Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Inilah Cara Melatih Kecerdasan Sosial Anak Usia di Bawah 7 Tahun, dari Meniup Lilin sampai Menangkap Ikan

Tasropi • Rabu, 1 Mei 2024 | 05:23 WIB

 

Aktifitas di luar ruangan dapat melatih kecerdasan sosial dan emosional anak.
Aktifitas di luar ruangan dapat melatih kecerdasan sosial dan emosional anak.

RADARSEMARANG.ID, MENDIDIK Anak seringkali menjadi beban pikiran tersendiri untuk orang tua.

 

Bagaimana melatih tumbuh kembang anak agar dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan dapat beradaptasi dengan realita kehidupan menjadi pekerjaan rumah yang terus menerus harus dilkerjakan.

Banyak hal yang perlu dilatih dari tumbuh kembang anak, salah satunya yaitu kecerdasan sosial.

Baca Juga: Marak Virtual Blind Date di Kalangan Mahasiswa, Ini Kata Psikolog

Menurut penelitian sejumlah Psikolog pada suatu Jurnal mengatakan bahwa kecerdasan sosial merupakan faktor yang menentukan pencapaian puncak seseorang dan keberhasilan realisasi diri ( Sudneva, Karaulova & Bogomaz, 2013 ).

Kecerdasan sosial anak usia 6-7 tahun dicirikan oleh sifat-sifat struktural, yang dinyatakan oleh komponen-komponen yang kompleks (pengaturan diri, harga diri, interaksi interpersonal):

Harga diri pada anak-anak kelompok usia ini adalah kemampuan untuk menilai diri sendiri dan orang lain secara memadai, bersama dengan tindakan dan perilaku mereka sendiri dan orang lain.

Baca Juga: Konseling Kognitif Perilaku Kurangi Prokrastinasi Akademik pada Siswa

Pengaturan diri pada anak kelompok usia ini adalah kemampuan untuk mengontrol tindakan dan perilakunya.

Interaksi interpersonal pada anak kelompok usia ini adalah kemampuan untuk berhasil membangun komunikasi dan interaksi, menyelesaikan situasi konflik, dan mencegah terjadinya konflik .

Cara melatih anak berikut ini mengupayakan pembentukan model perilaku yang berfokus pada pengakuan sosial, yang memungkinkan keberhasilan sosialisasi dan adaptasi sosial.

 

  1. Ajari anak tentang emosi, perasaan diri dan rasa empati pada orang lain
  2. Dukung anak untuk lebih banyak berinteraksi dengan orang lain
  3. Selalu mulai dengan pertanyaan, agar memacu anak untuk berpikir sebelum bertindak
  4. Tunjukkan rasa peduli pada anak
  5. Jangan paksa anak untuk berbagi, tapi pahamkan anak soal kepemilikan
  6. Ajarkan anak cara memperhatikan perasaan orang lain. ...
  7. Tidak asal memuji anak. Apa yang menjadi kewajiban apresiasi seperlunya, sedangkan pencapaian prestasi anak perlu diberi penghargaan.

Berikut bentuk kegiatan yang dapat melatih kecerdasan emosi anak :

 
1. Bermain Boneka
 
Bermain boneka merupakan contoh permainan yang bagus untuk mengasah keterampilan sosial emosional anak.
 
Karena, permainan ini baik untuk mengasah imajinasi, kreativitas dan empati anak, terlepas apa pun jenis kelamin mereka.

Selain itu, bermain boneka juga dapat meningkatkan keterampilan sosial anak. Ini karena anak-anak akan belajar berkomunikasi yang mampu membantu mereka mempelajari kosakata baru.

Saat mengajak dan menemani anak bermain peran, coba pancinglah imajinasi mereka untuk membuat jalan cerita dari kegiatan sehari-hari.
 
Baca Juga: Unik! Tradisi Cowong, Boneka Terbang Asal Kebumen, Begini Asal Mulanya

Misalnya, ketika anak diberikan dua boneka, ia akan otomatis membuat permainannya hidup dengan menciptakan percakapan antar boneka. 
 
Anda dapat mengajarkannya membuat jalan cerita bahwa salah satu boneka yang dimainkan sedang sakit, kemudian boneka lainnya menghibur atau menemani boneka yang sedang sakit tersebut.

