Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Universitas Muria Kudus Mantapkan Kearifan Lokal sebagai Identitas dan Keunggulan Institusi

H. Arif Riyanto • Selasa, 20 Januari 2026 | 14:28 WIB
Peserta dan narasumber Focus Group Discussion bertajuk Penguatan Kearifan Lokal sebagai Basis Pengembangan Akademik dan Institusional Universitas Muria Kudus, Selasa (20/1/2026).
Peserta dan narasumber Focus Group Discussion bertajuk Penguatan Kearifan Lokal sebagai Basis Pengembangan Akademik dan Institusional Universitas Muria Kudus, Selasa (20/1/2026).

RADARSEMARANG.IDKudus— Universitas Muria Kudus (UMK) terus meneguhkan komitmennya dalam menjadikan kearifan lokal sebagai identitas sekaligus keunggulan institusi pendidikan tinggi.

Komitmen tersebut ditegaskan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penguatan Kearifan Lokal sebagai Basis Pengembangan Akademik dan Institusional Universitas Muria Kudus” yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Universitas Muria Kudus, Selasa (20/1/2026).

FGD ini dipimpin langsung oleh Direktur Program Pascasarjana UMK Prof. Dr. Sri Utaminingsih, M.Pd.

Hadir sebagai narasumber Moh. Aslim Akmal, S.Pd., M.Pd. dan Dr. Drs. Mohammad Kanzunuddin, M.Pd.

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang IV Prof. Dr. Drs. Achmad Hilal Madjdi, M.Pd., jajaran pimpinan Pascasarjana, para Ketua Program Studi, serta dosen dari berbagai fakultas di lingkungan Universitas Muria Kudus.

FGD Penguatan Kearifan Lokal yang diselenggarakan Program Pascasarjana Universitas Muria Kudus, Selasa (20/1/2026).
FGD Penguatan Kearifan Lokal yang diselenggarakan Program Pascasarjana Universitas Muria Kudus, Selasa (20/1/2026).

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Sri Utaminingsih, M.Pd. menegaskan, kearifan lokal Kudus dan sekitarnya bukan sekadar warisan budaya, melainkan sumber nilai, pengetahuan, dan praktik sosial yang memiliki relevansi tinggi dalam pengembangan pendidikan tinggi masa kini.

Baca Juga: Audit Mutu Internal MPD UMK Siap Melaju Internasionalisasi

“Universitas Muria Kudus memiliki tanggung jawab akademik dan moral untuk menjaga, mengembangkan, dan mentransformasikan kearifan lokal menjadi kekuatan institusional. Ini bukan romantisme masa lalu, tetapi strategi masa depan,” ujar Prof. Sri Utaminingsih.

Ia menambahkan, Pascasarjana UMK berperan strategis sebagai think tank akademik dalam merumuskan arah pengembangan keilmuan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat yang berakar kuat pada konteks lokal, namun tetap berdaya saing nasional dan internasional.

Kearifan Lokal sebagai Basis Kurikulum Pendidikan Karakter

Salah satu bahasan utama dalam FGD adalah pengembangan kurikulum pendidikan karakter berbasis lokal.

Narasumber Moh. Aslim Akmal, S.Pd., M.Pd. menekankan pentingnya memasukkan nilai-nilai lokal Kudus—seperti toleransi, religiusitas, etos kerja, dan semangat kewirausahaan—ke dalam desain kurikulum secara sistematis dan terukur.

Menurutnya, pendidikan karakter akan lebih efektif jika dikontekstualisasikan dengan realitas sosial dan budaya tempat mahasiswa tumbuh dan belajar.

Baca Juga: Tim PKM-K Universitas Muria Kudus Kembangkan Cobset, Alat Makan Ramah Lingkungan dari Bonggol Jagung sebagai Teknologi Terbarukan

“Nilai-nilai lokal seperti filosofi Gusjigang—bagus akhlaknya, pandai mengaji, dan terampil berdagang—adalah contoh konkret bagaimana karakter, spiritualitas, dan produktivitas dapat dipadukan dalam pendidikan,” jelasnya.

Ia mendorong agar nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi diintegrasikan ke dalam capaian pembelajaran lulusan, metode pembelajaran, hingga asesmen akademik.

Wisata Edukasi sebagai Media Pembelajaran Kontekstual

Bahasan berikutnya mengangkat potensi wisata edukasi berbasis kearifan lokal.

