Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Kampung Tulung Magelang Menyimpan Cerita Sejarah Gugurnya 42 Pejuang Kemerdekaan 

Baskoro Septiadi • Rabu, 16 Agustus 2023 | 17:45 WIB

Amirudin Sigit Permadi menunjukkan sebuah bangunan rumah yang dulu menjadi Kantor Kelurahan Magelang, sekaligus markas dan dapur umum Tentara BKR Selasa (15/8).
Amirudin Sigit Permadi menunjukkan sebuah bangunan rumah yang dulu menjadi Kantor Kelurahan Magelang, sekaligus markas dan dapur umum Tentara BKR Selasa (15/8).
 

 

 

RADARSEMARANG.ID, Magelang - Kampung Tulung Magelang menyimpan sejarah kelam perjuangan Kemerdekaan RI. Di kampung inilah terjadi pembantaian 42 orang oleh tentara Jepang.

Sebanyak 16 diantaranya merupakan warga Kampung Tulung dan Kampung Dukuh. Sementara sisanya adalah pemuda pejuang yang tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Para pejuang BKR yang tewas dalam insiden mengerikan pada 28 Oktober 1945 itu tidak diketahui namanya.

Sedangkan ke-16 korban yang merupakan warga setempat, namanya diabadikan di Monumen Perjuangan Republik Indonesia di Kampung Tulung.

Mereka adalah Sopawiro, RE Doeradjat, Lusi, Moechamad, Atmoroto, Karso Pawiro, Imam Sjamsuri, Safi’I, Amat Dasinan, Karto Lichin Soemardjo, Seto, Aladin, Karto Pawiro, Roesmin, dan perempuan bernama Amat.

Monumen ini lokasinya berada tepat di pintu masuk Kampung Tulung. Dilengkapi pula dengan sebuah ukiran yang menggambarkan pembantaian kala itu.

Tidak jauh dari monumen ini, terdapat sebuah rumah berhalaman cukup luas yang disebut-sebut sebagai lokasi pembantaian.

Dulunya, bagunan ini adalah kantor Kelurahan Magelang. Kantor ini dijadikan sebagai markas BKR dan dapur umum pada saat itu.

Amirudin Sigit Permadi, akrab disapa Udin oleh warga setempat, seorang pemuda yang peduli terhadap sejarah Kampung Tulung.

Ia cerita,  pembantaian itu dipicu peristiwa perobekan bendera Merah Putih oleh tentara Jepang di Hotel Nitaka (sekarang Polwil Kedu) pada 24 September 1945.

Rakyat kemudian menyerbu ke Markas Kempetai di Hotel Nitaka. Mereka membawa bambu runcing, keris, pedang, dan senapan.

Mereka menuntut keadilan agar yang bersalah dijatuhi hukuman. Tapi tuntutan itu tidak memuaskan hati.

Ditambah pada 5 September 1945 ada lima pemuda gugur ditembak usai mengibarkan Merah Putih di puncak Gunung Tidar.

Pada Oktober 1945, terjadi pertempuran pasukan Jepang dari Semarang yang menyerang markas BKR di Magelang.

Peristiwa ini dikenal sebagai Palagan Magelang. Pada peristiwa itu, Sarbini menjadi Komandan Wilayah Karesidenan Kedu.

Pimpinan BKR adalah Ahmad Yani. Sementara Kepala Kantor Kelurahan Magelang adalah Atmo Pawiro.

“Saat peristiwa terjadi, warga sedang sibuk menyiapkan logistik di dapur umum,” ungkapnya.

Jepang menyerbu Kampung Tulung karena mendengar isu ada tawanan Jepang yang dibunuh pemuda dan BKR.

Mengetahui kabar tersebut bohong, Jepang lantas pergi, setelah membunuh puluhan warga di Kampung Tulung.

“Setelah itu, warga menguburkan pejuang yang gugur di halaman kantor kelurahan. Namun kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Dharmoloyo Magelang,” jelas pemuda 34 tahun itu.

Udin pun menunjukkan sebuah rumah yang dulu menjadi Kantor Kelurahan sekaligus menjadi markas dan dapur umum BKR.

Rumah ini sebelumnya ditempati oleh anak dari Lurah Atmo Pawiro yang bernama Nyonya Suroyo. Namun sekarang berganti pemilik.

“Kita akan malam tirakatan (16/8) di sini. Nanti ada pemutaran film Senja yang menceritakan tentang perjuangan BKR dan Kampung Tulung,” terangnya.

Ketua Panitia Agustusan Kampung Tulung, Hendro Dwi Atmoko, 58, berharap, malam tirakatan nanti menjadi pemantik generasi untuk lebih menghargai sejarah. Karena perjuangan para pendahulu sangat besar.

“Harapannya, warga dan para pemuda bisa mengenang bahwa kehidupan yang dirasakan kita saat ini adalah hasil dari perjuangan para pejuang, dan diperjuangkan dengan berdarah-darah. Kita layak untuk menyelamatkan sejarah ini, agar tidak hilang,” imbuhnya. (put/ton)

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Pejuang #Kemerdekaan RI #Sejarah #tentara Jepang #Kampung Tulung Magelang #pembantaian