Selanjutnya, biarkan anak Anda menyampaikan perasaan dan pendapatnya mengenai tokoh yang ia perankan.
 
Selain melatih anak untuk berimajinasi dan memecahkan masalah, cara ini dapat membantu meningkatkan kemampuan empati dan bersosialisasi sekaligus mengajarkannya untuk menanam hal-hal kebaikan.

Contoh lainnya, anak juga dapat belajar merawat diri lewat permainan boneka dengan menggantikan pakaiannya, memasangkan kancing dan ritsleting, menyisir dan mendandani rambut, hingga menidurkan boneka.

Anda bisa meminta anak memastikan bonekanya dalam keadaan baik serta berimajinasi tentang apa yang diinginkan atau dibutuhkan boneka tersebut.

Supaya lebih menyenangkan, undang teman-temannya untuk bermain bersama. Dengan demikian Anda akan dapat memperhatikan bagaimana anak berinteraksi, bernegosiasi, dan menghadapi konflik ketika sedang bermain bersama teman-temannya.
 
 
2. Bermain Watak, Bermain Peran dan pura-pura untuk melatih emosi anak
 
Role play atau bermain peran merupakan salah satu contoh permainan sosial emosional yang bagus untuk anak usia dini.
 
Dengan bermain peran, anak bisa belajar tentang berbagai kondisi dan situasi sehari-hari yang pernah ia lihat dari orang dewasa di sekitarnya.

Permainan role play cocok untuk mengasah imajinasi dan kreativitas anak, melatihnya berkomunikasi, berempati, sekaligus mengajarkan cara menyelesaikan masalah dari “skenario” yang berbeda-beda.
 
Memutuskan siapa yang akan “berakting” sebagai siapa bisa jadi kesempatan untuk anak belajar bernegosiasi dan bergiliran, lho!

Sebagai contoh, anak berpura-pura memasak atau menyapu karena sehari-harinya melihat Bunda melakukan aktivitas tersebut di rumah.
 
Contoh lainnya, anak berpura-pura menjadi dokter yang memeriksa dan menyembuhkan pasien karena si Kecil beberapa kali pernah diajak Bunda pergi ke dokter.

Lewat permainan ini, anak-anak bisa mempraktikkan bagaimana seorang karakter itu berdialog dan berperilaku dari situasi-situasi yang mungkin pernah mereka amati sebelumnya.
 
Anak juga bisa terpacu menggunakan imajinasinya untuk “menghidupkan” skenario cerita yang ada di di dalam benaknya.

Bunda hanya perlu menyediakan alat peraga, kostum, dan peralatan yang sesuai dengan tema role play anak, dan biarkan anak bermain mewujudkan imajinasinya.

3. Menggambar Ekspresi Wajah Seperti Emoticon
 
Di usia ini, anak sudah mulai bisa menunjukkan berbagai macam emosi. Entah itu sedih, senang, marah, ataupun kesal.

Anak-anak ini perlu mengenal dan memahami emosi serta perasaannya agar kelak ia bisa berkomunikasi dengan efektif, membangun hubungan yang lebih baik, dan menghindari atau menyelesaikan konflik.

Mengenal emosi juga dapat membantu anak mengekspresikan apa yang anak rasakan atau butuhkan dengan jelas.

Oleh karena itu, Anda dapat mengajarkan mereka bagaimana mengenali dan mengekspresikan perasaan dengan cara yang sehat.
 
Salah satu caranya dengan mengajak anak menggambar ekspresi wajahatau memilih emoticon yang telah disediakan sebelumnya.

Melalui kegiatan ini, Bunda bisa membantu si Kecil mengenali beragam emosi. Mulai dari emosi yang baik sampai emosi yang tidak baik. Cara agar si kecil lebih bersemangat adalah Bunda bisa memintanya menggambar di kertas berwarna.

Pertama-tama, Anda dapat membagikan kertas berwarna kepada anak dan minta mereka untuk menggambar beragam jenis ekspresi, seperti senang, sedih, takut, sakit, dan marah.
 
Atau Anda menyiapkan sendiri gambar emoticon berbagai ekspresi untuk dibuat sebuah permainan.

