RADARSEMARANG.ID - Jhinem memang pendatang baru di skena musik Pekalongan. Tapi band bergenre pop punk ini langsung sibuk mempersiapkan peluncuran mini album perdana. Sebagai pembuka proyek itu, mereka sudah merilis satu lagu (single). Judulnya Mahatidana.
Jhinem merilis Mahatidana pada 20 Desember 2023 lalu, ke semua platform musik digital. Peluncurannya sekaligus dibarengi dengan penjualan marchandise (kaos dan stiker) yang saat itu juga laku 96 pieces. Pembelinya tidak sedikit yang dari luar Jawa.
Mahatidana juga langsung mendapat sambutan baik di ekosistem skena musik Pekalongan. Musisi dan band-band pendahulu Jhinem di Pekalongan berduyun memberi ucapan lewat video. Mahatidana pun di-cover oleh sejumlah band dan orang.
Jhinem boleh dikata muncul tiba-tiba di skena musik Pekalongan. Debut panggung mereka baru didapat pada Oktober 2023 kala tampil di acara musik Harvest Moon yang dihelat di sebuah coffee shop Kota Pekalongan.
Dua bulan kemudian, mereka muncul lagi dan menggebrak dengan rilis Mahatidana.
“Sebenarnya kami berdiri pada 2016. Tapi setelah itu sempat vakum bertahun-tahun karena para personel berpencar ke luar kota. Ada yang kuliah, ada yang kerja. Kami baru kumpul dan aktif lagi tahun 2023 dan fokus menggarap Mahatidana,” jelas Manajer Jhinem Emyunip, saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di sebuah kedai kopi di kawasan Bina Griya, Kota pekalongan.
Penggarapan aransemen Mahatidana sampai matang memakan waktu satu bulan. Tapi sebenarnya materi lirik dan nada lagu sudah siap sejak lama.
Kata Yunip, Mahatidana memang dirilis untuk memperkenalkan dan mempertegas kedatangan Jhinem. Lagu ini berdurasi 4 menit 5 detik.
Judul Mahatidana diambil dari nama seseorang. Lirik bercerita tentang keikhlasan dalam percintaan.
“Lagu ini dibawakan Jhinem secara live untuk kali pertamanya saat perform di Wapress (Warung Apresiasi Seni) Pekalongan, tiga hari setelah dirilis,” ucapnya.
Jhinem beranggotakan empat personil. Mereka ialah Aiz Veez (vocal-gitar), Aqib Entit (bass), Fikri Pik (rhythm), dan Fahmi Mhami (drum).
Memilih pop punk sebagai genre Jhinem karena sejak awal para personil sudah menggeluti aliran musik ini.
Sebelum membentuk Jhinem, keempat personel juga merupakan Kamtis (sebutan penggemar band Endank Soekamti).
“Dan kami menjadikan Endank Soekamti itu sebagai kiblat musik dan role model (panutan) kami. Meskipun kami juga mengambi sebagianl inspirasi dari band lain seperti Blink 182 maupun AtasNama,” ujarnya.
Alasan lain, Jhinem menilai pop punk bisa didengarkan banyak kalangan. Jhinem Juga menilai genre tersebut merupakan sisi lain dari musik punk yang mau dan tidak malu memunculkan lirik-lirik soal kehidupan anak muda dan cinta.
“Iya, punk itu kan juga sedih, tidak melulu berbicara soal perlawanan,” ungkapnya.
Saat ini Jhinem masih terus menggarap proyek mini album perdana mereka di tengah cukup padatnya jadwal manggung di dalam maupun luar kota.
Sebagai bocoran, mini album perdana Jhinem nanti akan berisi total enam lagu, termasuk Mahatidana yang sudah rilis.
Enam lagu ini, liriknya akan dikemas menjadi satu rangkaian kisah kelanjutan Mahatidana. (nra/ton)
Editor : Baskoro Septiadi