RADARSEMARANG.ID, Semarang — Sejak menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat pada Februari 2025 atau sebulan menjabat, Dedi Mulyadi telah membuat sejumlah kebijakan kontroversial yang menjadi perbincangan publik.
Dari banyak kebijakan yang digagas Dedi Mulyadi, ada yang menuai pujian namun tak sedikit pula yang menuai kritik.
Berikut ini deretan kebijakan kontroversial Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi setelah sebulan menjabat :
1. Program Pembinaan Siswa di Barak Militer
Untuk membentuk karakter siswa yang bermasalah, seperti pelaku tawuran atau kecanduan gim, Dedi menggagas program pembinaan di barak militer.
Program ini dimulai 2 Mei 2025 dengan dukungan dari TNI dan Polri.
Meski sebagian orang tua menyambut baik, sejumlah pihak menilai pendekatan tersebut terlalu keras dan tidak menyentuh akar masalah.
2. Pelarangan Wisuda dan Study Tour
Demi mengurangi beban ekonomi orang tua dan mencegah kecelakaan, pria yang karib disapa KDM (Kang Dedi Mulyadi) itu melarang kegiatan wisuda serta study tour.
Kebijakan ini ditolak oleh sejumlah pelajar yang merasa hak mereka untuk merayakan kelulusan telah diabaikan,
3. Wacana Vasektomi sebagai Syarat Bansos
Dedi mengusulkan agar vasektomi dijadikan syarat bagi warga prasejahtera untuk memperoleh bantuan sosial.
Gagasan ini mengundang kecaman dari masyarakat, termasuk dari MUI yang menyatakan bahwa tindakan vasektomi haram kecuali dalam kondisi medis tertentu.
4. Julukan “Gubernur Konten”
Dedi dikenal aktif membuat konten di media sosial, yang kemudian membuatnya dijuluki “Gubernur Konten”.
Ia menyebut strategi ini sebagai bentuk efisiensi anggaran publikasi pemerintah.
Hal ini pun menuai reaksi dari pengusaha dan pekerja media.
Tak sedikit pula yang menganggapnya lebih mementingkan pencitraan ketimbang substansi kebijakan.
5. Respons terhadap Kritik Aura Cinta
Remaja bernama Aura Cinta mengkritik pelarangan wisuda usai keluarganya tergusur dari bantaran sungai.
Dedi Mulyadi merespons dengan komentar yang dianggap merendahkan, menyatakan bahwa orang miskin tidak perlu bergaya untuk wisuda.
Pernyataan ini memicu kemarahan warganet.
Kebijakan-kebijakan tersebut menunjukkan gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi yang tegas namun kontroversial.
Waktu akan membuktikan apakah pendekatan semacam ini akan membawa dampak positif atau justru sebaliknya. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi