Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kopi, Cicilan, dan Pura-Pura Bahagia

Iskandar • Senin, 8 Juni 2026 | 17:49 WIB
Iskandar
Iskandar

 

Oleh: Iskandar, Jurnalis Radar Semarang

RADARSEMARANG.ID - NAMANYA Daniel. Usianya masih cukup muda: 40 tahun. Jabatannya manajer di sebuah perusahaan kondang di Semarang. Barang-barang yang dipakainya branded. Kemeja, kaos, gadget, sepatu, semuanya branded. Sampai ke pakaian dalamnya, mungkin juga branded. Anaknya dua. Keluarganya tampak harmonis. Sering healing, ke luar kota, ngafe, jalan-jalan ke mal, dan kerap nonton konser. 

Kalau dilihat sekilas, hidupnya tampak baik-baik saja. Sore itu, Daniel memenuhi undangan saya untuk sekadar ngopi di dekat kantornya di seputar Pleburan. Ia berkeluh kesah. Sudah setahun ini, gajinya tak naik. Pendapatannya segitu-segitus aja. “Tapi harga-harga semua naik, ini yang bikin kepala saya pusing,” ucapnya, sembari mengepulkan asap rokok mild-nya. Lantas, ia tertawa kecil. Tawa khas orang yang sebenarnya sedang lelah.

Sebagai kelas menengah, Daniel merasa berada di posisi yang serba tanggung. Tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan pemerintah. Tapi juga tidak cukup kuat menghadapi kenaikan biaya hidup yang datang bertubi-tubi. Pajak mobilnya bahkan sudah nunggak dua tahun. Tabungannya makin tipis karena terus dipakai menambal kebutuhan rumah tangga. Biaya sekolah anak naik. Harga bahan pokok naik. Tagihan listrik naik. Belum lagi tekanan pekerjaan yang makin berat.

“Tapi ya gimana,” katanya lagi. “Kalau enggak ngopi atau keluar sebentar, rasanya kepala mau pecah.”

Saya lirik sepatunya. Sepatu running terbaru berlogo centang. “Nyicil kartu kredit,” ucapnya sebelum saya tanya harganya. Bagi Daniel, duduk berjam-jam di kafe sambil minum kopi, bukan lagi soal gaya hidup. Itu cara paling sederhana untuk bertahan waras. Pergi ke mal seminggu sekali bukan karena hidupnya berlebih. Tapi karena ia butuh ruang untuk melupakan tekanan hidup barang sebentar. Dan ternyata, Daniel jelas bukan satu-satunya.

Hari ini kita lihat atau baca di medsos konser-konser musik dipenuhi ribuan penonton, kafe tetap ramai, pusat perbelanjaan tetap sesak. Di media sosial, orang-orang masih tampak bahagia. Masih ada yang membeli sepatu mahal, menonton konser, staycation, atau berburu kopi kekinian.

Lalu, sebagian pejabat negara membaca semua itu sebagai tanda bahwa ekonomi Indonesia masih baik-baik saja. “Kalau ekonomi susah, kenapa konser penuh?” “Kalau rakyat tertekan, kenapa mal ramai?” Narasi seperti itu terus diulang. Bahkan ketika nilai dolar terus merangkak naik (terkini sudah Rp 18.000) dan tekanan ekonomi mulai terasa, masih ada statemen yang terdengar jauh dari kenyataan rakyat. Seolah-olah selama kafe, mal masih ramai dan konser masih dipenuhi penonton, berarti masyarakat tidak sedang kesulitan. Padahal belum tentu begitu.

Fenomena ini sebenarnya sudah lama dijelaskan dalam teori yang dikenal sebagai lipstick effect. Istilah ini dipopulerkan oleh Leonard Lauder, mantan CEO perusahaan kosmetik Estée Lauder, pada awal 2000-an. Fenomena lipstick effect adalah teori dalam ekonomi dan perilaku konsumen yang menjelaskan bahwa ketika kondisi ekonomi sedang lesu, masyarakat justru tetap membeli barang atau pengalaman yang memberi rasa senang, hiburan, atau “kemewahan kecil” sebagai pelarian psikologis dari tekanan hidup.

Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan produk kecantikan, tapi juga mencerminkan dinamika psikologi konsumen. Saat merasa stres atau tertekan, seseorang akan cenderung mencari cara untuk merasa lebih baik. Membeli barang-barang kecil dapat memberikan rasa senang yang dibutuhkan.

Bisa dibilang lipstick effect menjadi cara seseorang agar tetap bisa mendapatkan kebahagiaan ketika menghadapi ketidakpastian ekonomi. Jika digali lebih jauh lagi, lipstick effect juga menunjukkan kekuatan industri kosmetik dalam beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen.

