Oleh: Mohammad Royan Albarr Pamungkas
RADARSEMARANG.ID - Dinamika Keamaman Nasional pada era globalisasi berkembang secara signifikan, mulai dari permasalahan bilateral antar instrumen negara, masalah keamanan pangan, dan isu kekerasan yang disebabkan oleh kelompok kriminal yang ada di negara.
Meksiko merupakan salah satu negara yang terkenal dengan tingginya tingkat kasus kekerasan, terutama akibat banyaknya aktivitas kartel narkoba. Permasalahan kekerasan di negara ini meliputi pembunuhan massal, perdagangan narkoba, dan segala bentuk kekerasan lainnya.
Permasalahan yang disebabkan oleh akitivitas kartel narkoba tersebut selalu menjadi visi misi hingga agenda yang dijanjikan untuk segera diselesaikan setiap calon presiden Meksiko yang akan mengikuti kontestasi pemilu.
Begitu pula Andrés Manuel López Obrador sebagai calon presiden Meksiko yang identik dengan strateginya yaitu "Abrazos no Balazos" atau diartikan sebagi pelukan bukan tembakan guna mengatasi akar masalah yang disebabkan oleh Kartel Narkoba kususunya di negara Meksiko.
Andrés Manuel López Obrador atau yang kerap di sapa AMLO, akhirnya menjadi presiden Meksiko terpilih yang dilantik pada 1 Desember 2018 silam. Sebelum menjadi Presiden Meksiko, AMLO merupakan seorang politikus sayap kiri Meksiko yang dikenal sebagai pemimpin gerakan Progresif serta pendiri parati Morena (Moviemiento Regeneración Nacional).
Dikenal sebagai pemimpin dengan sikap anti-korupsinya, AMLO akhirnya memenangkan pemilihan Presiden tahun 2018 dengan menjanjikan Reformasi besar-besaran.
Termasuk mengatasi masalah kemiskinan, melawan korupsi, mengurangi kekerasan, dan memperbaiki stabilitas keamanan di negara Meksiko.
Akan tetapi kurang genap sebulan masa jabatanya yang berakhir pada 30 September 2024, AMLO dihadapkan pada kejutan besar dengan muculnya konflik yang terjadi antara kartel narkoba di wilayah Sinaloa Meksiko pada awal Septemeber 2024.
Konflik tersebut tentunya menjadikan timbul rasa kecewa masyarakat dan memperumit warisan pemerintahanya, yang sejak awal berkomitmen untuk mengurangi kekerasan dan memperbaiki stabilitas keamanan di negara Meksiko.
Konflik yang terjadi antar kelompok kartel narkoba di wilayah Sinaloa Meksiko menyebabkan banyakanya korban tewas hingga hilang karena konflik tersebut. Seperti yang diberitakan oleh Tempo.Co pada sabtu 21 September 2024, sebanyak 53 orang yang dinyatakan tewas dan 51 orang lainya dilaporkan hilang di negara bagian wilayah Sinaloa bagian barat Meksiko sejak terjadinya konflik pada awal September di wikayah tersebut.
Konflik tersebut bermula pada saat terjadinya penculikan pemipin Kartel Sinaloa, yaitu Ismael Zambada “El Mayo” pada Juli 2024. El Mayo menuding bahwasanya ada kartel lain yang membantu proses penculikanya yaitu kartel Los Chitos yang dilakukan bersama dengan pihak Amerika Serikat. Sejak adanya konflik tersebut mobilitas masyarakat di wilayah Sinaloa menjadi terganggu seperti banyaknya toko hingga sekolahan terpaksa untuk tutup karena situasi yang tidak kondusif.
Konflik antar kartel Narkoba Meksiko tersebut dibenarkan oleh Gubernur Sinaloa Ruben Rocha Moya, kemudian Ruben merespon keadaan tersebut dengan menyatakan bahwasanya sebanyak 40 orang yang terlibat dalam konflik tersebut telah di tangkap dan sebanyak ribuan paket makanan sudah di bagikan di seluruh wilayah Sinaloa yang terdampak konflik tersebut.
Mengkutip dari CNN, Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador mengatakan pada kamis 19 September 2024, bahwasanya "Amerika Serikat ikut bertanggung jawab atas terjadinya konflik tersebut karena mereka yang melaksanakan operasi tersebut,".
Sementara itu pihak Amerika Serikat melalui Dubes AS, Ken Salazar mengonfirmasi bahwasanya membantah keterlibatan pejabat AS dalam dugaan penculikan Zambada dan menolak statment dari Presiden Meksiko.
“Apa yang terjadi di Sinaloa bukanlah kesalahan Amerika Serikat dan Amerika Serikat tidak bisa diminta pertanggungjawaban atas pembantaian yang terjadi di berbagai tempat” ujar Salazar dalam konferensi pers di Chihuahua 21 September 2024, Reuters.
Dalam realitanya banyak sekali yang menyatakan bahwasanya AMLO gagal menerapakan strategi ‘Abrazos no Balazos’ yang mempunyai makna pelukan bukan tembakan yang dilontarkan saat dirinya terpilih menjadi presiden Meksiko pada tahun 2018 silam, guna merespon masalah kekerasan yang disebabkan oleh Kartel Narkoba di Meksiko.
Meskipun Andrés Manuel López Obrador berupaya menghadirkan pendekatan damai dengan strategi "Abrazos no Balazos," realita di lapangan menunjukkan bahwa kekerasan kartel tetap tidak terkontrol. Hal tersebut menyimpulkan bahwasanya strategi tersebut naif dan tidak efektif dalam menghadapi kekuatan brutal kartel narkoba, yang telah mengakar kuat di Meksiko.
Lonjakan angka kekerasan, termasuk pembunuhan dan orang hilang menunjukkan bahwa pendekatan tanpa konfrontasi langsung terhadap kartel justru memberi ruang bagi mereka untuk terus beroperasi tanpa hambatan signifikan, merongrong stabilitas sosial dan keamanan negara. Kemudian ditambah, penjelasan dari Al Jazeera, lonjakan pembunuhan yang mempunyai spesifikasi terhadap perempuan yang terjadi dalam konteks kekerasan umum.
Dalam kurun waktu empat setengah tahun pertama masa jabatan AMLO, Meksiko mencatat 160.549 pembunuhan, sementara perkiraan jumlah orang hilang kini telah melampaui 111.000, angka kekerasan tersebut diduga banyak dilakukan oleh kartel Narkoba Meksiko yang selama ini masih terus menajdi akar permasalahn kekerasan di negara tersebut.
Di masa akhir kepemimpinannya, AMLO seharusnya lebih tegas dalam menangani konflik antar kartel narkoba yang masih menjadi ancaman besar bagi keamanan Meksiko sejak dulu. Meski strategi "Abrazos no Balazos" difokuskan pada pendekatan yang damai, kenyataannya justru kekerasan di Meksiko semakin merajalela.
Seharusnya, AMLO memperkuat penegakan hukum dan meningkatkan koordinasi dengan otoritas internasional untuk memberantas kartel secara lebih efektif. Ini sangatlah penting untuk mengurangi kekerasan dan mengembalikan kepercayaan masyarakat publik menjelang akhir masa jabatannya. (nun/web/bas)
Mahasiswa S1/Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia
Editor : Baskoro Septiadi