RADARSEMARANG.ID, Semarang — Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, memang pepatah tersebut benar adanya. Mengapa?
Kakek Presiden H Prabowo Subianto, Raden Mas Margono Djojohadikusumo, diusulkan mendapatkan gelar pahlawan nasional.
Raden Mas Margono Djojohadikusumo merupakan inisiator utama pendirian lembaga keuangan yang menjadi cikal bakal bank sentral di Indonesia.
”Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa Raden Mas Margono Djojohadikusumo dengan semangat kebangsaan yang kuat memimpin upaya mendirikan Bank Sentral Indonesia di republik yang baru merdeka,” ujar Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Eddy Soeparno, di Jakarta, Minggu (10/11).
Baca Juga: Daftar Menteri Koordinator Menko Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto
Baca Juga: Ini Daftar 48 Nama Menteri dan Kepala Lembaga Presiden H Prabowo Subianto dalam Kabinet Merah Putih
Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Lantik 55 Wakil Menteri di Kabinet Merah Putih, Ini Nama-namanya
Eddy, yang juga mantan bankir, menilai terobosan Raden Mas Margono Djojohadikusumo untuk membentuk bank sentral menjadi alasan yang kuat bagi diberikannya gelar pahlawan nasional kepada kakek Presiden H Prabowo Subianto itu.
Upaya RM Margono itu menunjukkan kontribusinya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Menurut Eddy, setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia menghadapai tantangan berat di dalam kedaulatan bidang ekonomi.
Pada waktu itu Bank Sentral Belanda, De Javasche Bank, jelas-jelas menolak kedaulatan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.
Dengan mandat dari Bung Karno dan Bung Hatta, Raden Mas Margono Djojohadikusumo berhasil mendirikan bank sentral pertama di Indonesia, di tengah keterbatasan pemerintah yang baru merdeka dan tekanan dari penjajah Belanda.
”Sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung, waktu itu Raden Mas Margono Djojohadikusumo berperan aktif mengusulkan hingga akhirnya mendirikan Bank Negara Indonesia pada 5 Juli 1946.
Bung Karno kemudian mengangkat Raden Mas Margono Djojohadikusumo menjadi direktur utama pertama Bank Negara Indonesia (BNI) hingga tahun 1950.
Menurut Eddy, Raden Mas Margono Djojohadikusumo adalah pionir dalam kedaulatan ekonomi bangsa.
Baca Juga: Apa Itu Kurikulum Deep Learning? Yang disebut Mendikdasmen RI, Ini dia 3 Elemen didalamnya.
Baca Juga: Ini Dia Bocoran yang akan menggantikan Kurikulum Merdeka Besok
Baca Juga: Kisi-kisi Materi Seleksi Kompetensi Bidang CPNS dan Jadwal Terbaru
Raden Mas Margono Djojohadikusumo juga meletakkan dasar-dasar kebijakan perbankan dalam sistem ekonomi Indonesia.
Berdasarkan pengalamannya sebagai bankir selama 27 tahun, Eddy memperkirakan situasi ketika Raden Mas Margono Djojohadikusumo memimpin bank sentral di negara yang baru merdeka sangat kompleks.
Selain tekanan dari Belanda yang menolak mengakui kedaulatan Indonesia, Raden Mas Margono Djojohadikusumo juga harus memberikan literasi keuangan di masyarakat yang mayoritas masih buta huruf.
”Di bawah kepemimpinnya, BNI menerbitkan Oeang Republik Indonesia pada September 1946. BNI juga aktif memberikan kredit dan mempersiapkan skema simpanan pada masyarakat,” tuturnya.
Sebelumnya, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) mengusulkan agar Raden Mas Margono Djojohadikusumo diberikan gelar pahlawan nasional.
Kakek H Prabowo Subianto ini dinilai berjasa dalam memperkuat pengakuan dunia internasional terhadap keberadaan negara Republik Indonesia.
Firdaus, Ketua SMSI, mengatakan Raden Mas Margono Djojohadikusumo ikut dalam negosiasi Konferensi Meja Bundar (KMB) .
Ketua Forum Masyarakat Indonesia Emas (Formas) Yohanes Handoyo mengatakan usulan agar Raden Mas Margono Djojohadikusumo diberikan gelar pahlawan nasional ini bukan karena Prabowo baru saja dilantik sebagai presiden RI ke-8.
”Ini lebih kepada jasa-jasa Raden Mas Margono Djojohadikusumo, termasuk mendirikan Bank Negara Indonesia pada 1946 yang memainkan peran penting sebagai bank sentral Indonesia di masa kemerdekaan,” ujarnya.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebelumnya menilai Raden Mas Margono Djojohadikusumo sangat layak diberi gelar pahlawan.
Baca Juga: Sejarah, Makna, Tujuan, Tema, Filosofi, Logo, Peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November
Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Umumkan Nama Menteri Kabinetnya: Kabinet Merah Putih
Baca Juga: Daftar Menteri Koordinator Menko Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto
Gus Ipul sapaan akrabnya mengatakan pemberian gelar pahlawan dapat diproses sebagaimana mestinya.
