RADARSEMARANG.ID, MENDIDIK Anak seringkali menjadi beban pikiran tersendiri untuk orang tua.
Bagaimana melatih tumbuh kembang anak agar dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan dapat beradaptasi dengan realita kehidupan menjadi pekerjaan rumah yang terus menerus harus dilkerjakan.
Banyak hal yang perlu dilatih dari tumbuh kembang anak, salah satunya yaitu kecerdasan sosial.
Baca Juga: Marak Virtual Blind Date di Kalangan Mahasiswa, Ini Kata Psikolog
Menurut penelitian sejumlah Psikolog pada suatu Jurnal mengatakan bahwa kecerdasan sosial merupakan faktor yang menentukan pencapaian puncak seseorang dan keberhasilan realisasi diri ( Sudneva, Karaulova & Bogomaz, 2013 ).
Kecerdasan sosial anak usia 6-7 tahun dicirikan oleh sifat-sifat struktural, yang dinyatakan oleh komponen-komponen yang kompleks (pengaturan diri, harga diri, interaksi interpersonal):
Harga diri pada anak-anak kelompok usia ini adalah kemampuan untuk menilai diri sendiri dan orang lain secara memadai, bersama dengan tindakan dan perilaku mereka sendiri dan orang lain.
Baca Juga: Konseling Kognitif Perilaku Kurangi Prokrastinasi Akademik pada Siswa
Pengaturan diri pada anak kelompok usia ini adalah kemampuan untuk mengontrol tindakan dan perilakunya.
Interaksi interpersonal pada anak kelompok usia ini adalah kemampuan untuk berhasil membangun komunikasi dan interaksi, menyelesaikan situasi konflik, dan mencegah terjadinya konflik .
Cara melatih anak berikut ini mengupayakan pembentukan model perilaku yang berfokus pada pengakuan sosial, yang memungkinkan keberhasilan sosialisasi dan adaptasi sosial.
- Ajari anak tentang emosi, perasaan diri dan rasa empati pada orang lain
- Dukung anak untuk lebih banyak berinteraksi dengan orang lain
- Selalu mulai dengan pertanyaan, agar memacu anak untuk berpikir sebelum bertindak
- Tunjukkan rasa peduli pada anak
- Jangan paksa anak untuk berbagi, tapi pahamkan anak soal kepemilikan
- Ajarkan anak cara memperhatikan perasaan orang lain. ...
- Tidak asal memuji anak. Apa yang menjadi kewajiban apresiasi seperlunya, sedangkan pencapaian prestasi anak perlu diberi penghargaan.
Berikut bentuk kegiatan yang dapat melatih kecerdasan emosi anak :
Selain itu, bermain boneka juga dapat meningkatkan keterampilan sosial anak. Ini karena anak-anak akan belajar berkomunikasi yang mampu membantu mereka mempelajari kosakata baru.
Saat mengajak dan menemani anak bermain peran, coba pancinglah imajinasi mereka untuk membuat jalan cerita dari kegiatan sehari-hari.
Misalnya, ketika anak diberikan dua boneka, ia akan otomatis membuat permainannya hidup dengan menciptakan percakapan antar boneka.
Selanjutnya, biarkan anak Anda menyampaikan perasaan dan pendapatnya mengenai tokoh yang ia perankan.
Contoh lainnya, anak juga dapat belajar merawat diri lewat permainan boneka dengan menggantikan pakaiannya, memasangkan kancing dan ritsleting, menyisir dan mendandani rambut, hingga menidurkan boneka.
Anda bisa meminta anak memastikan bonekanya dalam keadaan baik serta berimajinasi tentang apa yang diinginkan atau dibutuhkan boneka tersebut.
Supaya lebih menyenangkan, undang teman-temannya untuk bermain bersama. Dengan demikian Anda akan dapat memperhatikan bagaimana anak berinteraksi, bernegosiasi, dan menghadapi konflik ketika sedang bermain bersama teman-temannya.
Permainan role play cocok untuk mengasah imajinasi dan kreativitas anak, melatihnya berkomunikasi, berempati, sekaligus mengajarkan cara menyelesaikan masalah dari “skenario” yang berbeda-beda.
Sebagai contoh, anak berpura-pura memasak atau menyapu karena sehari-harinya melihat Bunda melakukan aktivitas tersebut di rumah.
Lewat permainan ini, anak-anak bisa mempraktikkan bagaimana seorang karakter itu berdialog dan berperilaku dari situasi-situasi yang mungkin pernah mereka amati sebelumnya.
Bunda hanya perlu menyediakan alat peraga, kostum, dan peralatan yang sesuai dengan tema role play anak, dan biarkan anak bermain mewujudkan imajinasinya.
3. Menggambar Ekspresi Wajah Seperti Emoticon
Anak-anak ini perlu mengenal dan memahami emosi serta perasaannya agar kelak ia bisa berkomunikasi dengan efektif, membangun hubungan yang lebih baik, dan menghindari atau menyelesaikan konflik.
Mengenal emosi juga dapat membantu anak mengekspresikan apa yang anak rasakan atau butuhkan dengan jelas.
Oleh karena itu, Anda dapat mengajarkan mereka bagaimana mengenali dan mengekspresikan perasaan dengan cara yang sehat.
Melalui kegiatan ini, Bunda bisa membantu si Kecil mengenali beragam emosi. Mulai dari emosi yang baik sampai emosi yang tidak baik. Cara agar si kecil lebih bersemangat adalah Bunda bisa memintanya menggambar di kertas berwarna.
Pertama-tama, Anda dapat membagikan kertas berwarna kepada anak dan minta mereka untuk menggambar beragam jenis ekspresi, seperti senang, sedih, takut, sakit, dan marah.
Saat ia sudah selesai Anda dapat meminta anak-anak untuk mempraktikkan emosi tersebut.
Bila anak bisa mengenali emosi yang ditebaknya, Anda dapat memberikan pertanyaan kepadanya tentang apa penyebab emosi tersebut dan bagaimana solusi yang pantas diberikan kalau seseorang mengalami hal tersebut.
Misalnya, ketika anak mendapat kertas emosi menangis, Anda bisa langsung menanyakan kepada anak kira-kira apa penyebab temannya menangis dan apa yang harus dilakukan orang lain agar temannya berhenti menangis.
4. Meniup Lilin
Setelah itu, Anda bisa menyuruh anak untuk mempraktikkannya dari jarak dua meter.
Meski terlihat sederhana, tapi permainan ini terbukti cukup ampuh untuk melatih emosi anak.
Tidak hanya membangun sosialisasi dan interaksi. Permainan ini juga dapat membantu anak mengenali emosi.
Tak harus bermain dengan ikan hidup, Anda bisa menggantinya dengan ikan mainan.
6. Bermain Kereta-Keretaan Sambil Bernyanyi
Ya! Bermain kereta-keretaan bisa dimainkan oleh sekitar 5-10 orang. Anda dapat mengajak teman-teman sepermainan anak untuk memainkan permainan ini.
Pertama, Anda bisa mulai dengan mengumpulkan kardus bekas atau yang tidak terpakai dan bagikan pada anak-anak.
Anak-anak juga bisa menggunakan spidol berwarna dan stiker agar masing-masing “gerbong”nya bisa mewakili karakter dan kepribadian masing-masing anak.
Minta anak memasuki gerbong miliknya masing-masing dan siap meluncur seperti kereta api sesungguhnya.
Permainan kereta-keretaan ini akan mengajarkan anak untuk bisa berbagi, saling tolong menolong, dan bekerja sama.