Sudarsih menggunakan JKN untuk berobat secara rutin. (JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Magelang - Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dirasa memberikan banyak kemudahan bagi peserta yang rutin berobat ke rumah sakit. Pengalaman baik itu dirasakan Sudarsih, 71, warga Potrobangsan, Kota Magelang, yang telah menjadi peserta JKN selama 10 tahun.Sudarsih menceritakan pengalaman terbarunya menggunakan JKN untuk kontrol gula darah di rumah sakit. Proses berobat menggunakan JKN waktu itu berjalan mudah, mulai dari pengurusan rujukan di puskesmas hingga proses administrasi di rumah sakit.”Alhamdulillah mudah, dari minta rujukan puskesmas ke RSUD, hingga proses administrasi mudah dipahami, petugas penerima pasiennya juga ramah dan jelas saat menjelaskan,” ujarnya, (4/8/2026).Sudarsih menyebut lama waktu tunggu untuk bertemu dokter bergantung pada jumlah pasien yang berobat ke dokter yang sama.Untuk menghindari antrean panjang, ia kini terbiasa mendaftar secara online sekitar satu minggu sebelum jadwal kontrol. Untuk mendaftar online in ia meminta bantuan anaknya melalui aplikasi Mobile JKN.Ia membandingkan kemudahan itu dengan pengalamannya di masa lalu, sebelum ada sistem pendaftaran online. Saat itu, ia bahkan harus menginap semalam di sebuah rumah sakit sebelum loket dibuka demi mendapatkan nomor antrean karena jumlahnya terbatas.”Dulu pernah berangkat habis Subuh, nomor antrean sudah habis. Jadi paling tidak satu malam sebelum daftar, sudah ada di rumah sakit,” kenangnya.Lain halnya dengan kondisi rumah sakit yang ia ceritakan itu, sementara di RSUD, lanjutnya, tidak seketat itu. Dulu ia masih bisa mendapat nomor antrean meski berangkat setelah Subuh. Namun dengan adanya sistem pendaftaran online, proses menunggu bertemu dokter kini menjadi jauh lebih mudah dibandingkan dulu.Soal pelayanan petugas kesehatan, Sudarsih mengaku puas dengan sikap perawat dan dokter yang menanganinya.”Perawatnya baik-baik, dokternya menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami,” katanya.Sudarsih menyebut antrean panjang menjadi hal yang wajar dialami peserta BPJS mengingat jumlah penggunanya yang sangat banyak. Namun, ia mengaku belum pernah mengalami kendala berarti terkait kelengkapan dokumen, karena kini cukup dengan memindai kartu KIS Digital, data pasien langsung terlihat.”Kendala antrean panjang itu sudah biasa, maka dari itu saya daftar jauh-jauh hari agar setidaknya mengantrenya tidak terlalu lama,” jelasnya.Sudarsih yang merupakan peserta JKN kelas 3 menyebut iuran bulanan yang ia bayarkan sebesar Rp 42 ribu. Menurutnya, nominal tersebut masih terjangkau baginya yang rutin menggunakan layanan JKN.Untuk pengobatan kala itu, ia memastikan seluruh biaya kontrol gula darahnya ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan tanpa ada biaya tambahan.“Semua biaya sudah ditanggung BPJS, tidak mengeluarkan uang sedikit pun,” ucapnya.Sudarsih menilai keberadaan BPJS Kesehatan sangat membantu meringankan beban biaya pengobatan. Ia membandingkannya dengan pengalamannya berobat secara mandiri di dokter praktik perorangan, saat kakinya sakit dan ia harus disuntik.”Dulu keluar uang Rp 350 ribu untuk sekali suntik. Kalau sekarang mungkin bisa Rp 500 ribu-an untuk sekali suntik. Jadi program dari BPJS Kesehatan ini sangat membantu bagi pasien,” ceritanya.Di akhir wawancara, Sudarsih berharap program JKN yang dikelola BPJS Kesehatan terus dipertahankan dan pelayanannya semakin ditingkatkan ke depannya. (ana/viq/put/bis)