RADARSEMARANG.ID, Namanya Bika Ambon, tapi bukan dari Ambon.
Kue berwarna cokelat keemasan dengan tekstur kenyal dan lubang-lubang seperti sarang lebah ini justru jadi ikon kuliner Medan, Sumatera Utara.
Rahasianya ada di 1 bahan: tuak.
Penasaran dari mana asal Bika Ambon, kenapa pakai tuak, dan gimana ceritanya bisa jadi oleh-oleh wajib Medan?
Ini sejarah lengkap Bika Ambon yang belum tentu kamu tahu.
1. Apa Itu Bika Ambon? Ciri & Bahan Utama
Bika Ambon adalah kue basah khas Medan yang punya 3 ciri khas:
1. Warna: Cokelat keemasan
2. Tekstur: Kenyal, lembut, dan bersarang seperti sarang lebah
3. Rasa: Gurih manis dari santan
Baca Juga: Batagor Bandung: Sejarah, Varian, dan Cara Membuat Batagor Renyah Gurih di Rumah
Bahan utamanya: Tepung tapioka, santan, telur, gula, dan tuak.
Fermentasi adonan dengan tuak - anggur palem lokal inilah yang menciptakan rongga unik di dalam kue.
Tanpa tuak, bukan Bika Ambon Medan.
2. Asal-Usul Bika Ambon Masih Misteri
Meskipun sudah jadi simbol Medan, asal-usul Bika Ambon belum jelas 100%.
Ada 2 teori besar:
1. Dipengaruhi Tionghoa: Kue ini pertama kali populer dijual oleh pembuat kue Tionghoa di Batavia tahun 1890-an.
2. Dipengaruhi Ambon/Portugis: Nama 'Ambon' diduga dari penjelajah Portugis yang mendarat di Ambon tahun 1512 dan membawa tradisi kue bika dan bingka.
Yang pasti, kue bernama "bika" sudah ada sejak awal abad ke-20.
Baca Juga: 3 Agustus, Hari Penuh Jejak Sejarah Dunia dan Indonesia
3. Jejak Bika di Nusantara & Dunia: Dari Bingka ke Bibingka
Kata "Bika" ternyata punya saudara di banyak negara.
- Bika/Bibingka/Bebika: Kue dari tepung beras + kelapa parut + gula merah. Masih ada di Sumatera Barat.
- Bingka: Dari tepung beras + telur + santan + gula kelapa.
- Bibingka: Versi Filipina
- Bibinca: Versi Goa, India
Artinya, konsep kue fermentasi dari tepung dan santan sudah keliling dunia sejak lama.
4. Bika Ambon di Batavia 1890-an: Skandal & Puncak Popularitas
Bika Ambon pertama kali ngetop di Batavia sekarang Jakarta* tahun 1890-an. Dijual oleh toko kue Tionghoa.
Tapi ada drama: Tahun 1896, sebuah keluarga di Kwitang jatuh sakit setelah makan bika ambon dari penjual bernama *Ki Kio Nio*. De Locomotief 10-02-1896 memuat beritanya.
Meski begitu, pamornya naik. Tahun 1930-an jadi puncaknya.
Toko Het Hoenkwe Huis di Petjenongan dan Tepoeng Hoenkwee tjap "Bunga" milik Njonya Tjoa Tjoen Goan jualan Bika Ambon bareng Kwee Pepe dan Lapis.
Catatan: Resep Bika Ambon Jawa 1930-an beda. Pakainya tepung tapioka, gula, santan, dan ragi.
Dipanggang dan ditabur kacang kenari. Resep ini pernah dimuat di Penjebar Semangat 09-09-1939.
5. Lahirnya Bika Ambon Versi Medan: Tuak sebagai Kunci
Nah, Bika Ambon Medan versi sekarang* baru muncul sekitar 1943, masa pendudukan Jepang.
Dijual pertama kali oleh Restoran Tah Tau di Kesawan No 79 menurut Kita Sumatora Sinbun 12-11-1943.
Yang bikin beda: tidak pakai ragi, tapi pakai tuak.
Tuak sebagai agen pengembang alami menghasilkan tekstur "sarang lebah" yang tidak tertandingi.
Resep ini kemudian dicatat di buku Mustikarasa 1967 dan jadi standar.
6. Bika Ambon Favorit Presiden Soekarno
Tahun 1950-1960-an, Bika Ambon sudah sangat terkenal di Jakarta dan Jawa.
Bahkan Presiden Soekarno sangat suka Bika Ambon.
Kue ini disajikan sebagai makanan khas Indonesia saat Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.
Dari sinilah Bika Ambon naik kelas jadi "kue diplomatik" Indonesia.
7. Boom Oleh-Oleh Medan Tahun 1980-an
Bika Ambon tidak dijual di Jalan Ambon. Awalnya cuma dijual dari dapur _home made_.
Tapi semangat kewirausahaan pengusaha Tionghoa Indonesia di tahun 1980-an yang membuat Bika Ambon meledak sebagai oleh-oleh khas Medan.
Sekarang hampir semua toko oleh-oleh di Medan wajib punya Bika Ambon. Dari yang original sampai varian pandan, keju, dan nangka.
Perbedaan Bika Ambon Medan dan Bika Ambon Jawa
Bika Ambon Jawa tahun 1939 memiliki perbedaan mencolok dengan Bika Ambon Medan yang kita kenal sekarang.
Dari segi bahan pengembang, versi Jawa 1939 masih menggunakan ragi, sementara Bika Ambon Medan menggunakan tuak yang membuatnya memiliki tekstur kenyal dengan rongga besar menyerupai sarang lebah.
Secara tekstur, Bika Ambon Jawa cenderung lebih padat dan biasanya ditaburi kacang kenari di atasnya, sedangkan versi Medan lebih lembut dan bersarang tanpa taburan.
Untuk cara memasaknya, resep 1939 dipanggang, sementara Bika Ambon Medan bisa dikukus maupun dipanggang.
Perbedaan paling mencolok ada pada ciri khasnya: Bika Ambon Jawa identik dengan taburan kacang, sedangkan Bika Ambon Medan dikenal karena rongganya yang besar dan berpori seperti sarang lebah.
Baca Juga: Roberto Carlos Mualaf? Fakta Pernikahan Islami & Kabar Masuk Islam Legenda Brasil
Fakta Unik Bika Ambon
1. Bukan dari Ambon: Namanya Ambon tapi lahir dan besar di Medan.
2. Tuak = Jiwa Bika Ambon: Tanpa tuak, rongganya tidak akan sebesar itu.
3. Tahan 3-4 Hari: Karena kadar santannya tinggi, harus segera habis.
4. Varian Modern: Sekarang ada Bika Ambon mini, Bika Ambon panggang, sampai Bika Ambon coklat.
Akulturasi Kuliner
Bika Ambon menjadi bukti akulturasi kuliner. Dari resep Portugis, Tionghoa, Jawa, sampai akhirnya "disempurnakan" orang Medan dengan tuak.
Dari skandal 1896 di Batavia, jadi kue favorit Soekarno di 1955, sampai jadi raja oleh-oleh Medan di 1980-an.
Jadi kalau ke Medan, jangan lupa bawa pulang Bika Ambon. Cari yang teksturnya kenyal dan lubangnya besar-besar ya. Itu tanda tuaknya pas. (tas)
Editor : Tasropi