RADARSEMARANG.ID, Semarang - Sebagai Pusat Ibu Kota Jawa Tengah, Kota Semarang menjadi salah satu kota yang hidup 24 jam. Hal ini pun berdampak dengan semakin berkembangnya pusat kuliner malam.
Salah satunya Kuliner Kauman Johar, yang menjadi pusat kuliner halal di Kota Semarang. Hanya buka tiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu mulai pukul 17.00 WIB - 22.00 WIB. Melibatkan sebanyak 150 UMKM, perputaran uang bisa mencapai Rp 100 juta.
Menjelang adzan magrib, ratusan pedagang mulai menata barang dagangannya. Mereka mulai ramai memadati Jalan Ki Narto Sabdo.
Tepatnya depan masjid Kauman, kawasan Ki Narto Sabdo depan Metro sampai depan Pasar Johar, Jalan Agus Salim.
Berbagai jajanan tradisional sampai modern semua ada. Makanan dan minuman semua lengkap. Warga bisa datang dan memilih sesuai kantong dan selera.
Ya itulah suasana di Kuliner Kauman Johar. Sekarang menjadi pusat kulineran halal yang nyaman di Kota Semarang.
“Kuliner Kauman buka tiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu mulai pukul 17.00 WIB - 22.00 WIB,” kata Ketua Yayasan Badan Wakaf Masjid Agung Semarang, KH Khammad Ma'sum Al-Hafidz.
Kuliner Kauman kembali bergeliat setelah penataan Alun-alun Masjid Agung Semarang. Kebijakan Pemkot melarang untuk berbisnis kuliner di dalam alun-alun. Akhirnya, diputuskan membuat pusat kuliner di sekitar kawasan Kauman.
“Alhamdulillah gayung bersambut, masyarakat menyambut baik, dan antusiasme masyarakat luar biasa untuk membangkitkan kuliner Kauman,” ujarnya.
Diresmikan 1 September dengan nuansa baru dengan Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu.
Konsep baru ini ternyata mampu menarik minat masyarakat untuk kulineran. Bahkan ke depan akan dijadikan destinasi wisata kuliner halal di Kota Semarang. Omzet seluruh para pedagang dan perputaran uang di di kuliner Kauman cukup tinggi.
"Satu malam bisa Rp 100 juta dari 150 UMKM. Ini potensi perekonomian yang sangat besar,” tambahnya.
Untuk menarik minat warga, kuliner Kauman dilengkapi dengan hiburan menarik. Berupa musik dari beberapa kampus, seperti Unwahas, Unika, dan UIN Walisongo. Selain band-band cafe yang ikut memeriahkan. "Kalau tidak bermain, kami ajak kesini," katanya.
Wakil Ketua Kuliner Kauman Johar, Syahrul Qirom, mengungkapkan beberapa evaluasi dilakukan. Seperti menyediakan kantong parkir resmi karena banyak keluhan pengunjung maraknya parkir liar dengan tarif yang jauh di atas normal. Motor Rp 5 ribu, mobil Rp 10 ribu.
Sehingga panitia mengantisipasi dengan menyediakan kantong parkir yang resmi di Basement Parkir Alun-alun, Gedung Parkir Masjid Agung Semarang, dan sepanjang Jalan Kauman. Tarifnya sebagaimana Dishub perlakukan, untuk mobil Rp 3 ribu, dan motor Rp 2 ribu.
Setelah Wali Kota Semarang memutuskan di dalam Alun-alun harus steril dari jual beli, khusus untuk menikmati kuliner.
Sehingga pengunjung lebih nyaman menikmati kuliner dan hiburan. Beberapa kursi dan meja dipersiapkan.
Ada juga lesehan. Setelah belanja kuliner, para pengunjung dapat menikmati kuliner dan hiburan di dalam Alun-alun dengan nyaman.
Makanan di Kuliner Kauman Johar yang banyak dicari yakni makanan halal kekinian. Seperti Steak Viral, Bakso Goreng Mekar, Jamu Jun, Nasi Kebul, aneka minuman, berbagai jenis kue dan roti. Khusus nasi kebuli, beberapa macam disajikan.
Seperti kebuli daging sapi, daging kambing, dan telur. "Kalau dari telur Rp 15 ribu per porsi. Kalau dari daging pilihan sapi atau kambing berkisar Rp 35 - 40 ribu per porsi," jelasnya.
Syahrul berharap Kuliner Kauman Johar meningkatkan perekonomian masyarakat dan jamaah masjid. Selain itu, kulineran ini dapat menjadi destinasi wisata di Kota Semarang sehingga semakin banyak wisatawan yang berkunjung.
Banyaknya kulineran malam di Kota Semarang menjadi berkah. Karena Kuliner Kauman Johar dan Kuliner Semawis seperti kakak beradik.
"Kami belajar dari Semawis, kesuksesan Kuliner Kauman Johar tidak lepas dari andil pengurus Semawis yang mengajari kami untuk membuat nyaman dan menarik orang banyak," katanya.
Kuliner Kauman Johar semakin unik karena menjadi pusat kuliner halal. Sedangkan Semawis memiliki ciri khas makanan China.
