RADARSEMARANG.ID – Gerhana Matahari total yang akan terjadi pada 12 Agustus 2026 diprediksi menjadi salah satu fenomena langit paling menarik tahun ini. Peristiwa tersebut bukan hanya menghadirkan suasana siang yang mendadak berubah gelap, tetapi juga membuka kesempatan langka bagi pengamat untuk melihat korona Matahari secara langsung.
Korona merupakan lapisan atmosfer terluar Matahari yang biasanya tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Saat kondisi normal, cahaya dari permukaan Matahari atau fotosfer jauh lebih terang sehingga menutupi cahaya korona.
Situasi berbeda terjadi ketika gerhana Matahari mencapai fase total. Bulan akan berada tepat di antara Bumi dan Matahari sehingga piringan terang Matahari tertutup. Dalam beberapa menit yang sangat singkat itu, korona yang biasanya tersembunyi dapat muncul mengelilingi siluet gelap Bulan.
Seperti dikutip dari Space, Senin (10/8/2026), setiap gerhana Matahari total menghadirkan bentuk korona yang berbeda. Struktur putih yang tampak menjulur dari balik Bulan merupakan gambaran aktivitas Matahari pada saat tertentu.
Korona sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti "mahkota". Sebutan tersebut merujuk pada bentuk atmosfer luar Matahari yang terlihat seperti mahkota bercahaya ketika piringan Matahari tertutup sempurna.
Yang membuat fenomena ini semakin menarik adalah bentuk korona tidak pernah benar-benar sama. Struktur tersebut dipengaruhi oleh medan magnet Matahari yang terus berubah.
Baca Juga: Bansos Agustus 2026 Kapan Cair? Ini Daftar Lengkap Penerima dan Cara Ceknya
Karena itu, penampakan korona pada gerhana Matahari total 12 Agustus 2026 akan menjadi semacam potret kondisi Matahari pada satu titik waktu yang sangat spesifik.
NASA juga menjelaskan bahwa korona merupakan bagian dari atmosfer Matahari yang dapat terlihat ketika piringan terang Matahari tertutup selama totalitas.
Kondisi tersebut sekaligus memberikan kesempatan bagi ilmuwan untuk mempelajari dinamika Matahari dari sudut pandang yang sulit diperoleh dalam kondisi biasa.
Aktivitas magnetik Matahari menjadi salah satu faktor utama yang menentukan seperti apa bentuk korona ketika gerhana berlangsung. Ketika aktivitas Matahari tinggi, struktur korona cenderung lebih rumit. Lengkungan dan aliran plasma dapat terlihat menjulur ke berbagai arah mengikuti konfigurasi medan magnet.
Sebaliknya, ketika aktivitas Matahari rendah, korona umumnya memiliki struktur yang lebih sederhana dan relatif simetris. Gerhana Matahari total pada 12 Agustus 2026 menjadi menarik karena terjadi ketika Matahari masih berada dalam fase aktif Siklus Matahari 25.
NASA menyebut setiap gerhana total memberikan kesempatan baru untuk mempelajari korona dan pengaruh Matahari terhadap lingkungan Bumi.
Namun, bentuk korona yang akan terlihat pada hari-H belum bisa dipastikan secara tepat. Kondisinya sangat bergantung pada aktivitas magnetik Matahari menjelang terjadinya gerhana, termasuk keberadaan kelompok bintik Matahari, perubahan medan magnet, prominensa, hingga kemungkinan munculnya aktivitas Matahari lainnya.
Ryan French, fisikawan Matahari dan komunikator sains di Laboratory for Atmospheric and Space Physics (LASP), mengatakan kondisi tersebut membuat penampakan korona sulit diprediksi secara pasti.
"Apa yang sebenarnya kita lihat selama gerhana Agustus akan bergantung pada seperti apa aktivitas Matahari pada pekan tersebut," kata French.
Dengan kata lain, bentuk korona yang sudah dibayangkan dari simulasi atau pengamatan sebelumnya belum tentu sama dengan apa yang nantinya terlihat pada 12 Agustus. Matahari dapat berubah dalam hitungan hari sehingga konfigurasi medan magnet yang menentukan struktur korona juga dapat berubah.
Baca Juga: Terungkap! Lilis Nuryani Jadi Bupati Terkaya di Jawa Tengah, Hartanya Tembus Rp138,2 Miliar
Selain korona, pengamat yang berada di jalur totalitas juga berpeluang melihat prominensa. Fenomena ini dapat tampak sebagai struktur berwarna merah muda atau kemerahan di sekitar tepi siluet Bulan.
Prominensa merupakan struktur plasma yang terkait dengan medan magnet Matahari. Dalam kondisi gerhana total, bagian tersebut dapat terlihat jauh lebih jelas karena cahaya terang dari fotosfer telah tertutup oleh Bulan.