”Tadi ada yang nanya apakah kakeknya Pak Prabowo apa tadi katanya (layak diberi gelar pahlawan)? Iya, sangat layak beliau,” kata Gus Ipul di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (10/11/).
”Kalau ada yang nanya, sangat layak. Dan diproses sebagaimana mestinya,” jelasnya.
Menurut dia, ada banyak nilai kepahlawanan yang dapat diteladani dari kakek Prabowo Subianto.
Gus Ipul mengajak rakyat Indonesia lebih mencintai negara ini.
Kemensos, kata Gus Ipul, telah mengusulkan 16 nama yang bakal diangkat sebagai pahlawan nasional.
Penentuan sosok yang akan diangkat sebagai pahlawan nasional menunggu keputusan dari Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
Dewan tersebut yang akan memilih enam orang sebagai pahlawan nasional dari 16 usulan Kemensos tersebut.
”Ya, kita tunggu. Belum, itu kita tunggu aja. Kita tunggu aja ya. Jadi seperti tahun-tahun sebelumnya, Kemensos mengusulkan 16 nama kepada Presiden melalui Dewan Gelar. Nanti Dewan Gelar tentu akan melaporkan kepada Presiden, dipilih 6 dari 16 itu,” ujar Gus Ipul.
Pemberian gelar pahlawan nasional akan dilakukan oleh Presiden H Prabowo Subianto.
Sehingga pemberian gelar pahlawan akan dilakukan setelah Prabowo tiba dari lawatan luar negeri.
Baca Juga: Sejarah, Tujuan, Pengertian dan Alasan Pemerintah Menetapkan Hari Santri Nasional 22 Oktober
”Iya tentu harus menunggu Presiden. Nanti melalui pertimbangan Dewan gelar, melalui pertimbangan Dewan Gelar,” ucap Gus Ipul.
Pelaksanaan peringatan Hari Pahlawan tahun ini dipimpin oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Komandan upacara pada peringatan Hari Pahlawan ini, adalah Kolonel Pnb Lucky Indrawan, S.A.P., Kepala Dinas Operasi Lanud Suryadarma.
Lalu Perwira upacara adalah Brigjen TNI Edi Saputra, S.I.P., M.Han., Kepala Staf Kogartap I/Jakarta.
Cadangan perwira upacara adalah Letkol Kav Rinaldi Irawan, M.Han., Asisten Operasi Kogartap I/Jakarta.
Rangkaian kegiatan meliputi upacara penghormatan, peletakan karangan bunga oleh inspektur upacara, mengheningkan cipta, dan pembacaan doa untuk para pahlawan bangsa.
Sosok Profil Raden Mas Margono Djojohadikusumo
Di tengah tantangan besar yang dihadapi Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan, muncul sosok yang berani dan visioner dalam dunia perbankan.
Raden Mas Margono Djojohadikusumo, seorang tokoh penting yang lahir pada tahun 1894 di Purwokerto.
Ia menjadi pionir dalam mendirikan lembaga keuangan yang menjadi pilar stabilitas ekonomi bangsa.
Dengan semangat nasionalisme dan dedikasi yang tinggi, Raden Mas Margono Djojohadikusumo berperan aktif dalam membangun Bank Negara Indonesia (BNI) pada 5 Juli 1946.
Baca Juga: Belum Banyak yang Tahu, Ini Sosok Profil Gus Iqdam
Baca Juga: Profil K.H. Taj Yasin Maimoen, dari Santri untuk Negeri, Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah 2024-2029
Baca Juga: Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PCNU Kabupaten Semarang Masa Khidmah 2024-2029 Resmi Dilantik
Baca Juga: Ini Dia Susunan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama PCNU Kabupaten Semarang Masa Khidmah 2024-2029
Kontribusinya tidak hanya mengubah wajah perbankan di Indonesia, tetapi juga membentuk masa depan ekonomi negara yang merdeka.
Dilansir Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas, Raden Mas Margono Djojohadikusumo lahir pada 16 Mei 1894 di Purwokerto.
Ia adalah tokoh penting dalam sejarah perbankan Indonesia.
Raden Mas Margono Djojohadikusumo berasal dari keluarga bangsawan.
Ia merupakan anak dari Raden Tumenggung Mangkuprodjo, keturunan dari Raden Kartoatmodjo serta R.Ay Djojoatmojo.
Raden Mas Margono Djojohadikusumo adalah cucu buyut Raden Tumenggung Banyakwide, pengikut setia Pangeran Diponegoro.
RM Margono menempuh pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (sekolah dasar kolonial) pada tahun 1901.
Setelah lulus pada tahun 1907, ia melanjutkan pendidikannya di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA, sekolah pegawai negeri) di Magelang hingga tahun 1911.
