RADARSEMARANG.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah dugaan keracunan makanan terjadi di sejumlah daerah sepanjang 2026. Dari Semarang, Jayapura, Bogor, Sidoarjo, Rembang, Cilacap dan terbaru di Kecamatan Bawang, Batang, laporan gangguan kesehatan muncul setelah penerima manfaat mengonsumsi makanan yang disediakan melalui program tersebut.
Rentetan kejadian itu membuat persoalan keamanan pangan menjadi salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan MBG. Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri menyebut ketidakpatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) menjadi faktor dominan dalam sejumlah kasus yang telah dievaluasi.
Baca Juga: Mual hingga Pusing Setelah Makan MBG, Ini Menu yang Dikonsumsi Ratusan Siswa di Bawang Batang
Data Korban Keracunan MBG 2026 Berbeda Menurut Sumber
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 2.144 korban dugaan keracunan MBG sepanjang Januari hingga April 2026.
Data tersebut berasal dari pemantauan pemberitaan media dan hasil penelusuran KPAI terhadap sejumlah kasus. Faktor yang disebut antara lain kontaminasi bakteri, bahan makanan yang tidak segar, serta proses pembekuan makanan yang tidak sempurna.
Sementara itu, data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang dihimpun hingga Agustus 2026 mencatat total 15.735 korban. Khusus Agustus, JPPI mencatat 3.079 korban.
Perbedaan angka ini menunjukkan pentingnya menggunakan sumber data dengan batas waktu dan metode yang jelas ketika membahas kasus keracunan MBG.
Angka lain disampaikan Kepala BGN Sudaryono dalam rapat bersama Komisi IX DPR pada awal September. BGN mencatat 5.482 korban dalam 71 kejadian yang berasal dari makanan yang diproduksi 62 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sejak 22 Juli 2026. Menurut BGN, lebih dari 80 persen kasus yang dievaluasi berkaitan dengan pelanggaran SOP.
Dengan demikian, angka-angka tersebut sebaiknya dibaca sebagai data dari sumber dan periode berbeda, bukan sebagai angka yang dapat dijumlahkan menjadi satu total nasional.
Semarang Jadi Salah Satu Kasus Besar pada 2026
Salah satu kasus yang mendapat perhatian terjadi di SMK Negeri 6 Semarang pada akhir Juli 2026.
Dinas Kesehatan Kota Semarang melaporkan 707 orang, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru, diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG pada 31 Juli. Keluhan yang dilaporkan antara lain pusing, mual, muntah, dan diare.
Kasus tersebut kemudian menjadi bagian dari penyelidikan terhadap keamanan makanan yang diproduksi dan didistribusikan melalui SPPG.
Pada awal Agustus, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga mengungkap adanya temuan bakteri E. coli dalam pemeriksaan terkait kasus MBG di Papua dan Semarang. Kemenkes menyatakan terdapat beberapa makanan yang teridentifikasi mengandung bakteri tersebut.
Baca Juga: Ratusan Siswa TK, SD Sampai Lansia di Bawang Batang Diduga Keracunan Usai Makan MBG
Kasus Juga Terjadi di Jayapura dan Bogor
Di Jayapura, BGN menyatakan telah mencopot kepala SPPG setelah insiden keracunan MBG di Distrik Depapre. Berdasarkan investigasi awal BGN, makanan dimasak terlalu dini sehingga terdapat jarak waktu yang panjang antara proses memasak dan konsumsi.
Sementara di Bogor, 25 siswa dan guru di Desa Ciherang dilaporkan mengalami keluhan setelah menyantap menu MBG pada 6 Agustus. Korban mengalami antara lain mual, muntah, diare, sakit perut, dan sakit kepala.
September, Kasus Kembali Muncul di Sejumlah Daerah
Memasuki September, laporan dugaan keracunan MBG kembali muncul secara beruntun.
Di Sidoarjo, jumlah korban dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG dilaporkan mencapai 730 orang per 3 September. Dari jumlah tersebut, 23 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit pada saat data tersebut dilaporkan.
Pada periode yang hampir bersamaan, laporan dugaan gangguan kesehatan juga muncul di Rembang, Nganjuk, Agam, dan sejumlah wilayah lain. ABC Indonesia, mengutip data pemerintah daerah dan laporan anggota DPR, menyebut lebih dari 1.700 siswa dan guru diduga terdampak dalam sejumlah kejadian pada awal September.
Bahkan, analisis isu publik Kementerian Kesehatan untuk periode 4–11 September menyebut krisis keracunan MBG menjadi salah satu isu kesehatan yang dominan dalam pemberitaan, dengan penyebaran isu di sejumlah daerah seperti Bengkulu, Karo, Pati, Rembang, dan Blora.
Penyebab Keracunan Tidak Selalu Sama
Sejumlah pemeriksaan menunjukkan bahwa penyebab gangguan kesehatan dalam kasus MBG tidak dapat digeneralisasi menjadi satu faktor.
Kemenkes menemukan E. coli pada sejumlah sampel dalam kasus Papua dan Semarang. Di sisi lain, BGN menyebut adanya persoalan waktu memasak dan distribusi yang terlalu panjang dalam kasus Jayapura. KPAI juga mencatat faktor lain seperti kualitas bahan baku dan proses pembekuan makanan.
Karena itu, setiap kasus tetap memerlukan pemeriksaan epidemiologi dan laboratorium untuk menentukan penyebabnya. Istilah "diduga keracunan" juga penting digunakan sampai hasil investigasi memastikan penyebab gangguan kesehatan.
Kasus Terbaru Keracunan Diduga Usai Santap MBG
Kasus terbaru dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Ratusan korban mulai dari siswa TK, SD hingga lansia terpaksa dilarikan ke pelayanan kesehatan terdekat karena mengalami keracunan yang diduga usai mengkonsumsi MBG.
Kasus ini menambah panjang daftar kejadian yang muncul setelah pelaksanaan program MBG di berbagai wilayah Indonesia.
Editor : Baskoro Septiadi