Saat ia sudah selesai Anda dapat meminta anak-anak untuk mempraktikkan emosi tersebut.
 
Hal ini sangat bagus agar anak semakin tahu emosi yang ia rasakan.
 
Dengan begitu, emosi anakpun akan terasa stabil saat dewasa nanti.

Bila anak bisa mengenali emosi yang ditebaknya, Anda dapat memberikan pertanyaan kepadanya tentang apa penyebab emosi tersebut dan bagaimana solusi yang pantas diberikan kalau seseorang mengalami hal tersebut.

Misalnya, ketika anak mendapat kertas emosi menangis, Anda bisa langsung menanyakan kepada anak kira-kira apa penyebab temannya menangis dan apa yang harus dilakukan orang lain agar temannya berhenti menangis.

4. Meniup Lilin
 
Meniup lilin bisa menjadi permainan sosial emosional anak menarik.
 
Caranya sangat mudah. Anda bisa memberikan instruksi cara meniup lilin agar lilin bisa mati sempurna.

Setelah itu, Anda bisa menyuruh anak untuk mempraktikkannya dari jarak dua meter.
 
Jika anak bisa meniup lilin dari jarak tersebut, lanjut dengan menambah jaraknya.
 
Melalui kegiatan permainan ini, anak akan belajar cara bersabar, fokus, dan optimis. Tak ada salahnya memberi dukungan pada anak agar tidak mudah menyerah.

Meski terlihat sederhana, tapi permainan ini terbukti cukup ampuh untuk melatih emosi anak.
 
Beberapa anak bahkan mudah merasa kesal atau mudah menyerah saat tidak berhasil meniup lilin.
 
Namun, jika Anda terus memotivasinya, maka anak pun dapat melakukannya.
 
5. Menangkap Ikan
 
Permainan ini menarik dan menyenangkan terutama jika dengan mengajak teman-teman si anak.

Tidak hanya membangun sosialisasi dan interaksi. Permainan ini juga dapat membantu anak mengenali emosi.
 
Misalnya, anak merasa kesal dan kecewa karena tidak bisa menangkap ikan atau merasa senang saat berhasil menangkapnya.

Tak harus bermain dengan ikan hidup, Anda bisa menggantinya dengan ikan mainan.
 
 
Permainan ini kelihatannya sepele, namun siapa sangka kalau bermain kereta-keretaan juga dapat membantu mengasah kemampuan sosial dan emosional anak?

Ya! Bermain kereta-keretaan bisa dimainkan oleh sekitar 5-10 orang. Anda dapat mengajak teman-teman sepermainan anak untuk memainkan permainan ini.

Pertama, Anda bisa mulai dengan mengumpulkan kardus bekas atau yang tidak terpakai dan bagikan pada anak-anak.
 
Persiapkan pula peralatan menggambar dan minta anak-anak untuk menggambarkan lokomotif dan gerbong kereta di dinding bagian luar kardus yang mereka miliki.

Anak-anak juga bisa menggunakan spidol berwarna dan stiker agar masing-masing “gerbong”nya bisa mewakili karakter dan kepribadian masing-masing anak.
 
Setelah gerbong berhasil digambar, arahkan anak-anak untuk mengurutkan setiap kardus sehingga menyerupai sebuah deretan gerbong kereta sungguhan.

Minta anak memasuki gerbong miliknya masing-masing dan siap meluncur seperti kereta api sesungguhnya.
 
Agar lebih seru dan menyenangkan, minta anak-anak untuk memainkan kereta sambil bernyanyi “Naik Kereta Api”.

Permainan kereta-keretaan ini akan mengajarkan anak untuk bisa berbagi, saling tolong menolong, dan bekerja sama.

 
Demikianlah beberapa contoh kegiatan dan permainan yang dapat melatih kecerdasan sosial emosional anak usia di bawah 7 tahun.
 
Anda sebagai orang tua perlu banyak berinteraksi dengan tetangga agar dapat menjadi contoh buat anak, sedangkan sebagai guru kegiatan dan permainan ini dapat dimasukkan dalam silabus kegiatan belajar anak usia dini.
Editor : Tasropi
#gerbong kereta #Meniup Lilin #permainan sosial emosional anak #menangkap ikan #kecerdasan sosial #Kardus Bekas