
Lebih dari itu, permainan tradisional juga dapat menjadi media untuk mempererat hubungan antara orang tua dan anak. Ketika orang tua ikut bermain, anak akan merasa diperhatikan, dihargai, sekaligus dicintai. Ikatan emosional yang terbangun dari momen-momen sederhana inilah yang menjadi modal penting bagi perkembangan sosial dan mental anak.
UNICEF menjelaskan bahwa bermain bersama dapat memperkuat ikatan antara orang tua dan anak. Melalui perhatian, kasih sayang, dan interaksi yang tercipta saat bermain, anak merasa dihargai sekaligus memperoleh dasar yang kuat untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosionalnya.
Permainan tradisional juga menyimpan nilai-nilai budaya yang patut diwariskan. Lagu daerah, permainan kelompok, hingga aktivitas yang melibatkan interaksi langsung dapat mengajarkan gotong royong, sportivitas, kesabaran, dan kebersamaan. Nilai-nilai tersebut sulit diperoleh ketika anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar gawai.
Pendekatan seperti ini mulai diterapkan di berbagai daerah, salah satunya melalui kegiatan #MainBarengTumbuhBareng yang saya ikuti beberapa waktu lalu di Rumah Anak SIGAP Bandarharjo, Kota Semarang. Rumah Anak SIGAP Bandarharjo merupakan pusat pembelajaran stimulasi dini dan pengasuhan yang diinisiasi oleh Tanoto Foundation bersama Pemerintah Kota Semarang. Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diajak belajar dan berinteraksi melalui berbagai aktivitas, mulai dari menyanyikan tembang hingga memainkan permainan tradisional seperti lompat tali, dakon, marakas, dan egrang dari batok kelapa.
Permainan lompat tali, misalnya, dapat membantu mengembangkan kemampuan motorik kasar anak melalui latihan koordinasi tubuh. Permainan tersebut juga melatih konsentrasi dan fokus karena anak harus memperhatikan tinggi tali serta menentukan waktu yang tepat untuk melompat. Selain itu, anak belajar bersabar saat menunggu giliran dan menjunjung sportivitas ketika menang ataupun kalah. Manfaat serupa juga dapat diperoleh dari berbagai permainan tradisional lain yang melibatkan gerak, komunikasi, dan interaksi langsung.
Di tengah penggunaan teknologi yang semakin sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, permainan tradisional dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga kedekatan antara orang tua dan anak. Anak tentu tetap perlu mengenal perkembangan zaman, tetapi penggunaan teknologi perlu diimbangi dengan komunikasi yang hangat dan waktu bermain bersama. Tidak ada aplikasi yang mampu menggantikan pelukan orang tua, percakapan sebelum tidur, ataupun tawa yang tercipta ketika bermain bersama.
Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan perayaan yang meriah hanya setiap 23 Juli. Mereka membutuhkan orang tua yang hadir setiap hari, bersedia mendengarkan, mengajak berdialog, serta menemani proses tumbuh kembang mereka. Sebab, dari rumah yang dipenuhi komunikasi dan kebersamaan itulah akan lahir generasi yang percaya diri, peduli, dan siap menghadapi masa depan.
Editor : Baskoro Septiadi