Makanan Viral Belum Tentu Enak, Kenapa Orang Tetap Rela Antre? Ini Alasannya

Sulistiono • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 13:36 WIB
Ilustrasi; Seringkali orang rela antre berjam-jam, berdesak-desakan untuk merasakan makanan disebuah tempat makan yang viral. Bukan hanya soal rasa, tapi terkadang fomo,yang menyebabkan orang rela antre. (ai/Sulistiono)
Ilustrasi; Seringkali orang rela antre berjam-jam, berdesak-desakan untuk merasakan makanan disebuah tempat makan yang viral. Bukan hanya soal rasa, tapi terkadang fomo,yang menyebabkan orang rela antre. (ai/Sulistiono)

 

RADARSEMARANG.ID – Fenomena makanan viral semakin mudah ditemukan di berbagai kota. 

Sebuah kedai yang sebelumnya tidak banyak dikenal bisa mendadak dipenuhi pembeli setelah produknya ramai dibicarakan di media sosial.

Menariknya, makanan yang sedang viral belum tentu dianggap enak oleh semua orang. 

Selera setiap orang berbeda, sementara ulasan di media sosial juga tidak selalu menggambarkan pengalaman yang sama bagi setiap konsumen.

Baca Juga: Jangan Asal Belanja! 7 Kesalahan Keuangan yang Sering Dilakukan di Awal Bulan

Meski demikian, antrean panjang tetap menjadi pemandangan yang umum terjadi. 
Bahkan, tidak sedikit orang yang rela datang lebih awal dan menunggu cukup lama hanya untuk mencoba makanan yang sedang menjadi perbincangan.

Lantas, mengapa makanan viral tetap menarik perhatian meski rasa bukan satu-satunya pertimbangan?

1. Rasa Penasaran Membuat Orang Ingin Mencoba

Salah satu alasan paling sederhana adalah rasa penasaran. Ketika sebuah makanan terus muncul di media sosial, konsumen yang sebelumnya tidak mengenalnya bisa terdorong untuk mencari tahu seperti apa rasanya.

Foto makanan yang menggugah selera, video proses pembuatan, hingga reaksi orang ketika mencicipinya dapat membuat rasa penasaran semakin besar.

Pada akhirnya, muncul keinginan untuk mencoba sendiri daripada hanya melihat pengalaman orang lain melalui layar.

2. Efek Media Sosial Sangat Besar
Media sosial membuat sebuah produk makanan dapat dikenal dalam waktu singkat.

Baca Juga: Honda BeAT Street 2026 Bukan Sekadar Tampil Beda, Ini yang Membuatnya Menarik

Satu video yang mendapatkan banyak penonton dapat mendorong pengguna lain ikut membuat konten serupa. 

Ketika semakin banyak orang membicarakan makanan tersebut, muncul kesan bahwa produk itu sedang menjadi tren.

Fenomena ini kemudian menciptakan efek berantai. Semakin ramai dibicarakan, semakin banyak orang yang ingin mencoba.

3. Antrean Panjang Justru Bisa Menjadi Daya Tarik

Antrean panjang terkadang dianggap sebagai tanda bahwa sebuah tempat memiliki sesuatu yang menarik.

Ketika seseorang melihat banyak orang rela menunggu, muncul pertanyaan:“Memangnya seenak apa makanan ini?”

Rasa penasaran tersebut dapat mendorong calon konsumen ikut masuk ke dalam antrean.

Dalam kondisi tertentu, antrean bahkan menjadi bagian dari pengalaman membeli makanan viral. 

Konsumen tidak hanya membeli makanan, tetapi juga mendapatkan cerita yang bisa dibagikan kepada teman atau pengikutnya di media sosial.

4. Ingin Ikut Tren

Tidak semua orang membeli makanan viral semata-mata karena ingin makan.

Sebagian konsumen juga ingin mengikuti tren yang sedang berlangsung.

Mencoba makanan yang sedang ramai kemudian mengunggah foto atau video ke media sosial dapat memberikan pengalaman sosial tersendiri. 

Konsumen merasa menjadi bagian dari sesuatu yang sedang dibicarakan banyak orang.

Hal ini membuat popularitas sebuah makanan tidak hanya ditentukan oleh rasa, tetapi juga oleh seberapa kuat makanan tersebut menjadi bagian dari percakapan di media sosial.

Baca Juga: Harga Yamaha Fazer FZ15 2027 Tembus Rp70 Jutaan, Kok Bisa Semahal Ini?

5. Tampilan Lebih Menjual daripada Rasa
Dalam era konten visual, tampilan makanan memiliki peran penting.

Makanan dengan warna menarik, bentuk unik, ukuran tidak biasa, atau penyajian yang berbeda lebih mudah menarik perhatian ketika difoto atau direkam.

Tidak mengherankan jika ada makanan yang popularitasnya melejit karena tampilannya terlebih dahulu, sebelum konsumen mengetahui bagaimana rasanya.

Namun, daya tarik visual belum tentu menjamin makanan tersebut cocok dengan selera setiap orang.

6. Takut Ketinggalan Tren
Fenomena ini sering dikaitkan dengan istilah fear of missing out (FOMO), yaitu kekhawatiran tertinggal dari sesuatu yang sedang dilakukan atau dibicarakan banyak orang.

Ketika teman, influencer, atau pengguna media sosial lain sudah mencoba makanan tertentu, seseorang bisa merasa perlu mencobanya juga.

Apalagi jika makanan tersebut dianggap hanya viral dalam waktu singkat. Keinginan untuk segera mencoba semakin besar karena konsumen tidak ingin menjadi orang yang “ketinggalan tren”.

7. Pengalaman Lebih Penting daripada Penilaian Rasa
Bagi sebagian konsumen, pengalaman mencoba makanan viral merupakan hal yang lebih penting daripada sekadar menentukan apakah makanan tersebut enak atau tidak.

Datang ke lokasi, mengantre, melihat proses pembuatan, membeli produk yang sedang populer, kemudian membagikan pengalaman di media sosial dapat menjadi bagian dari aktivitas hiburan.

Karena itu, makanan viral sebenarnya tidak selalu menjual rasa. Dalam banyak kasus, yang dijual juga adalah pengalaman, cerita, tren, dan rasa penasaran.

Viral Bukan Jaminan Semua Orang Akan Suka
Popularitas sebuah makanan di media sosial tidak otomatis berarti makanan tersebut cocok untuk semua orang.

Selera, ekspektasi, harga, pelayanan, hingga pengalaman saat mengantre dapat memengaruhi penilaian konsumen.

Karena itu, makanan viral sebaiknya tetap dinilai secara objektif. Ulasan dari orang lain bisa menjadi referensi, tetapi pengalaman setiap konsumen tetap dapat berbeda.

Pada akhirnya, fenomena makanan viral menunjukkan bahwa keputusan seseorang untuk membeli makanan tidak hanya dipengaruhi oleh rasa.

Di era media sosial, rasa penasaran, tren, tampilan, rekomendasi, dan keinginan untuk ikut dalam sebuah fenomena juga bisa membuat orang rela mengantre demi satu porsi makanan. (sls)

Editor : Baskoro Septiadi
MakananViral KulinerIndonesia MakananKekinian WisataKuliner TrenKuliner