Ia lalu menikah dengan Siti Katoemi Wirodihardjo dan memiliki tiga orang anak, termasuk Prof Dr Soemitro Djojohadikoesoemo, seorang ekonom terkemuka.
Baca Juga: Asal-Usul dan Makna Malam Tirakatan 17 Agustus, Ternyata Begini Sejarahnya
Baca Juga: Baru Tahu, Ternyata Begini Struktur Organisasi Gerakan Pramuka
Ia juga memiliki anak bernama Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikoesoemo dan Taruna Soejono Djojohadikoesoemo, yang gugur dalam Pertempuran Lengkong.
Dari pernikahan Soemitro dan istrinya, Raden Mas Margono Djojohadikusumo memiliki empat orang cucu, yaitu Biantiningsih Djiwandono Sigar, Maryani Lemaistre Djojohadikusumo Sigar, Hashim Djojohadikusumo, dan Prabowo Subianto Djojohadikusumo.
Raden Mas Margono Djojohadikusumo dikenal sebagai pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) pada 5 Juli 1946.
Raden Mas Margono Djojohadikusumo menjadi Direktur Utama BNI yang pertama hingga tahun 1950.
Di bawah kepemimpinannya, bank ini tidak hanya berfungsi sebagai bank sentral, tetapi juga melakukan kegiatan perbankan umum seperti pemberian kredit dan penerimaan simpanan.
Ia berjuang melawan berbagai rintangan untuk memastikan keberlangsungan BNI dan stabilitas ekonomi Indonesia.
Pada 1955, peran BNI berubah menjadi bank pembangunan dan mendapatkan hak untuk bertindak sebagai bank devisa.
Status hukum BNI kemudian ditingkatkan menjadi Persero pada tahun 1969.
Kecakapan Raden Mas Margono Djojohadikusumo di bidang ekonomi menurun kepada anaknya Soemitro.
Ayah Prabowo Subianto ini terkenal sebagai seorang ekonom terkemuka.
Baca Juga: 5 Resep Ikan Bakar Maknyus Bumbu Sederhana, Cocok untuk Acara Kumpul-Kumpul
Baca Juga: Sosok Profil Ustadz Prof KH Abdul Somad Batubara atau UAS yang Akan Hadir di Semarang Besok
Baca Juga: Jadwal Sholawat Majelis Az Zahir Bulan November 2024
Raden Mas Margono Djojohadikusumo meninggal pada 25 Juli 1978, tetapi warisannya tetap hidup melalui BNI yang kini menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia dengan lebih dari 2.000 cabang di dalam dan luar negeri.
Keberanian dan dedikasinya dalam mendirikan BNI menjadikannya salah satu pahlawan ekonomi bangsa.
Dalam perjalanan hidupnya, Raden Mas Margono Djojohadikusumo tidak hanya berkontribusi dalam bidang perbankan, tetapi juga aktif dalam organisasi pergerakan nasional seperti Jong Java dan Partai Nasional Indonesia (PNI).
Ia memainkan peran penting dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) untuk membantu merumuskan dasar negara.
Tak hanya itu, pada pelantikan Soekarno dan Hatta sebagai presiden dan wakil presiden, dibentuklah Kabinet Presiden serta Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS).
Raden Mas Margono Djojohadikusumo diangkat sebagai Ketua DPAS yang pertama, menandai langkah penting dalam struktur pemerintahan baru Indonesia.
Pembentukan lembaga ini bertujuan memberikan nasihat dan pertimbangan kepada pemerintah dalam menjalankan tugasnya di tengah situasi politik yang masih rentan pasca-kemerdekaan.
Baca Juga: Makna, Sejarah, Keutamaan dan 10 Amalan Bulan Jumadil Awwal
Baca Juga: Jadwal Sholawat Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf Bulan November 2024
Baca Juga: November, Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf akan Bersholawat di Semarang, Ini Jadwalnya!
Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, Hak Angket pertama kali diterapkan DPR pada tahun 1950-an.
Inisiatif ini berawal dari usulan Raden Mas Margono Djojohadikusumo yang mendorong DPR untuk melakukan penyelidikan mengenai usaha pemerintah dalam memperoleh dan menggunakan devisa.
Sebagai hasil dari usulan tersebut, dibentuklah Panitia Angket yang terdiri dari 13 anggota, dengan Raden Mas Margono Djojohadikusumo sebagai ketuanya.
Tugas panitia ini untuk menyelidiki keuntungan dan kerugian dari penerapan sistem devisen-regime berdasarkan Undang-Undang Pengawasan Devisen Tahun 1940, beserta perubahan-perubahannya.
Raden Mas Margono Djojohadikusumo meninggal pada 25 Juli 1978 di Jakarta, dan dikenang sebagai pahlawan ekonomi yang berkontribusi besar terhadap kemajuan Indonesia.
Warisannya terus hidup melalui generasi keluarganya yang berpengaruh dalam berbagai bidang. (falakh)
Editor : Baskoro Septiadi