Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Siswa Baru Wajib Tahu! 5 Aturan Baru di MPLS Ramah 2026

Deka Yusuf Afandi • Selasa, 14 Juli 2026 | 11:04 WIB
Pembukaan MPLS Ramah 2026 oleh Kemendikdasmen
Pembukaan MPLS Ramah 2026 oleh Kemendikdasmen

 

RADARSEMARANG.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi memulai Tahun Ajaran 2026/2027 dengan meluncurkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026. Langkah strategis ini diambil guna memastikan seluruh siswa baru dapat mengawali proses pembelajaran di atmosfer akademik yang aman, nyaman, dan inklusif.

Bebas dari segala bentuk perpeloncoan maupun senioritas. Melalui kebijakan tersebut, pemerintah mengambil posisi tegas untuk mengikis habis ketakutan yang kerap membayangi tradisi penyambutan pelajar baru di sekolah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, saat memimpin upacara di SMK Negeri Dua Singosari Malang menekankan pentingnya menata masa depan sejak hari pertama sekolah.

Lembaga pendidikan berkewajiban membangun ekosistem yang bertindak sebagai rumah kedua bagi anak didik. Pemerintah berkomitmen memberikan layanan pendidikan bermutu secara merata tanpa memandang latar belakang ekonomi, tingkat kecerdasan intelektual, maupun keterbatasan fisik murid.

Baca Juga: Sarif Kakung Minta Akses Modal Usaha UMKM Dipermudah

Pelaksanaan orientasi tahun ini wajib menjadi ruang penumbuhan budaya saling menghormati dan menyayangi antara setiap insan yang menjadi bagian satuan Pendidikan di manapun berada .

Sekolah diarahkan untuk fokus menggali serta mengembangkan potensi unik setiap anak didik, ketimbang melanggengkan senioritas yang destruktif dan melahirkan ketakutan.

"MPLS Ramah ini juga menjadi momentum untuk menemukan, menggali, dan mengembangkan bakat anak-anak Indonesia. Pada dasarnya setiap anak Indonesia adalah anak yang hebat dengan potensi dan bakat yang mereka miliki," ujar Abdul Mu'ti. 

Apresiasi tinggi juga diberikan kepada para pendidik dan orang tua yang bersinergi dalam mengawal masa peralihan anak-anak mereka memasuki jenjang pendidikan baru.

Guna mempermudah transisi psikologis siswa, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, mendorong terciptanya adaptasi yang harmonis lewat bimbingan guru dan kehangatan kakak kelas. Pemerintah juga telah mendistribusikan buku rujukan khusus yang memuat berbagai alternatif program kreatif.

Buku Rujukan MPLS Ramah 2026 ini memuat berbagai contoh kegiatan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, mulai dari Salam Sapa Murid Baru, Upacara Bendera, Pagi Ceria, hingga pengenalan Delapan Dimensi Profil Lulusan .

Aktivitas pemantik kegembiraan seperti gerakan literasi lingkungan, pengenalan dimensi profil lulusan, hingga materi pencegahan bahaya narkoba dan judi menjadi pilar utama materi pembekalan.

"MPLS juga diisi dengan berbagai pencerahan yang berkaitan dengan bahaya penyalahgunaan narkoba, bahaya judi online," jelas Abdul Mu'ti saat membuka kegiatan di Malang .

Selain itu, materi tentang budaya disiplin, tanggung jawab, dan pembelajaran yang menyenangkan juga menjadi bagian penting dalam penguatan karakter siswa baru .

Baca Juga: Suhita Lebah Indonesia Berhasil Mengembangkan Usaha Madu Berkelanjutan Berbasis Komunitas melalui Pemberdayaan BRI

Penciptaan iklim pendidikan yang ramah anak ini selaras dengan arahan strategis Presiden yang telah ditegaskan secara hukum melalui Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026. Aturan baru ini mengatur pelaksanaan MPLS selama lima hari dengan slogan "Hari Baru, Aman, dan Nyaman di Sekolah".

Sekolah juga wajib menyosialisasikan program kepada orang tua sebelum kegiatan dimulai, dengan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) menjadi landasan utama pelaksanaan MPLS .

Lebih luas lagi, Mendikdasmen menjelaskan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (RANA) dirancang agar penciptaan ruang aman bagi anak tidak hanya berhenti di gerbang sekolah. Ekosistem yang nyaman tersebut harus terus terbangun secara holistik hingga ke lingkungan keluarga, masyarakat, serta meluas ke ranah digital.

"MPLS Ramah ini tidak hanya menekankan pentingnya membangun lingkungan sekolah yang secara sosial aman, secara fisik resik, sehat, dan indah, tetapi juga memberikan wawasan dan juga memberikan kesadaran bagi anak-anak kita tentang pentingnya menjaga keramahan di dunia digital," ujar Mendikdasmen .

Antusiasme perubahan ini tampak nyata di lapangan melalui kesiapan organisasi siswa intra sekolah dalam menyambut ratusan pelajar baru.

Rangkaian kegiatan pengenalan kultur sekolah dikemas secara interaktif, yang diakhiri dengan panggung ekspresi seni demi mempererat persaudaraan antar seluruh murid sekolah.

Baca Juga: Nama Gus Miftah Muncul di Sidang Korupsi DJKA Mantan Bupati Pati Sudewo, Jaksa Ungkap Dugaan Aliran Rp100 Juta

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, bahkan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SMA Labschool Kebayoran untuk memastikan pelaksanaan MPLS berjalan sesuai koridor yang ditetapkan .

Di berbagai daerah, semangat MPLS Ramah juga terlihat dari inovasi kegiatan yang dikembangkan. SMA Muhammadiyah 2 Metro, misalnya, menggelar Forum Ta'aruf dan Orientasi Siswa (Fortasi) dengan mengusung semangat menggembirakan dan berkarya.

Kepala sekolah Desia Setianingsih menjelaskan bahwa Fortasi tahun ini difokuskan pada penguatan karakter dan penggalian potensi bakat anak tanpa unsur kekerasan.

"Kami ingin memastikan bahwa Fortasi di SMA Muhammadiyah 2 Metro menjadi momentum yang menggembirakan sekaligus memicu kreativitas siswa untuk mulai berkarya sejak dini," ujarnya .

Pemerintah juga telah menerbitkan Surat Edaran Menteri terbaru yang mengatur tentang pembatasan penggunaan gawai bagi pelajar yang berusia di bawah 16 tahun.

Regulasi tersebut bukanlah pelarangan mutlak, melainkan bentuk panduan pembatasan agar anak-anak terlatih menggunakan teknologi secara bijak, arif, dan berorientasi murni pada kepentingan edukatif.

Langkah ini dinilai sangat beralasan untuk melindungi tumbuh kembang anak, mengingat data nasional menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu hingga tujuh jam 32 menit per hari untuk mengakses dunia maya .

Melalui kolaborasi yang kuat antara sekolah dan keluarga, hari pertama sekolah berhasil tercipta menjadi kegiatan pengenalan sesama murid yang penuh senyuman, motivasi, dan prestasi.(dka)

 

Editor : Baskoro Septiadi
MPLS Ramah 2026 Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 2026 Kemendikdasmen MPLS 2026 Tahun Ajaran 2026/2027 Perpeloncoan di sekolah dihapus