Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Belajar Sejarah Semarangan dari Sudut Kafe Sekayoe “Gethe”

Muhammad Hariyanto • Minggu, 30 Juli 2023 | 18:56 WIB

 

Kafe Sekayoe “Gethe” yang terletak di Kampung Sekayu, salah satu wilayah bersejarah di Semarang.
Kafe Sekayoe “Gethe” yang terletak di Kampung Sekayu, salah satu wilayah bersejarah di Semarang.

RADARSEMARANG.ID - Di Kampung Sekayu, Semarang Tengah terdapat sebuah kafe. Persisnya berada di Jalan Sekayu Raya. Namanya juga mudah dikenal, Kafe Sekayoe "Gethe". Menu utama yang disajikan tentu saja kopi.

Kafe Sekayoe "Gethe",  berdiri belum lama, persisnya pada 2021. Pasangan suami istri Ari Purbono dan Harmeli merupakan pemilik kafe dengan nuansa kuno ini.

Terlihat, cafe tersebut minimalis. Lebarnya sekitaran lima meter, namun memanjang ke belakang.

Ada dua pintu keluar masuk pada ujung bangunan depan. Di tengah dua pintu terdapat sela dua jendela kayu yang menghadap jalan perkampungan. 

Dalam ruangan juga sangat sederhana. Kursi pengunjung hanya bahan kayu jadul. Bahkan, ada lesung yang diatasnya diberi kaca sebagi meja.

Kemudian, dalam ruangan juga ada peralatan pertukangan kuno yang dipaku dengan rangka rumah. Termasuk juga kendi air, yang digantung. 

Meski terkesan kuno, pengunjung yang datang bukan hanya orang dewasa bapak-bapak dan emak-emak. Namun, tak kalah juga, dari kalangan remaja, yang datang dengan pasangannya. 

Harmeli menjelaskan, mendirikan usaha kafe sudah merupakan keinginannya. Diawali juga untuk melestarikan budaya yang ada di dalam Kampung Sekayu. Seperti halnya, sastrawan terkenal NH Dini yang merupakan warga asli kampung tersebut.

"Kampung ini ternyata ditemukan dalam dokumen Kota Semarang, itu pernah jadi pusat pemerintahan pada 1670. Waktu itu Tumenggungnya, Prawiro Projo. Walaupun hanya 4 tahun. Maka di kampung ini ada kampung kepatihan, ada kampung tumenggungan, dan rumah-rumahnya itu masih ada sebagian," katanya.

Keinginan mendirikan kafe berlanjut pada 2021 ketika wilayah setempat menang lomba kelompok sadar wisata (Pokdarwis), dengan tema Kampung Tematik Sekayu.

Banyak orang yang kemudian studi banding, dan penasaran dengan bertanya-tanya tentang Kampung Sekayu.

"Banyak orang riset di kampung kita. Dan kita kebingungan menerima mereka. Akhirnya waktu itu kita (pengurus pokdarwis) berpikir, kita nyewa tempat ajalah gimana? Nah kebetulan ada sesepuh sini yang meninggal dan tempat ini kosong. Akhirnya saya berinisiatif menyewa," jelasnya.

Meski begitu, Harmeli dan suaminya belum memiliki modal. Otaknya terus berputar untuk merealisasikan keinginannya membuka usaha Kafe.

Akhirnya terbesit, menjual properti berupa tanaman bonsai miliknya yang pernah menjadi juara nasional.

"Awal dana membangun kafe ini dari bonsai, dibeli oleh kolektor Surabaya. Nah dari situ, Bismillah kita mulai bisnis kafe ini berdua. Laku Rp 110 juta. Dan itu jadi modal pertama," bebernya.

Di sela wawancara ini, Harmeli juga sibuk melayani pelanggannya. Sementara, Ari Purbono mengakui usaha ini dikelola bersama isterinya. Termasuk juga isterinya menjadi barista yang sebelumnya diajarinya.

"Awalnya istri juga belajar mulai dari cara bikin kopi, bikin rempah, masak. Isteri saya Hafidzah, ustadzah, dengan santri sekian banyak yang belajar Alquran, gak ada halangan. Mungkin dengar begini pada kaget," ungkap pria yang pernah menjadi anggota DPRD Kota Semarang.

Menu yang ditawarkan beraneka ragam. Termasuk ada kacang Sangan Bedagan, atau kacang Sekayu. Ari menyebut, kuliner kacang sangan ini sudah ada sejak 110 tahun lalu. Tidak digoreng dengan minyak, tapi memakai pasir.

Cara yang diyakini meminimalkan kandungan kolesterol. Kemudian ada makanan kentang, petis sekayoe, hingga aneka jajanan UMKM Sekayoe.

