RADARSEMARANG.ID - Di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah, banyak yang mengira Ayatollah Ali Khamenei sebagai Presiden Iran.
Padahal, Ali Khamenei memegang jabatan yang jauh lebih tinggi dan berpengaruh sejak 1989.
Posisi tersebut menempatkannya di puncak struktur kekuasaan negara, melampaui presiden dalam hal otoritas militer, kehakiman, hingga kebijakan luar negeri.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Ayatollah Ali Khamenei adalah Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran sejak 1989.
Posisinya menggantikan Imam Khomeini yang sudah wafat. Adapun posisi Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran ini tidak dipilih langsung oleh rakyat.
Namun, Ali Khamenei sering disalahartikan sebagai Presiden Iran oleh dunia luar. Sedangkan presiden Iran saat ini adalah Masoud Pezeshkian berdasarkan hasil pemilu terbaru.
Melansir dari laman Britannica, Khamenei lahir di kota suci Mashhad pada 19 April 1939 dari keluarga ulama Syiah yang terpandang.
Dia merupakan putra dari Seyyed Javad Khamenei yang dikabarkan sebagai keturunan dari Ali al-Sajjad, Imam ke-4 dalam mazhab Syiah.
Dalam mazhab tersebut, terdapat garis keturunan Hasan dan Husain yang merupakan cucu dari Imam Ali bin Abi Thalib—sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW.
Mereka (Hasan dan Husain) adalah putra dari pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah az-Zahra, putri kesayangan Nabi Muhammad SAW.
Dengan demikian, Hasan dan Husin memiliki garis keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW (melalui ibu mereka, Fatimah) dan dari Ali bin Abi Thalib (melalui ayah mereka, Ali).
Garis keturunan ini menjadikan Ali Khamenei sebagai sayyid, gelar kehormatan bagi keturunan Nabi.
Menariknya, sepanjang perjalanan hidup Ali Khamenei tak lepas dari perjuangan politik.
Sejak muda, dia aktif menentang rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang membuatnya beberapa kali dipenjara dan diasingkan.
Setelah Revolusi Islam 1979, Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran selama dua periode (1981–1989).
Setelah itu dia ditunjuk menggantikan Ayatollah Khomeini sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.
Sebagai rahbar, Ali Khamenei memiliki wewenang absolut dalam menentukan arah negara.
Ia dapat memveto kebijakan publik, menunjuk pejabat tinggi, dan mengendalikan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Ini artinya, Khamenei punya kewenangan penuh untuk membatalkan kebijakan negara, memilih siapa saja yang duduk di jabatan penting, serta mengontrol langsung pasukan elite militer Iran bernama Garda Revolusi.
Dalam konteks konflik regional, ia dikenal vokal menentang Israel dan negara Barat, serta berperan penting dalam kebijakan nuklir Iran.
Profil Ayatollah Ali Khamenei juga dikenal sebagai sosok yang sederhana dan jarang tampil di publik.
Dia tinggal di kompleks sederhana di Teheran bersama keluarganya dan disebut gemar membaca puisi serta berkebun.
Meski demikian, pengaruhnya tetap kuat, baik di dalam negeri maupun dalam percaturan geopolitik Timur Tengah.
Sebagai figur sentral dalam sistem teokrasi Iran, Ali Khamenei juga dinilai sebagai pemimpin spiritual serta simbol kontinuitas revolusi.
Latar belakang pendidikannya di Qom dan Najaf, serta kedekatannya dengan Imam Khomeini semakin memperkuat legitimasinya di Iran.
Hingga kini, dia tetap menjadi tokoh kunci dalam menentukan arah masa depan Iran selama lebih dari tiga dekade sebagai Pemimpin Tertinggi.
Editor : Baskoro Septiadi