Ia melihat bahwa saat ekonomi sedang buruk, orang justru tetap membeli “kemewahan kecil” untuk menghibur diri. Ketika tidak mampu membeli rumah, mobil, atau liburan mahal, orang mencari pelarian yang masih bisa dijangkau: lipstik, kopi, nongkrong, konser, atau barang-barang kecil yang memberi rasa bahagia sesaat. Jadi, ramainya tempat hiburan tidak selalu berarti ekonomi sehat. Kadang justru itu tanda bahwa masyarakat sedang mencari ruang bernapas di tengah tekanan hidup yang makin sempit.

Orang-orang seperti Daniel tetap membeli kopi bukan karena dompet mereka aman. Tapi karena hidup terasa terlalu berat jika dijalani tanpa jeda. Mereka tetap nongkrong karena itu mungkin satu-satunya hiburan yang masih bisa mereka beli. Mereka membeli sepatu running mahal dengan cicilan bukan karena kaya, tetapi karena ada rasa ingin tetap merasa “hidup” di tengah rutinitas yang melelahkan.

Masalahnya, ketika elite negara gagal memahami fenomena ini, yang muncul adalah kesimpulan yang keliru. Keramaian dianggap bukti kesejahteraan. Padahal, bisa jadi yang ramai itu justru orang-orang yang sedang menahan cemas. Di titik inilah teori lipstick effect sering disalahpahami atau bahkan dipelintir. 

Kelas menengah hari ini banyak yang hidup di situasi seperti Daniel: gaji tetap, pengeluaran naik, tabungan tergerus, tetapi tetap berusaha terlihat normal. Mereka tersenyum di kafe, padahal diam-diam memikirkan cicilan. Mereka datang ke konser, tetapi pulang dengan rasa khawatir tentang biaya hidup bulan depan.

Dan ini yang berbahaya.

Masalahnya, jika pemerintah dan para elite terus membaca keramaian hiburan sebagai bukti ekonomi aman, mereka bisa gagal melihat kecemasan yang sebenarnya sedang tumbuh diam-diam di masyarakat. Sebab, di balik ramainya pusat hiburan, ada daya beli yang mulai rapuh, utang konsumtif yang meningkat, generasi muda yang kehilangan rasa aman finansial, dan kelas menengah yang perlahan turun kelas.

Inilah bahanya, karena ketika masyarakat terus dipaksa terlihat “baik-baik saja”, sementara tekanan ekonomi terus menumpuk, situasi itu bisa menjadi bom waktu sosial. Orang mungkin masih bisa membeli kopi hari ini, tetapi belum tentu mampu membeli rumah. Masih bisa menonton konser, tetapi mulai kesulitan menabung. Masih tampak bahagia di Instagram, tetapi diam-diam cemas memikirkan biaya sekolah, cicilan, dan masa depan.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar narasi optimisme, melainkan kejujuran dan empati. Pemerintah perlu berhenti menilai kesehatan ekonomi hanya dari keramaian mal atau konser. Ukuran ekonomi rakyat seharusnya dilihat dari kemampuan memenuhi kebutuhan pokok, kestabilan pekerjaan, akses pendidikan dan kesehatan, serta rasa aman masyarakat terhadap masa depannya.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu mulai membangun kesadaran finansial yang lebih sehat. Hiburan memang penting untuk menjaga kewarasan. Namun jangan sampai menjadi pelarian yang justru memperdalam masalah ekonomi pribadi. Menikmati hidup tidak salah. Tetapi keseimbangan tetap diperlukan: antara kebutuhan emosional dan kesiapan menghadapi masa depan.

Sebab bangsa yang sehat, bukan bangsa yang paling ramai konsernya, melainkan bangsa yang rakyatnya bisa hidup tenang tanpa harus pura-pura bahagia di tengah ketidakpastian.

Karena jika kondisi seperti ini terus berlangsung, sementara negara sibuk membangun kesan bahwa semuanya baik-baik saja, kita bisa sedang berjalan menuju bom waktu sosial. Orang mungkin masih bisa membeli kopi hari ini, tetapi kehilangan rasa aman untuk masa depannya. Masih bisa nongkrong di mal, tetapi tidak lagi yakin bisa membeli rumah atau menyekolahkan anak dengan tenang beberapa tahun ke depan.

Ekonomi yang sehat bukan sekadar soal mal ramai atau konser penuh. Ukurannya jauh lebih sederhana: apakah rakyat bisa hidup tenang tanpa rasa takut menghadapi besok pagi. Mungkin itu sebabnya cerita Daniel terasa begitu dekat dengan banyak orang hari ini. Sebab di tengah segala keramaian dan tawa di media sosial, diam-diam banyak orang sebenarnya hanya sedang berusaha bertahan. Seperti Daniel, dan juga…saya. Wassalam. (*)

Editor : Baskoro Septiadi
#KOPI