Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Eksistensi Pendidikan Seni Terhadap Representasi Pemenuhan Anak-Anak Disabilitas

Tasropi • Senin, 12 Februari 2024 | 20:27 WIB

 

Dr. Nur Fajrie, M.Pd.
Dr. Nur Fajrie, M.Pd.

RADARSEMARANG.ID, PERSOALAN kelompok minoritas khususnya penyandang disabilitas adalah fenomena sosial, ekonomi, dan budaya yang melekat pada cara pandang masyarakat.

Pemenuhan kebutuhan disabilitas saat ini menjadi isu dan pembahasan yang sering dibahas oleh berbagai kajian disiplin bahkan multidisiplin.

Seperti halnya pemenuhan anak - anak disabilitas yang saat ini dikaitkan dengan konsep inklusif dalam bidang pendidikan.'

Baca Juga: Pendidikan Inklusif di Sekolah Dasar

Saat ini pendidikan di Indonesia untuk anak-anak disabilitas dalam ruang lingkup pendidikan dirancang dan diterapkan di sekolah-sekolah yang ditunjuk untuk menangani program inklusi.

Tidak banyak lembaga pendidikan seperti sekolah-sekolah yang menerapkan program inklusi, bahkan pemenuhan sumber daya pengajar dan pendidik (guru) mengalami keterbatasan sarana maupun prasarana dalam pembelajaran bagi siswa disabilitas.

Bahkan peran orang tua disabilitas mengalami kendala penanganan pendidikan dan pelayanan pendidikan dilingkungan keluarga.

Filosofi pendidikan inklusi adalah memberikan kesempatan sama (equality) dan memanusiakan terhadap perlakuan dengan kebutuhan yang berbeda (equity).

Hal tersebut menjadi landasan teoritis dan empiris dalam menangani pemenuhan kehidupan terhadap keberadaan disabilitas.

Kajian pendidikan seni saat ini telah mendekatkan pemenuhan pembelajaran untuk anak disabilitas dengan pendekatan estetis pada proses aktualisasi diri.

Menariknya, fungsi pendidikan seni dapat memberikan dimensi sosial-emosional yang berbeda dalam jenis dan metode proses berkarya seni.

Harapan dan dampak nyata dari pendekatan seni menunjukkan pergeseran budaya sebagai agensi perubahan dari paradigma pembelajaran untuk melayani pengembangan bakat dan minat anak disabilitas.

Di berbagai negara-negara telah menerapkan pendidikan seni untuk anak disabilitas dapat menciptakan karya seni yang mirip dengan seni kontemporer.

Modalitas estetis anak-anak disabilitas memberikan pemaknaan atas pengalaman seni yang terbatas pada dogmatis.

Justru adanya berbagai hasil karya yang diciptakan anak-anak disabilitas dalam berkarya seni mampu mewujudkan sensasi-sensasi dari kepekaan indrawi atau keterbatasan fisik maupun psikis dalam representasi kedalaman batiniah.

Salah satu contoh konkret dalam studi pendidikan seni mampu membantu menangani berbagai persoalan kesehatan dan perawatan sosial.

Di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat pelaksanaan operasional seni anak masuk dalam penerapan terapi seni yang membantu tenaga psikologi dan dokter menemukan diagnosis dan gejala permasalahan emosional maupun hambatan fisik anak-anak disabilitas.

Bahkan ada lembaga resmi dari pemerintah yang ditunjuk untuk mengembangkan model dan metode klinis seperti contohnya adanya organisasi yaitu National Health Service (NHS).

Kehadiran pihak pemerintah melalui peran aktif membangun keberlanjutan generasi bangsa yang salah satunya dari kelompok anak-anak disabilitas untuk memperlakukan secara adil dan merata.

Pendekatan pendidikan seni seperti halnya metode seni disabilitas dapat merangkum tiga manfaat dan berkontribusi dalam pembangunan SDM berbasis Sustainable Development Goals (SDGs).

Potensi seni dan budaya di negara Indonesia yang memiliki kekayaan kebudayaan secara turun-menurun berkontribusi menciptakan kepribadian generasi bangsa yang hakiki.

Pemanfaatan pendekatan seni memberikan manfaat sebagai;

1) media komunikasi

2) media kreativitas

3) media ekspresi

4) media berprestasi (aktualisasi diri) dan

5) prosesi katarsis.

Kesimpulan dari penerapan pendekatan seni untuk anak-anak disabilitas memberikan haknya sebagai bagian dari warga negara yang diangkat dan dihindarkan dari stigmatisasi sosial.

Harapan dengan pendekatan seni sebagai pemberdayaan sosial dan pembelajaran khusus dapat menghilangkan ketidakmampuan (discredit stigma) maupun potensi yang direndahkan (discreditable stigma) dalam masyarakat saat ini.

Fungsionalisasi pendidikan dalam pembelajaran seni memberikan kebermaknaan hidup (disclosive) sebagai persepsi baru tentang eksistensial terhadap realitas (heraldic) untuk penyingkap dari kompleksitas persoalan disabilitas menjadi simbol-simbol kemanusiaan.

Lingkungan masyarakat secara luas dapat mengapresiasi, memberikan dukungan berupa simpati bahkan empati terhadap kelompok anak-anak disabilitas yang membutuhkan keberadaan hidup mereka. (*)

 

Oleh: Dr. Nur Fajrie, M.Pd.

Dosen di Program Studi Magister Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus dan Peneliti Seni dan Disabilitas (Art and Disability)

Editor : Tasropi
#Nur Fajrie #universitas muria kudus #Anak Disabilitas #Paradigma Pembelajaran #Aktualisasi Diri