Kudus dinilai memiliki kekayaan sejarah, religi, dan industri kreatif yang dapat dikembangkan sebagai laboratorium pembelajaran terbuka bagi mahasiswa.

Dr. Drs. Mohammad Kanzunuddin, M.Pd. menyampaikan, wisata edukasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana rekreasi, tetapi juga sebagai media pembelajaran interdisipliner yang menghubungkan teori dengan praktik lapangan.

“Mahasiswa dapat belajar sejarah, ekonomi, sosial, dan budaya secara langsung melalui wisata edukasi. Ini sejalan dengan konsep experiential learning yang saat ini banyak dikembangkan di pendidikan tinggi,” ungkapnya.

Ia mencontohkan kawasan Menara Kudus, sentra industri kretek, hingga desa-desa berbasis budaya sebagai potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata edukasi berbasis riset dan pengabdian masyarakat.

 

Kuliner Tradisional dan Kretek sebagai Identitas Budaya dan Ekonomi

FGD juga membahas kuliner tradisional dan rokok kretek sebagai bagian integral dari identitas budaya Kudus.

Para peserta sepakat bahwa kuliner lokal tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga nilai ekonomi dan potensi riset lintas disiplin.

Kuliner khas Kudus, seperti jenang dan berbagai makanan tradisional lainnya, dipandang sebagai objek kajian yang relevan dalam bidang teknologi pangan, kewirausahaan, pariwisata, hingga budaya.

Sementara itu, kretek dibahas sebagai warisan budaya sekaligus fenomena sosial-ekonomi yang memiliki sejarah panjang di Kudus.

Para akademisi menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dan objektif dalam mengkaji kretek, baik dari sisi sejarah, budaya, ekonomi kreatif, maupun kesehatan masyarakat. “Pendekatan akademik memungkinkan kita melihat kretek secara lebih komprehensif, tidak hitam-putih, tetapi berbasis data dan konteks,” ujar salah satu peserta FGD.

Islam Nusantara

Bahasan strategis lainnya adalah Islam Nusantara dan penguatan Pusat Studi Sunan Kudus.

Dalam diskusi, Islam Nusantara dipandang sebagai model Islam yang moderat, toleran, dan kontekstual, yang relevan untuk dikembangkan dalam kajian akademik dan pendidikan karakter.

Baca Juga: Pascasarjana Universitas Muria Kudus Lepas 115 Lulusan untuk Siap Berkontribusi Kepada Masyarakat

Dr. Kanzunuddin menekankan Sunan Kudus merupakan figur sentral dalam sejarah Islam Nusantara, khususnya dalam pendekatan dakwah yang mengedepankan kearifan lokal dan toleransi antarumat beragama.

“Nilai-nilai yang diwariskan Sunan Kudus sangat relevan dengan tantangan kebangsaan saat ini, termasuk dalam membangun harmoni sosial dan keberagaman,” ujarnya.

Pusat Studi Sunan Kudus diharapkan menjadi pusat unggulan riset dan kajian Islam Nusantara yang terintegrasi dengan program Pascasarjana UMK.

Pengembangan Pesantren Berbasis Kewirausahaan

FGD juga menyoroti pengembangan pesantren berbasis kewirausahaan sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat dan pendidikan karakter.

Pesantren dinilai memiliki potensi besar dalam mencetak generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga mandiri secara ekonomi.

Model pesantren kewirausahaan dinilai selaras dengan semangat kearifan lokal Kudus yang sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan dan industri kreatif.

Menuju Identitas Institusi Berbasis Kearifan Lokal

Wakil Rektor Bidang IV UMK Prof. Dr. Drs. Achmad Hilal Madjdi, M.Pd. dalam penutupannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya FGD ini dan menegaskan dukungan pimpinan universitas terhadap penguatan kearifan lokal sebagai ciri khas UMK.

Hasil FGD ini diharapkan menjadi dasar perumusan kebijakan akademik, pengembangan kurikulum, riset, dan pengabdian kepada masyarakat yang lebih terarah dan berkelanjutan.

“Dengan langkah strategis ini, Universitas Muria Kudus menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang berakar kuat pada kearifan lokal, sekaligus adaptif dan kompetitif dalam menghadapi tantangan global,” katanya. (aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#Nur Fajrie #Magister Pendidikan Dasar #islam nusantara center #universitas muria kudus #Program Pascasarjana #Islam Nusantara Foundation #gusjigang #sunan kudus #gusjigang mubarok #Pascasarjana UMK #umk #Kearifan Lokal #islam nusantara