Dosen UMK Menguatkan Kapasitas dan Kemandirian Tunanetra melalui Kepewaraan dengan Broadcast Braille Book

H. Arif Riyanto • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:08 WIB
Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Muria Kudus (UMK) menggelar kegiatan Pendampingan Pengembangan Broadcast Braille Book di Aula Lt. 2 PPS Pendowo Kudus.
Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Muria Kudus (UMK) menggelar kegiatan Pendampingan Pengembangan Broadcast Braille Book di Aula Lt. 2 PPS Pendowo Kudus.

RADARSEMARANG.ID, Kudus– Di tengah derasnya arus digitalisasi, penyandang tunanetra kerap tertinggal karena terbatasnya akses bahan bacaan dan rendahnya keterampilan teknologi.

Menjawab tantangan itu, Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Muria Kudus (UMK) menggelar kegiatan Pendampingan Pengembangan Broadcast Braille Book sebagai upaya penguatan literasi sekaligus keterampilan kepewaraan digital bagi penyandang disabilitas netra.

Kegiatan dilakukan selama 8 bulan dimulai Mei-Desember 2B026.

Kegiatan tatap muka berlangsung di Aula Lt. 2 PPS Pendowo Kudus pada  Juli dan Agustus 2026, secara berkala selama dua hari setiap minggu, dan diikuti oleh 58 peserta dari unsur penerima manfaat yang berasal dari komunitas tunanetra, pendamping, serta pegiat literasi inklusif.

Ketua Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muria Kudus M. Arsyad Fardani, M.Pd.menjelaskan, kegiatan ini lahir dari keprihatinan bersama akan keterbatasan akses terhadap bahan bacaan inklusif bagi penyandang tunanetra.

Sebab, meskipun teknologi berkembang pesat, ketersediaan buku Braille konvensional masih terbatas dan mahal.

“Oleh karena itu, inovasi Broadcast Braille Book yang memadukan konten braille dengan platform audio menjadi terobosan untuk memberikan akses literasi yang lebih luas, murah, dan mudah diakses kapan saja,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang

Pendampingan Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Muria Kudus (UMK) kepada unsur penerima manfaat yang berasal dari komunitas tunanetra, pendamping, serta pegiat literasi inklusif
Pendampingan Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Muria Kudus (UMK) kepada unsur penerima manfaat yang berasal dari komunitas tunanetra, pendamping, serta pegiat literasi inklusif

Lebih dari itu, lanjut dia, format audio yang diusung inovasi ini membuka ruang baru bagi penyandang tunanetra untuk mengasah keterampilan kepewaraan digital, yakni kemampuan menyuarakan, memproduksi, dan menyiarkan konten literasi secara mandiri.

“Sehingga mereka tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga pewara yang karyanya dapat dinikmati publik luas,” katanya.

Selain itu, lanjut Arsyad, kegiatan ini bertujuan mencetak penyandang tunanetra yang tidak hanya mampu membaca, tetapi juga memiliki literasi digital yang mumpuni yakni kemampuan bernavigasi, berkreasi, dan berkomunikasi di ruang digital secara cerdas dan bertanggung jawab.

Salah satu wujud nyata literasi digital tersebut adalah keterampilan kepewaraan digital: seni menyuarakan konten, mengelola produksi audio, dan menyiarkan karya kepada khalayak luas.

“Dengan kombinasi keduanya, penyandang tunanetra bertransformasi dari sekadar konsumen informasi menjadi produsen dan penyiar konten literasi yang mandiri. Mereka tidak lagi berada di pinggiran, tetapi berpartisipasi aktif dan setara dalam ruang digital,” bebernya.


Broadcast Braille Book: Jembatan Literasi yang Menyuarakan Karya

Dijelaskan, Broadcast Braille Book merupakan inovasi media literasi yang memadukan teks braille dengan format audio digital.

Tidak seperti buku braille konvensional yang tebal, mahal, dan terbatas jumlahnya, Broadcast Braille Book memungkinkan materi bacaan disajikan dalam bentuk audio yang dapat diakses melalui berbagai platform seperti youtube dan media sosial lainnya.

Lebih dari sekadar menyediakan akses baca, Broadcast Braille Book adalah pintu harapan bagi penyandang tunanetra untuk membuktikan bahwa mereka mampu berkarya.

Kegiatan tatap muka berlangsung di Aula Lt. 2 PPS Pendowo Kudus pada  Juli dan Agustus 2026, secara berkala selama dua hari setiap minggu.
Kegiatan tatap muka berlangsung di Aula Lt. 2 PPS Pendowo Kudus pada  Juli dan Agustus 2026, secara berkala selama dua hari setiap minggu

“Jika selama ini mereka hanya bisa menunggu orang lain membacakan, kini merekalah yang bersuara,” ujarnya.

Peran penting ini dimungkinkan oleh penguatan keterampilan kepewaraan digital dalam membawakan konten dengan vokal yang hidup, merekam, mengedit, hingga menyiarkan karya ke ruang publik digital.

“Dengan bekal tersebut, penyandang tunanetra tidak lagi menjadi konsumen pasif yang hanya menerima informasi, melainkan produsen konten dan pewara yang karyanya didengar, dihargai, dan dinikmati oleh publik luas. Mereka tidak lagi menjadi bayang-bayang di ruang digital, melainkan sosok yang hadir dan diakui,” paparnya.

Lebih lanjut Arsyad Fardani menyampaikan, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyediaan buku, tetapi juga pada penguatan kapasitas sumber daya manusia.

