RADAR SEMARANG.ID, Semarang — Besok hari Minggu 17 Agustus 2025 kita merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 80.
Hari Kemerdekaan Indonesia tak ayal jika dijadikan sebagai momen yang seru.
Untuk itu ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk meramaikan HUT RI yang ke 80 ini.
Selain mengikuti upacara bendera 17 Agustus, beragam lomba, memasang foto dengan Twibbon 17 Agustus 2025 juga tidak kalah menarik.
Merdeka, Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia mengingatkan pada satu doa yang dipanjatkan oleh Mustasyar PBNU 2015-2019 KH Maimoen Zubair.
Doa tersebut dilangitkan pada bulan Ramadan 1438 H atau 2017 M.
Doa kebangsaaan 17 Agustus, yang pernah dibacakan KH Maemoen Zubair atau Mbah Moen saat HUT Kemerdekan RI.
KH Maemoen Zubair merupakan tokoh kyai kharismatik Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah.
Maemoen Zubair atau yang biasa disapa akrab dengan Mbah Moen adalah putra pertama dari pasangan Kiai Zubair Dahlan dan Ibu Nyai Mahmudah.
Beliau dilahirkan di Karang Mangu Sarang hari Kamis Legi bulan Sya'ban Tahun 1347 H atau 28 Oktober 1928.
Dari jalur silsilah kakek, nasab Mbah Moen sampai kepada Sunan Giri.
Berikut adalah jalur silsilah nasab Mbah Moen, KH. Zubair bin Mbah Dahlan bin Mbah Carik Waridjo bin Mbah Munandar bin Puteh Podang (desa Lajo Singgahan Tuban) bin Imam Qomaruddin (dari Blongsong Baureno Bojonegoro) bin Muhammad (Macan Putih Gresik) bin Ali bin Husen (desa Mentaras Dukun Gresik) bin Abdulloh (desa Karang Jarak Gresik) bin pangeran Pakabunan bin panembahan Kulon bin sunan Giri.
Sedangkan dari jalur silsilah Nenek yaitu, Nyai Hasanah binti Kiyai Syu’aib bin Mbah Ghozali bin Mbah Maulana (Mbah Lanah seorang bangsawan Madura yang bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro).
Ayahnda Mbah Moen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky.
Kedua guru tersebut adalah sosok ulama yang tersohor di Yaman pada zaman itu.
Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan.
Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan.
Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara seimbang. Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras.
Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang.
Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri.
KH Maemoen Zubair juga dikenal sebagai kiai yang sangat mencintai negeri Indonesia.
Pimpinan Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang ini telah meninggal dunia pada 6 Agustus 2019 lalu.
Meski demikian, ilmu dan amalan-amalan kebaikan KH Maemoen Zubair hingga kini masih menjadi panutan masyarakat di Indonesia.
Berikut ini doa 17 Agustus KH Maemoen Zubair yang bisa dibaca dalam HUT Kemerdekaan RI ke 80 disertai lafadz Arab dan do’a Bahasa Indonesia atau latin.
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين حمدا يوافي نعمه ويكافي مزيده, يا ربنا لك الحمدكما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك, لك الحمد و الثناء لانحصي ثناء عليك كما أثنيت على نفسك, فلك الحمد ولك الثناء ولك الشكر يا إلهنا يا الله ومنك لنا الرضى لاسخط بعده . اللهم صل على سيدنا محمد، صلاة عبد قلت حيلته، ورسول الله وسيلته، وأنت لها يا إلهي ولكل كرب عظيم ففرج ما نحن فيه أسرار الله الرحمن الرحيم وعلى اله وأصحابه أجمعين. بسر بسم اللهم لك الحمد ولك الشكر يا الله. يا الله اجتمعنا في هذا المجمع الكريم يا إلهنا يا
يَا اللهُ شُكْرًا لَكَ يَاإِلَهَنَا عَلَى مَا تَفَضَّلْتَ عَلَيْنَا مِنْ نِعْمَةِ الإِسْتِقْلاَل مِنْ نِعْمَةِ الْحُرِّيَّة, حُرِّيَّةِ إِنْدُونِسِيَا. يَا ذَاالشَّهْرِ الْعَظِيْمِ شَهْرِ أَغُوسْتُوس. شَهْرِالْمُعَظَّمِ عِنْدَنِا وَعِنْدَكَ حَيْثُ بَعَثْتَ نَيِيَّكَ مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم فِي شَهْرِ أَغُوسْتُوس كَمَا أَعْطَيْتَنَا حُرِّيَّتَنَا. اَلَّذِي يُوَافِقُ رَمَضَان. كَذَالِكَ فِي شَهْرِ رَمَضَان أَنْتَ تَنْزِلُ فِيْهِ الْقُرْاَنَ. يَارَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا نِعْمَتَكَ نِعْمَةَ الْاَعْظَمِ نِعْمَةَ الْحُرِّيَّة. وَاجْعَلْنَا اُمَّةً وَاحِدَةً لاَتَفْرِيْقَةً وَاِنْ كُنَّا شُعُوبًا وَقَبَائِلَ وَلَكِنْ لِتَعَارَفُوا كَمَا قُلْتَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَنَا بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
Baca Juga: Rabu Terakhir di bulan Safar, Ini Sejarah dan Tradisi yang Biasa Dilakukan saat Rabu Wekasan
Ya Allah, Syukron laka yaa Ilaahanaa ‘alaa maa tafadldlolta ‘alaina min ni’matil istiqlaal, min ni’matil hurriyyah, hurriyyati Indonesia.