"Tagline kita kan Regane Murah Rasane Rak Kalah. Saya ingin menyajikan sesuatu yang enak itu gak mesti harus mahal. Kopi yang kita ambil dari biji kopi, langsung ke petaninya. Dan saya bersyukurnya di sini banyak UMKM yang terlibat. Nitip-nitip di sini," jelasnya.

Ari juga mengatakan, nama menu makanan termasuk kopi yang disajikan ada kaitannya dengan sejarah di kampung Sekayu, termasuk di Kota Semarang.

Seperti nama menu makanan pangsit cagak gendero, dan minuman lawang sewu. Menurutnya, hal ini untuk melestarikan adat dan sejarah di Kampung Sekayu.

"Cara saya mengenalkan makanan itu dengan sejarahnya. Sehingga orang minum atau makan itu tidak sekadar minum dan makan, biar ada kenangannya. Kita mesti cinta sama budaya kita dan bangga," katanya.

Ari Purbono mengakui, konsep barang perkakas jadul ini ada kaitannya juga dengan sejarah di Kampung Sekayu.

Seperti halnya Sekayu, pernah jadi pusat sentra kayu dalam artian Pekayon. Kayu tersebut pernah menjadi penyangga masjid Demak ketika pembangunan masjid dan kesultanan Demak.

"Dari konsep itu, kebetulan kok saya dapet tempat sewa rumah tua. Yang tengah ini 300 tahun usianya. Murni kayu semua bahkan fondasinya kayu. Ukiran di depan itu juga sezaman dengan Pangeran Diponegoro," jelasnya.

Tamu atau pengunjung yang datang tidak hanya dari dalam kota. Tapi sudah merambah dari Bali, Sumatera, Medan, Riau, Padang, Jakarta, Bandung. Bahkan, mereka juga ada yang melakukan studi banding ke tempat tersebut.

"Nanti saya ingin membuat museum semarangan di kafe ini. Jadi orang dateng ke kafe ini sekaligus belajar tahu semarang. Saya lagi ngumpulkan peta semarangan kayak tahun 1918. Terus buku-buku tentang semarang," terangnya.

Ari Purbono bersama istrinya akan terus mengembangkan usahanya tersebut. Keduanya juga berencana akan membuat menu kopi atau minuman baru dengan nama Soleh Darat.

Ari mengakui juga sudah menemui pihak keluarga Soleh Darat untuk minta izin menggunakan nama tersebut.

"Kopi nama Soleh Darat, karena beliau ulama besar, ya saya carikan kopi, yang lokal tapi juga menasional. Ini masih cari, juga nyari petaninya. Syukur-syukur prosesnya itu, ya menjiwai mbah Soleh Darat," jelasnya.

Harmeli sedang meracik kopi untuk pengunjung.
Harmeli sedang meracik kopi untuk pengunjung.
 

Barista yang Seorang Hafidzah

Barista Kafe Sekayoe “Gethe” adalah perempuan bernama Harmeli. Tak disangkanya, perempuan ini merupakan seorang hafidzah alias penghafal Alquran. 

"Saya dulu di pesantren Al Irsyad Pekalongan. Mulai menghafal itu saya masih usia 24 tahun. Alhamdulillah, 15 bulan di pondok selesai, tahun 2000 sudah hafal Alquran," ungkap Harmeli kepada Jawa Pos Radar Semarang Sabtu (29/7).

Perempuan kelahiran Cirebon, 26 September 1974, menekuni sebagai barista sejak membuka usaha tersebut bersama suaminya, Ari Purbono.

Awalnya, Harmeli tidak bisa sama sekali meracik kopi. Namun setelah belajar ilmu dari suaminya, kini lincah meramu sajian kopi untuk pengunjung. 

"Diawali suka kopi dulu, kan kopi juga banyak manfaatnya juga. Dulu sukanya kopi cappucino latte. Terus diajarin juga sama suami, sampai takaran kopi, gulanya. Awalnya bingung juga. Tapi terus belajar. Kalau bapak pergi, saya belajar. Kadang yang nyoba ya beliau (suami). Akhirnya bisa," bebernya. 

Menu kopi, ada enam nama. Empat diantaranya bernama Kopi Mas Wali, terbuat biji kopi luwak liar asli dari Lombok. Kopi Mas Dewan, bahan Arabica. Kopi Mbak Wali, bahan Liberika. 

"Belajar membuat menu kopi, tidak sampai berhari-hari. Saya ngeliatin suami kalau bikin kopi. Kalau untuk mendalami rasa-rasanya ya itu versi saya aja," jelasnya. (mha/ton)

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Kafe #Kuliner Semarang