RADARSEMARANG.ID, Kudus– Suasana antusias begitu terasa di ruang pelatihan Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Sensorik Netra (PPSDSN) Pendowo, Kudus.
Para guru yang biasanya mengajar dengan metode konvensional, kini berinteraksi dengan media pembelajaran modern.
Inilah pemandangan dari program Pengabdian Kepada Masyarakat yang digagas oleh tim dosen Universitas Muria Kudus (UMK), sebuah terobosan yang membawa harapan baru bagi peningkatan kualitas pendidikan inklusi di Kudus.
Tim dosen UMK melaksanakan program Pengabdian Kepada Masyarakat Kompetitif Nasional dengan tema Media Anatomy-Based Literacy Terintegrasi Multimodal Counseling sebagai Penguatan Kompetensi Guru dan Kepribadian Produktif di Pendowo Kudus.
Tim pengabdian terdiri atas Dr. Nur Mahardika, S.Pd., M.Pd.; Siti Masfuah, S.Pd., M.Pd.; Soni Adiyono, S.Kom., M.Kom., dan Dr. Fina Fakhriyah, M.Pd.
Seluruh tim berkomitmen memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kualitas pendidikan melalui inovasi media pembelajaran dan pendampingan guru terutama Pendidikan inklusi.
Menurut anggota tim pengabdian Dr. Nur Mahardika, S.Pd., M.Pd., melalui inovasi yang diberi nama Media Anatomy-Based Literacy, para dosen UMK tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga memantik revolusi dalam cara mengajar, khususnya untuk materi pijat bagi para penerima manfaat (PM) tunanetra.
"Kami ingin para guru di sini tidak hanya cakap dalam mengajar, tetapi juga mampu beradaptasi dengan teknologi dan memiliki kepribadian yang produktif," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Dikatakan, program ini dirancang untuk memperkuat literasi yang dikolaborasikan dengan konseling multimodal.
Sehingga guru tidak hanya menguasai aspek akademis, tetapi juga memiliki kepribadian produktif dalam menghadapi tantangan pendidikan di era modern.
Anggota tim pengabdian lainnya, Siti Masfuah, S.Pd., M.Pd., menjelaskan, tujuan kegiatan pendampingan ini untuk memberikan keterampilan guru PPSDSN Pendowo dengan mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran memijat sesuai dengan karkateristik PM.
Selain itu, memberikan peningkatan keterampilan memijat PM sensorik melalui penggunaan media anatomy berbasis literasi, dilengkapi dengan video penjelasan materi oleh guru, serta meningkatkan produktivitas, jiwa wirausaha dan pemasaran keterampilan pijat PM menggunakan media sosial.
“Dengan adanya media dan pendekatan ini, diharapkan guru-guru PPSDSN Pendowo di Kudus dapat lebih siap mengembangkan kompetensi serta menanamkan kepribadian positif dalam proses pembelajaran dan memberikan kemudahan PM dalam meningkatkan keterampilan memijat dari media anatomi yang dikembangkan,” ungkap Siti Masfuah.
Dikatakan, penggunaan video yang dibuat oleh guru juga akan membantu PM untuk belajar mandiri dan mengulang materi kapan saja.
Inovasi ini tidak hanya berhenti di ruang guru.
Menurut Siti Masfuah, dampak utamanya justru dirasakan oleh para penerima manfaat di PPSDSN Pendowo.
“Bayangkan, sebelumnya mereka belajar tentang titik-titik pijat dan anatomi tubuh hanya melalui perabaan dan imajinasi. Kini, dengan Media Anatomy-Based Literacy, mereka bisa 'melihat' struktur tubuh manusia melalui media interaktif yang dirancang khusus,” jelasnya.
Kepala PPSDSN Pendowo Sundarwati, S.KM. M.Kes menyambut baik adanya kegiatan pengabdian masyarakat tim dosen UMK ini.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan tim pengabdian dari UMK. Kegiatan ini sangat membantu, karena belum ada pelatihan media serupa yang memudahkan PM belajar sistem anatomi. Begitu juga dengan guru, sangat bermanfaat dalam memudahkan mengajar, mempunyai keterampilan membuat video, mempunyai keterampilan membuat bahan ajar yang sesuai untuk PM. Keterampilan konseling juga sangat bermanfaat untuk guru dalam mendampingi PM,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini, tapi ada kegiatan serupa.
Sehingga menambah keterampilan guru maupun PM.
Soni Adiyono, S.Kom., M.Kom., anggota tim pengabdian menambahkan, kegiatan ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Pengabdian Kepada Masyarakat Kompetitif Nasional yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (DPP Kemdiktisaintek).
“Program ini diharapkan menjadi model bagi panti-panti disabilitas lainnya di Indonesia. Keberhasilan program ini di Kudus bisa menjadi cetak biru tentang bagaimana inovasi dan teknologi dapat meruntuhkan batasan dalam pendidikan inklusi. Kegiatan ini dilaksanakan mulai bulan Juni hingga Desember 2025,” paparnya.
Dia mengatakan, kegiatan pengabdian ini menjadi bagian dari upaya UMK untuk memperluas peran perguruan tinggi dalam membangun kapasitas masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan.
“Tim pengabdian berkomitmen terus berkarya dan inovatif dalam tridharma, sehingga berdampak pada kemajuan Pendidikan di Indonesia,” katanya.
Soni Adiyono optimistis kegiatan ini jauh melampaui sekadar transfer pengetahuan.
Baginya, media Anatomy-Based Literacy adalah jembatan menuju kemandirian dan produktivitas para penerima manfaat, di mana para guru diharapkan menjadi agen perubahan yang tidak hanya mentransfer ilmu pijat secara teknis, tetapi juga menginspirasi jiwa kewirausahaan.
Ia membayangkan sebuah masa depan di mana siswa tunanetra tidak hanya menguasai keterampilan, tetapi juga memiliki kepercayaan diri dan visi untuk menciptakan peluang bagi diri mereka sendiri, sebuah revolusi yang dimulai dari ruang-ruang kelas di PPSDSN Pendowo Kudus.
"Harapan kami, para guru di PPSDSN Pendowo bisa menjadi agen perubahan, yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menginspirasi para penerima manfaat untuk menjadi individu yang mandiri, produktif, dan bahkan berjiwa wirausaha," tutup Dr. Fina Fakhriyah, S.Pd., M.Pd., yang turut serta dalam tim pengabdian ini. (aro/web)
Editor : H. Arif Riyanto