“Kami tidak hanya memberikan ikan, tetapi juga kail. Para peserta kami bekali keterampilan kepewaraan mulai dari teknik menyuarakan buku, editing audio, hingga manajemen konten siaran. Jadi, mereka tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen konten literasi,” katanya.

Dan yang paling membanggakan, lanjut dia, keterampilan ini kelak membuka jalan bagi mereka untuk berdiri di depan sebagai pewara atau MC—di acara formal, seperti seminar, maupun acara santai seperti pentas seni komunitas.

Peserta dilatih membawakan konten audio yang hidup, jelas, dan mudah dinikmati pendengar.
Peserta dilatih membawakan konten audio yang hidup, jelas, dan mudah dinikmati pendengar.

Arsyad menjelaskan, pendampingan yang dilakukan Tim Pengabdian Masyarakat dari Universitas Muria Kudus terbagi dalam beberapa sesi praktis secara bertahap: Pertama, Pengenalan Teknologi Broadcast Braille Book;  peserta diperkenalkan pada perangkat lunak pembaca layar (screen reader), aplikasi perekaman audio, serta format Digital Accessible Information System (DAISY) yang ramah tunanetra.

Kedua, Pelatihan Kepewaraan; fokus pada teknik vokal, intonasi, artikulasi, dan penghayatan naskah.

Peserta dilatih membawakan konten audio yang hidup, jelas, dan mudah dinikmati pendengar.

Ketiga, Praktik Produksi Konten; peserta secara langsung mempraktikkan proses perekaman (recording) dan format audio yang siap disiarkan.

Keempat, Strategi Distribusi dan Promosi; peserta diajak memahami kanal distribusi digital seperti podcastYouTube, maupun platform radio komunitas, termasuk teknik promosi agar karya mereka menjangkau audiens yang lebih luas.

“Dengan pendekatan berbasis praktik ini, peserta tidak hanya memperoleh wawasan, tetapi juga portofolio karya nyata yang dapat menjadi modal awal kemandirian ekonomi,” tambahnya.

Salah satu peserta, Sandi, 28, mengaku, sangat antusias dan terbantu dengan pendampingan ini.

Baginya, pelatihan ini bukan sekadar menambah keterampilan teknis, melainkan membuka pintu kemandirian.

"Saya sangat bahagia bisa mengikuti pelatihan ini. Selama ini saya hanya bisa bermimpi untuk tampil di depan orang banyak. Kini, saya belajar menjadi MC mulai dari cara menyapa audiens, membawakan acara, hingga memandu diskusi. Rasanya luar biasa bisa memiliki keterampilan baru yang selama ini saya anggap mustahil. Ini memberi saya kepercayaan diri bahwa saya bisa berkarya dan dihargai, bahkan membuka peluang pekerjaan dan kemandirian bagi kami," tuturnya dengan mata berbinar.

Kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen Universitas Muria Kudus dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen Universitas Muria Kudus dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Senada dengan itu, Siti Masfuah selaku narasumber kegiatan menegaskan pentingnya pendekatan yang berpusat pada potensi penyandang disabilitas.

"Kami tidak ingin menjadikan mereka sekadar objek program. Kami ingin mereka menjadi subjek yang mampu berkarya, bersuara, dan setara bersaing di ruang digital. Kepewaraan ini adalah salah satu pintu masuknya," jelasnya.

Menuju Inklusi Sosial yang Berkelanjutan

Kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen Universitas Muria Kudus dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Menurut  Arsyad Fardani, keberlanjutan menjadi kata kunci utama program ini.

"Kami tidak ingin kegiatan ini hanya seremonial belaka. Oleh karena itu, setelah pendampingan awal ini, kami akan melanjutkan dengan program pendampingan berkala, magang produksi konten, serta pembentukan komunitas pewara tunanetra. Target kami sederhana: mereka bisa berdiri di atas kaki sendiri," ungkapnya.

Ke depan, lanjut dia, kolaborasi lintas sektor baik pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, maupun komunitas sangat dibutuhkan untuk memperluas jangkauan program.

“Dengan dukungan tersebut, Broadcast Braille Book dapat menjadi model pemberdayaan yang direplikasi di berbagai daerah,” katanya.

Kehadiran penyandang tunanetra sebagai pewara digital adalah bukti bahwa kesetaraan bukan sekadar wacana.

Dengan pendampingan yang tepat, teknologi yang aksesibel, dan ruang yang terbuka, keterbatasan fisik tidak lagi menjadi penghalang untuk berkarya dan diakui.

Melalui Broadcast Braille Book dan penguatan kepewaraan digital, penyandang tunanetra tidak lagi berada di pinggiran ruang digital.

Mereka hadir, bersuara, dan setara.

Lita Vokalita yang diwakili oleh Istiqory menyampaikan apresiasi dan harapan besarnya atas terselenggaranya kegiatan ini.

"Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas kegiatan pendampingan ini. Ini sangat bermanfaat bagi para penerima manfaat kami di panti. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut, tidak berhenti di sini saja. Sebab, keterampilan kepewaraan digital ini menjadi bekal berharga bagi penyandang disabilitas untuk memiliki keahlian lain. Selama ini, banyak dari mereka hanya mengandalkan keterampilan pijat atau massage. Dengan adanya pelatihan ini, mereka punya alternatif keterampilan baru yang bisa menjadi jalan menuju kemandirian," ujarnya penuh harap. (aro)

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : H. Arif Riyanto
PPS Pendowo Literasi universitas muria kudus Pengabdian kepada masyarakat braille