Berita Semarang Raya Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto Jateng

Relief Karmawibhangga di Candi Borobudur Menyimpan Banyak Misteri

Agus AP • Selasa, 23 Maret 2021 | 20:37 WIB
Empat panel relief Karmawibhangga yang bisa dilihat dan tidak tertutup batu di sisi tenggara Candi Borobudur. (LUQMAN SULISTIYAWAN /JAWA POS RADAR SEMARANG)
Empat panel relief Karmawibhangga yang bisa dilihat dan tidak tertutup batu di sisi tenggara Candi Borobudur. (LUQMAN SULISTIYAWAN /JAWA POS RADAR SEMARANG)
RADARSEMARANG.ID, Mungkid Tidak banyak orang tahu keberadaan relief Karmawibhangga di Candi Borobudur. Relief itu tersembunyi. Penuh misteri.

Berada di bagian kaki candi. Hanya empat panel yang bisa dilihat.

Lokasinya di sisi tenggara candi. Total keseluruhan relief tersebut berjumlah 160 panel. Namun sebagian besar tertutup oleh bebatuan. "Relief Karmawibhangga menarik dan misterius di Borobudur. Karena 156 panel tertutup oleh bebatuan yang jumlahnya 13.000 kubik," ujar Yudi Suhartono, pamong budaya ahli madya Balai Konservasi Borobudur (BKB).

Yudi mengatakan relief Karmawibhangga berisi ajaran Budhis tentang hukum karma dari sebuah perbuatan. Di samping itu juga mengisahkan kehidupan masyarakat kuno.

Relief tersebut diketahui keberadaannya pada tahun 1885. Orang pertama yang mengetahuinya adalah Williem Ijzerman, arkeolog Belanda. Saat ditemukan, semua relief tertutup bebatuan. Kemudian bebatuan tersebut dibongkar pada 1890-1891.

"Setelah dibongkar ditemukan 160 panel relief Karmawibhangga. Selanjutnya didokumentasikan oleh Kassian Chephas, fotografer Indonesia," ujar Yudi. Selesai didokumentasikan relief tersebut ditutup kembali.

Pada masa pemerintahan Jepang, ungkap Yudi,  bebatuan yang menutupi relief
Karmawibhangga juga sempat dibuka dan dibongkar. Namun 4 panel relief di sisi tenggara tidak ditutup kembali.  "Kemungkinan untuk menunjukkan bahwa di kaki candi terdapat relief," imbuhnya. Ditutupnya relief Karmawibhangga,  memunculkan dua pendapat di kalangan masyarakat.

Pendapat pertama mengatakan, relief ini dianggap terlalu vulgar. Menampilkan beberapa perbuatan buruk manusia. Sementara pendapat kedua menyebutkan, karena faktor konstruksi bangunan. Bebatuan yang menutup relief berfungsi untuk menopang bangunan candi agar tetap kokoh.  "Tentu pendapat yang kedua lebih bisa diterima secara logika. Daripada pendapat pertama yang sumbernya lemah," pungkas Yudi. (man/lis) 

  Editor : Agus AP
#top #relief Karmawibhangga #Candi Borobudur