Gerhana Matahari total juga menghadirkan sejumlah fenomena visual lain. Menjelang totalitas, misalnya, perubahan cahaya dapat berlangsung cepat. Setelah piringan Matahari tertutup sepenuhnya, langit menjadi jauh lebih gelap dan korona muncul sebagai objek paling menonjol di sekitar Bulan.
NASA mencatat totalitas pada sebagian besar lokasi di jalur gerhana akan berlangsung kurang dari dua menit. Di sejumlah lokasi yang berada dekat garis tengah jalur gerhana, durasinya dapat sedikit lebih lama, tetapi tetap kurang dari dua setengah menit.
Singkatnya waktu totalitas tersebut membuat setiap detik menjadi penting bagi pengamat. Begitu Bulan mulai bergerak menjauh dari posisi yang menutupi seluruh piringan Matahari, cahaya fotosfer kembali muncul dan korona perlahan tidak lagi dapat dilihat dengan jelas.
Baca Juga: Resmi Turun! Harga BBM Pertamina Berubah, Cek Daftar Terbaru Berlaku Agustus 2026
Jalur totalitas gerhana Matahari 12 Agustus 2026 akan membentang dari wilayah utara Rusia, melewati Greenland dan Islandia, kemudian melintasi Atlantik Utara menuju Spanyol serta sebagian kecil Portugal. Di luar jalur totalitas tersebut, sejumlah wilayah di Eropa, Afrika, Amerika Utara, serta kawasan Atlantik dan Arktik akan mengalami gerhana Matahari sebagian.
Di Reykjavik, Islandia, misalnya, fase totalitas dijadwalkan berlangsung pada sore hari waktu setempat. Sementara di sejumlah wilayah Spanyol, gerhana total terjadi menjelang matahari terbenam.
Kondisi tersebut membuat fenomena ini berpotensi menghadirkan pemandangan langit yang berbeda dibandingkan lokasi lain di sepanjang jalur gerhana.
Bagi dunia sains, gerhana ini bukan hanya tontonan langit. NASA bahkan menyiapkan sejumlah kegiatan penelitian untuk memanfaatkan momen singkat ketika korona terlihat.
Salah satunya adalah penggunaan pesawat penelitian WB-57 pada ketinggian tinggi untuk mengejar bayangan Bulan dan mempelajari dinamika korona Matahari.
Penelitian lain juga akan mengamati perubahan atmosfer Bumi ketika siang hari tiba-tiba mengalami penggelapan akibat bayangan Bulan. Tim yang didukung NASA akan menggunakan balon ilmiah di Islandia dan Spanyol untuk mempelajari perubahan atmosfer sebelum, selama, dan setelah gerhana.
Bagi masyarakat umum, daya tarik terbesar tetap berada pada momen totalitas. Ketika Bulan menutup seluruh piringan Matahari, suasana sekitar berubah dalam waktu singkat.
Namun, di balik fenomena gelapnya siang hari tersebut terdapat sesuatu yang jauh lebih langka, yakni kesempatan melihat korona Matahari tanpa harus menggunakan instrumen khusus untuk menutupi cahaya fotosfer.
Setiap gerhana total pada dasarnya menghadirkan konfigurasi korona yang berbeda. Posisi dan kekuatan medan magnet Matahari tidak pernah benar-benar identik, sehingga pola korona yang terlihat pada 12 Agustus 2026 tidak akan kembali dalam bentuk yang persis sama.
Baca Juga: Link Video 'Yank Uwes Yank' Masih Diburu Warganet, Polisi Bilang Begini
Itulah alasan gerhana Matahari total 12 Agustus 2026 bukan sekadar peristiwa ketika Bulan menutupi Matahari. Gerhana tersebut juga menjadi kesempatan untuk melihat kondisi atmosfer terluar Matahari pada satu momen tertentu dalam sejarah aktivitas Matahari.
Begitu totalitas berakhir dan cahaya Matahari kembali menyinari Bumi, struktur korona yang beberapa saat sebelumnya terlihat jelas akan menghilang. Konfigurasi yang disaksikan pengamat pada momen tersebut pun akan menjadi rekaman visual dari kondisi Matahari yang tidak akan pernah terulang persis sama.
Dengan jalur totalitas yang melewati Greenland, Islandia, Rusia bagian utara, Spanyol, dan sebagian kecil Portugal, gerhana Matahari total 12 Agustus 2026 menjadi salah satu fenomena astronomi yang layak diperhatikan.
Bukan hanya karena langit akan berubah gelap pada siang hari, tetapi karena dalam waktu kurang dari beberapa menit, manusia dapat menyaksikan "mahkota" Matahari yang biasanya tersembunyi dari pandangan.(dka)
Editor : Baskoro Septiadi