"Kita berdampingan, tidak ada persaingan. Sama-sama mengisi kemajuan dan membangkitkan perekonomian masyarakat di Kota Semarang," jelasnya.
Pedagang Kuliner Semawis Minta Stand Diperbanyak
Jumat (20/10) malam, Pasar Semawis ramai dikunjungi masyarakat. Pasar yang menyajikan kuliner malam di Gang Warung, Pecinan ini buka setiap weekend. Yakni tiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Puluhan stand berjejer rapi. Para pedagang pun menjajakan makanan mereka sambil menawari pembeli untuk datang. Ada pula live musik yang bisa dinikmati pengunjung. Disediakan pula kursi dan meja yang bisa digunakan pembeli untuk makan juga bersantai.
Salah satunya Parti, penjual es conglik ini sudah berjualan sejak awal dimulainya Pasar Semawis. Ia mengaku Pasar yang berada di Gang Warung ini memiliki menu beragam.
“Yang banyak dicari adalah makanan legend. Atau makanan khas Kota Semarang. Seperti es puter conglik miliknya. Lalu ada pula pisang plenet dan beragam menu lain,” ujarnya.
Baginya yang sempat menarik adalah ketika Pasar Semawis menghadirkan menu tujuh presiden saat festival kuliner dan jamu bulan September lalu.
Mulai dari menu kesukaan Presiden Soekarno hingga Presiden Joko Widodo. Namun gelaran tersebut hanya tiga hari.
"Yang paling banyak diburu itu makanan khas Kota Semarang apalagi kalau ada orang dari luar daerah, seperti es conglik ini kan makanan khas juga jarang yang punya," ungkapnya.
Sejak awal dibuka setelah Pandemi Covid-19. Pasar Semawis ramai, banyak yang berdagang juga banyak pembeli yang datang.
Namun karena aturan berjualannya diperketat, akhirnya tersaring 40 orang. Hal ini,kata dia, menjadi penyebab sepinya pembeli.
"Dulu awal buka ramai ada 80-an pedagang lebih tapi disaring lagi cuma 40 orang. Jadinya gini sepi pembeli ramainya pun biasa nggak sampe bejubel kaya dulu," imbuhnya.
Parti menyebut es conglik miliknya sudah berjualan sejak tahun 1955. Kala itu sang ayah menjual di daerah Pecinan untuk orang-orang Tionghoa. Es miliknya memiliki beragam varian, ada es puter conglik durian, kelapa, coklat, es teler, dan lain sebagainya.
Conglik karena dulu banyak anak-anak yang menjadi pramusaji, orang-orang Tionghoa menyebutnya kacung cilik, jadilah es ini disebut es conglik.
“Harapannya pengen kuliner di tambah lagi penjualnya karena dulu gerobak bisa masuk boleh jualan. Sekarang enggak, orang-orang dulu sampai antre mau beli sekarang sepi," tambahnya.
Salah satu pembeli Muflikhah mengaku baru pertama kali datang ke sini. Perempuan 32 tahun ini mengetahui ada Pasar Semawis dari media sosial.
"Di medsos kan bagus, ramai, banyak makanannya juga terus datang kesini mumpung di Semarang," ungkapnya.
Ia sengaja datang untuk membeli Choco Jelly. Sajian kelapa muda yang diolah seperti puding dengan taburan buah di atasnya. Menurutnya selain bisa datang untuk makan, pembeli juga bisa melihat klenteng di sekitaran Pecinan.
"Bagus bisa lihat kelenteng juga, tapi sayangnya stannya kurang banyak jadi varian makanan sedikit," akunya.
Tambah Pusat Kuliner di Jalan Veteran
Pemkot Semarang dalam waktu dekat bakal menambah pusat kuliner akhir pekan. Yakni di Jalan Veteran dan Jalan Depok. Penataan akan dimulai dari pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Veteran ataupun di samping RSUP dr Kariadi.
Nantinya, jalan Veteran bakal disulap menjadi pusat kuliner. Apalagi banyak restoran ataupun rumah makan di jalan tersebut tepatnya di sebelah barat Simpang Kyai Saleh atau depan KPU Jateng.
"Dalam waktu dekat akan kita lakukan penataan PKl di Jalan Veteran dan samping Kariadi, nanti mereka akan dijadikan satu tempat," kata Plt Kepala Disdag, Fajar Purwoto.
Penataan PKL ini nantinya akan dipusatkan di Jalan Kedung Jati nomor 18 dan 22. Ditempat tersebut nantinya dibuat shelter sebagai pusat kuliner, untuk mendukung pusat kuliner di Jalan Veteran.
"Sosialisasi sudah kita lakukan, nanti mereka akan dijadikan satu di lahan milik KAI," tambahnya.
Sementara untuk di Jalan Depok, saat ini sudah menjadi pusat kuliner, mulai dari sore hingga malam hari. Kedepan lanjut dia, penataan nantinya bakal dilakukan di PKL yang menempel dengan RSUP Kariadi. "Akhir bulan ini atau November kita lakukan penataan,"pungkasnya. (fgr/kap/den/fth)
Editor : Baskoro Septiadi