RADARSEMARANG.ID — Pernah merasa baru menerima gaji, tetapi beberapa minggu kemudian saldo rekening sudah menipis? Anehnya, Anda merasa tidak membeli barang mahal dan jarang pergi belanja.
Kondisi seperti ini cukup sering terjadi. Uang tidak selalu habis karena satu transaksi besar. Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali justru bisa menjadi beban ketika dikumpulkan dalam satu bulan.
Di tengah kebutuhan hidup yang terus harus dikelola, kemampuan mengatur keuangan menjadi semakin penting. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Juli 2026 sebesar 2,88 persen, dengan inflasi inti 2,76 persen.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belakangan kembali mendorong masyarakat untuk membangun budaya menabung dan meningkatkan literasi keuangan.
OJK menekankan pentingnya kebiasaan finansial yang positif, termasuk membedakan kebutuhan dan keinginan serta menggunakan produk keuangan sesuai kebutuhan dan kemampuan.
Baca Juga: Bukan Cuma Satria, Ini Pesaing Kuat Honda Sonic 150R di Kelas Bebek Sport
Lantas, apa saja kebiasaan yang membuat uang terasa cepat habis meski merasa jarang belanja?
1. Terlalu Sering Membeli Sesuatu yang Nominalnya Kecil
“Cuma Rp10 ribu” atau “hanya Rp20 ribu” mungkin terasa tidak berarti. Masalahnya muncul ketika transaksi kecil tersebut dilakukan berkali-kali dalam sehari atau hampir setiap hari.
Contohnya membeli kopi, camilan, minuman dingin, ongkos tambahan, biaya parkir, hingga berbagai pembelian spontan melalui aplikasi. Satu transaksi mungkin tidak terasa berat. Namun, jika dilakukan 20 hingga 30 kali dalam sebulan, jumlahnya bisa menjadi cukup besar.
Karena itu, jangan hanya memperhatikan transaksi bernilai ratusan ribu atau jutaan rupiah. Pengeluaran kecil juga perlu dicatat.
Baca Juga: Honda Sonic 150R 2026 Cocok untuk Motor Harian? Ini yang Perlu Dipertimbangkan
2. Sering Checkout karena Promo
Promo memang terlihat seperti kesempatan menghemat uang. Namun, membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan hanya karena diskon tetap merupakan pengeluaran.
Misalnya, sebuah barang seharga Rp100 ribu mendapat potongan 50 persen. Harga akhirnya menjadi Rp50 ribu. Sekilas terlihat hemat Rp50 ribu. Tetapi jika barang tersebut tidak pernah direncanakan untuk dibeli, uang Rp50 ribu tetap keluar dari rekening.
Kebiasaan mengejar diskon, gratis ongkir, cashback atau flash sale dapat membuat seseorang membeli lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Hemat bukan berarti membeli barang dengan harga diskon. Hemat berarti tidak mengeluarkan uang untuk sesuatu yang memang tidak diperlukan.
3. Terlalu Sering Makan atau Minum di Luar
Makan di luar sesekali tentu bukan masalah. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensinya. Harga satu kali makan mungkin terlihat masih terjangkau. Namun jika dilakukan setiap hari, total pengeluaran bulanan dapat menjadi signifikan. Hal serupa berlaku untuk kopi, minuman kekinian, camilan dan pesan makanan melalui aplikasi.
Bukan berarti semua kebiasaan tersebut harus dihentikan. Salah satu cara yang lebih realistis adalah menentukan batas pengeluaran mingguan untuk makan dan minum di luar.
4. Tidak Memisahkan Kebutuhan dan Keinginan
Ini merupakan salah satu kebiasaan yang sering membuat anggaran berantakan.
Kebutuhan adalah sesuatu yang memang harus dipenuhi. Sementara keinginan biasanya muncul karena dorongan untuk memiliki atau mencoba sesuatu.
Masalahnya, keduanya sering dianggap sama. Sebelum membeli sesuatu, coba tanyakan tiga hal:
1.Apakah barang ini benar-benar dibutuhkan?
2.Apakah pembelian ini sudah direncanakan?
3.Kalau tidak membelinya hari ini, apakah ada masalah?