Yaa Dzasy syahril ‘adziim, syahri Agustus. Syahril mu’adzdzom ‘indanaa wa ‘indaKa haitsu ba’asTa nabiyyaKa Muhammad SAW fii syahri Agustus kamaa a’thoitanaa hurriyyatanaa. Alladzii yuwaafiqu Ramadhaan, kadzaalika fi syahri Ramadhaan Anta tanzilu fiihil qur`aan.
Yaa Robbanaa anzil ‘alainaa ni’mataka, ni’matal a’dzom, ni’matal hurriyyah. Waj’alnaa ummatan waahidatan laa tafriiqotan wa in kunnaa syu’uuban wa qobaaila, walaakin li ta’aarofuu kamaa qulTa. Waj’al baldatanaa baldatun thoyyibatun wa Robbun ghofuur.”
Ya Allah ya Tuhan kami, turunkanlah nikmat-Mu kepada kami sekalian bangsa Indonesia yang telah Engkau beri nikmat, nikmat-Mu adalah kemerdekaan, satu-satu kenikmatan yang harus kita junjung harus kita syukuri.
Ya Allah Ya Rabbi. Alangkah indah nikmat-Mu.
Ya Allah Kau jadikan kemerdekaan kita dalam bulan Agustus, Engkau mengutus utusanmu juga bulan Agustus bertepatan dengan bulan Ramadhan dan kemerdekaan kita juga bulan Ramadhan.
Ya Allah Ya Tuhan kami dalam rangkaian acara inilah kami kumpul disini untuk supaya bangsa kita yang sudah 80 tahun merdeka ini menjadi bangsa yang bersatu, menjadi bangsa yang tidak terpecah belah.
Walaupun beraneka warna, bersuku-suku tapi sesua dengan firman-Mu “Lita’arafu” agar supaya bersatu, saling bertaaruf sehingga disitu ada kata-kata yang sama dengan ajaran-Mu “Bhineka Tunggal Ika”.
Ya Allah Ya Tuhan kami, anugerahillah kami bangsa Indonesia yang beraneka ragam, bersuku-suku bahasa, tetapi walaupun begitu kami adalah satu.
Inilah ucapan dan permohonan kami kepada-Mu munasabah bulan yang besar bulan Agustus yang kita dan Engkau muliakan.
Ya Allah Ya Tuhan kami, kabulkanlah doa kami ini dan jadikanlah kekuatan kami ini kekuatan untuk persatuan dan kesatuan bangsa.
Lindungilah dan kuatkanlah pemimpin kami daripada bapak presiden beserta wakilnya dan menteri-menterinya. Semua pemerintah Indonesia ini.
Jadikanlah pemerintah yang kuat, sehingga pada malam ini kelihatan, Engkau mengetahui, mengetahui yang Engkau Maha Mengetahui.
Kumpul para ulama dan umaro dan jadikanlah ini sebagai ajaran yang Engkau berikan pada kami adalah kekuatan untuk persatuan dan para ulama dan umaro’
Demikian teks bacaan doa kemerdekaan 17 Agustus, semoga bermanfaat. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi