RADARSEMARANG.ID - Semerbak aroma kopi memenuhi ruangan Kedai Sudut Kami. Harum itu keluar dari alat roasting yang sedang memproduksi olahan kopi.
Aroma ini menjadi daya tarik sendiri ketika mengunjungi kedai yang ada di Jalan Pengilon II, Bringin, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.
Para pengunjung bisa melihat secara langsung proses roasting yang dilakukan sang pemilik kedai, Suryo Edi.
"Begitu pengunjung masuk langsung disuguhi sama alat kopi, mesin roasting untuk menggoreng kopi, green bean menjadi roast bean gitu," jelasnya pada Jawa Pos Radar Semarang.
Ia menyebut, di dalam dunia kopi alat menjadi simbol fashion. Dengan diperlihatkan ke pengunjung, menurutnya memiliki nilai tambahan tersendiri.
"Saya tampilkan di sini biar customer yang notabenenya orang suka kopi pasti akan penasaran. Nah, tertarik. Semakin mantap, semakin yakin juga dan tahu di sini goreng sendiri, ada mesin roasting-nya, ada mesin espresonya gitu. Bagi penikmat kopi itu suatu yang nilai plus lah," bebernya.
Di sini, lanjutnya, ia menyediakan dua macam, yakni robusta dan arabica. Untuk jenis arabica, ia mengutamakan nusantara seperti dari Jawa Barat, Gayo Provinsi Aceh, Kerinci.
Sedangkan bagi pencinta robusta atau yang tidak menyukai asem ia menyediakan produk menggunakan produk tetangga, dalam hal ini di Sumowono, Bojo, Limbangan.
"Dulu saya kasih nama Limbas itu, kopi Limbas itu Limbangan Bojo dan Sumowono. Itu roh. Paling favorit kalau Robustanya menurut kami paling enak satu Indonesia ya di dari daerah kita ini, dia terkenal dengan kopi Javamokanya," beber dia.
Di kedai ini, tidak hanya kopi saja yang menjadi data tarik. Namun, ada menu beragam mi yang menjadi favorit pengunjung.
Meski mi instan, namun, dalam penyajiannya bukan sekedar rasa seperti pada umumnya. Namun juga ditambah racikan bumbu sendiri.
"Ada bumbu tambahan. Jadi kalau makan mie di sini, ini mi instan gitu ya kalau dimasak di sini beda dengan dengan masak di rumah sendiri, karena ada tambahan bumbu sendiri. Memang ada racikan khusus lagi. Jadi ngopi sambil nge-mi," ucapnya.
Di sisi lain, di jaman sekarang, banyak sekali orang yang menyukai tempat nongkrong yang hidden gem atau tersembunyi.
Nah, di Kedai Sudut Kami ini cocok menjadi pilihan. Pasalnya lokasinya ada di dalam gang namun tetap strategis.
Kedai ini ada di lantai 2 dengan konsep ruangan industrial. Ada tempat makan lesehan maupun duduk.
Di tengah-tengah ruangan terdapat taman mini yang menciptakan suasana asri. Kemudian di pojok ruangan, ada tempat untuk manggung yang biasa digunakan untuk pertunjukan musik maupun stand up komedi.
"Yang mengisi anak-anak UIN Walisongo biasanya. Sesempetnya mereka mau main kapan kami welcome. Jadi komunitas itu datang datang sendiri gitu. Dia sistemnya bukan ngamen, kita juga enggak bayar, mereka juga enggak kasih. Jadi setiap customer yang datang nteraksi, siapa yang mau main musik, siapa yang bisa nyanyi, gitar, silakan main di sini gitu," kata Edi.
Supaya nongkrong makin asik, Edi juga menambahkan fasilitas berupa buku dan beragam alat permainan seperti ular tangga, uno, monopoli, dan lainnya.
"Jadi misal jenuh ngobrol ya bisa pakai mainan simpel ini. Ada ular tangga, ada kartu, ada monopoli, ada macam-macam," tambah dia.
Di balik kedai yang sukses ini, ada cerita dibaliknya. Edi mengatakan sebelum kedai ini dinamai Sudut Kami, kafe ini mulanya bernama Kedai Kami yang berada di dekat kantor kecamatan Ngaliyan.
Selang waktu, kafe yang dibangun sejak 2018 tersebut pernah terbakar hingga menyebabkan Edi harus memutar otak untuk kembali bangkit. Dan akhirnya terwujudlah Sudut Kami yang memiliki ruang lebih luas. (ifa)
Editor : Baskoro Septiadi