Jika jawabannya tidak, ada kemungkinan pembelian tersebut masih bisa ditunda.
Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Honda Sonic 150R 2026, Masih Menarik Dibeli?
5. Tidak Pernah Mengecek Pengeluaran Kecil
Banyak orang mengetahui berapa gaji yang diterima setiap bulan, tetapi tidak tahu ke mana uang tersebut pergi. Padahal, mencatat pengeluaran dapat membantu menemukan kebocoran anggaran.
Tidak perlu langsung menggunakan metode yang rumit. Catatan sederhana di ponsel pun cukup. Coba catat seluruh pengeluaran selama 30 hari. Setelah itu, kelompokkan menjadi beberapa kategori, misalnya:
Makanan — transportasi — tagihan — hiburan — belanja — kebutuhan rumah — lainnya.
Dari sana biasanya akan terlihat kategori mana yang paling banyak menyedot uang.
6. Menganggap Pembayaran Digital sebagai “Bukan Uang”
Kemudahan pembayaran digital membuat transaksi menjadi sangat cepat. Cukup beberapa kali menekan layar, pembayaran selesai. Di satu sisi, ini sangat membantu. Namun di sisi lain, transaksi yang terlalu mudah dapat membuat seseorang kurang merasakan “keluarnya uang”.
Pengeluaran menggunakan dompet digital, kartu, transfer instan maupun metode pembayaran lainnya tetap harus dimasukkan ke dalam anggaran. Jangan sampai saldo rekening berkurang sedikit demi sedikit tanpa pernah diketahui penyebabnya.
Baca Juga: Harga Honda Sonic 150R 2026 Tembus Rp29,2 Juta, Ini Spesifikasi Lengkap Motor Bebek Sport Honda
7. Tidak Membuat Batas Pengeluaran
Kesalahan terakhir adalah tidak memiliki batas yang jelas. Seseorang mungkin memiliki penghasilan tetap, tetapi jika tidak menentukan berapa yang boleh digunakan untuk makan, transportasi, hiburan dan belanja, uang akan cenderung mengikuti keinginan.
Daripada hanya mengatakan “bulan ini harus hemat”, lebih baik membuat batas yang konkret.
Misalnya:
Anggaran makan: RpX per minggu.
Hiburan: RpX per bulan.
Belanja nonkebutuhan: RpX per bulan.
Nominalnya tentu berbeda untuk setiap orang. Yang terpenting adalah memiliki batas yang realistis dan berusaha konsisten menjalankannya.
Bukan Berarti Harus Berhenti Menikmati Hidup. Mengatur keuangan bukan berarti tidak boleh membeli kopi, makan di luar, jalan-jalan atau membeli barang yang disukai.
Justru anggaran yang sehat seharusnya memberikan ruang untuk menikmati hasil kerja. Persoalannya adalah keseimbangan.
OJK juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan finansial yang positif, termasuk menabung dan membedakan kebutuhan dengan keinginan. Karena itu, salah satu eksperimen sederhana yang bisa dicoba pada September adalah “30 Hari Cek Kebocoran Uang”.
Caranya cukup sederhana. Selama 30 hari, catat semua transaksi tanpa terkecuali, termasuk pengeluaran yang hanya Rp5 ribu atau Rp10 ribu. Di akhir bulan, jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Lihat pola pengeluarannya.
Bisa jadi masalahnya bukan karena gaji terlalu kecil atau Anda terlalu sering belanja. Bisa saja uang habis karena terlalu banyak pengeluaran kecil yang selama ini tidak pernah dihitung.
Mulai dari Satu Kebiasaan, tidak perlu mengubah seluruh gaya hidup sekaligus. Pilih satu kebiasaan yang paling sering membuat uang keluar, kemudian coba kurangi selama satu bulan. Misalnya mengurangi pembelian impulsif, membatasi pesan makanan, atau mencatat seluruh transaksi harian.
Jika berhasil, barulah lanjutkan ke kebiasaan berikutnya. Sebab pada akhirnya, kondisi keuangan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak uang yang diperoleh, tetapi juga bagaimana uang tersebut dikelola.
Jadi, sebelum menyimpulkan bahwa gaji tidak pernah cukup, coba cek kembali: sebenarnya uang Anda habis untuk apa?. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi