RADARSEMARANG.ID, Semarang — Provinsi Jawa Tengah kini berada dalam status waspada tinggi menyusul lonjakan drastis kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat, sejak 1 Januari hingga 23 Agustus 2026, telah terjadi 232 kejadian karhutla di wilayah ini. Angka tersebut mencerminkan kenaikan ekstrem hingga 700 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh cuaca musim kemarau yang jauh lebih panas dan kering. "Kebakaran hutan dan lahan memang terjadi di beberapa tempat. Kemarin saya menerima laporan langsung dari Wonogiri dan Kudus," ujarnya setelah mendampingi Gubernur Ahmad Luthfi di Grhadika Bhakti Praja, Semarang.
Taj Yasin mengimbau keras masyarakat untuk menghentikan kebiasaan ceroboh yang memicu api. Salah satunya adalah tidak membuang puntung rokok sembarangan di area kering, mengingat dampaknya yang bisa langsung memicu kebakaran besar.
Baca Juga: Demo 27 Agustus di DPR, Ini Tuntutan Rakyat
Kepala BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, memaparkan bahwa tren karhutla mulai melonjak tajam sejak memasuki bulan Juni, Juli, dan Agustus. Secara keseluruhan, BPBD mencatat ada 547 total kejadian kebakaran di Jateng, yang terdiri dari 232 karhutla dan 315 kebakaran gedung atau permukiman.
Dampak dari 232 kasus karhutla ini sangat signifikan, meliputi:
- 213 hektare hutan hangus terbakar.
- 194 hektare lahan masyarakat rusak dilalap api.
- 2,17 hektare area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ikut terbakar.
- Rp23 miliar total estimasi nilai kerusakan materiil.
Menurut data BPBD, 232 kasus karhutla ini tersebar di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Mayoritas kebakaran didominasi oleh lahan pertanian, khususnya perkebunan tebu dan area semak belukar. Faktor kelalaian manusia (human error) menjadi penyebab utama, terutama kebiasaan membakar serasah atau sampah sisa daun tebu saat masa panen tiba.
Sepuluh daerah dengan frekuensi karhutla tertinggi di Jawa Tengah saat ini dipimpin oleh Kabupaten Klaten dengan 31 kejadian, disusul Sragen (30), Sukoharjo (18), Wonogiri (17), Boyolali (16), Blora (14), Kabupaten Semarang (13), Banyumas (10), Kudus (10), dan Kota Tegal (8). Pemerintah daerah kini memperketat pengawasan di wilayah-wilayah rawan tersebut untuk mencegah perluasan dampak kebakaran.
Editor : Miftahul A’la