Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Workshop Internasional MPD UMK: Komparasi Pendidikan Indonesia-Malaysia dalam Pengelolaan Childcare Center Berkelanjutan

H. Arif Riyanto • Jumat, 27 Juni 2025 | 21:20 WIB
Workshop Internasional bertema "Secret of Managing A Successful Childcare Center" yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom, Jumat (27/6/2025).
Workshop Internasional bertema "Secret of Managing A Successful Childcare Center" yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom, Jumat (27/6/2025).

RADARSEMARANG.ID, Kudus—Program Pascasarjana Magister Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus (MPD-PPS-UMK) terus memperkuat eksistensinya di tingkat internasional. Salah satu wujudnya tampak dalam penyelenggaraan Workshop Internasional bertema "Secret of Managing A Successful Childcare Center" yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada Jumat (27/6/2025).  Acara ini menghadirkan narasumber ahli dari luar negeri, Dr. Lily Muliana Mustafa dari City University Malaysia.

Dalam sesi yang berlangsung interaktif dan penuh nuansa akademis, Dr. Lily menyampaikan materi seputar pengelolaan pusat layanan anak (childcare center) yang efektif, serta menelaah sistem pendidikan antara Malaysia dan Indonesia sebagai konteks penting dalam pengelolaan pendidikan anak usia dini yang sukses dan berkelanjutan.

Dr. Lily mengawali pemaparan dengan menyampaikan bahwa sistem pendidikan di Malaysia dan Indonesia memiliki banyak kesamaan dari sisi struktur dan visi dasar.  Kedua negara sama-sama menganut filosofi pendidikan yang berpijak pada nilai-nilai sosial dan budaya, serta menjadikan pendidikan sebagai instrumen pembangunan nasional.

Baca Juga: Magister Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus Cetak Lulusan Berprestasi, Dorong Transformasi Pendidikan Dasar

Namun, terkait perbedaan yang cukup signifikan dalam pelaksanaan kebijakan pendidikan. Di Malaysia, sistem pendidikan cenderung bersifat terpusat dan dikontrol langsung oleh pemerintah pusat. Model ini memastikan standarisasi mutu melalui pengawasan yang seragam dan menyeluruh. Sebaliknya, Indonesia mengadopsi sistem yang lebih desentralistik. Peran pemerintah daerah, sekolah, serta kemitraan masyarakat sangat dominan dalam pelaksanaan pendidikan.

"Kebijakan pendidikan Malaysia menggunakan pendekatan centralized, sementara Indonesia mengarah pada decentralized policy dengan otonomi multi-level. Hal ini berdampak pada fleksibilitas kurikulum, kapasitas implementasi, hingga variasi mutu di tiap daerah," ujar Dr. Lily.

Perbedaan lainnya juga terletak pada pendekatan kurikulum dan arah pengembangan pendidikan. Malaysia, menurut Dr. Lily, lebih fokus pada pengembangan keterampilan praktis dan kesiapan siswa menghadapi dunia kerja. Sistem pendidikannya mengarahkan peserta didik untuk memiliki kompetensi teknis dan vokasional sejak dini.

Workshop internasional menghadirkan narasumber ahli dari luar negeri, Dr. Lily Muliana Mustafa dari City University Malaysia.
Workshop internasional menghadirkan narasumber ahli dari luar negeri, Dr. Lily Muliana Mustafa dari City University Malaysia.

Sementara itu, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam hal pemerataan akses pendidikan dan pengembangan kurikulum adaptif. “Indonesia memiliki semangat inklusivitas yang kuat, namun masih dihadapkan pada persoalan pemerataan kualitas dan integrasi kebijakan antara pusat dan daerah,” imbuhnya.

Meski begitu, Dr. Lily mengapresiasi upaya Indonesia dalam membangun sinergi antara kebijakan pendidikan dengan konteks lokal. Desentralisasi di Indonesia, jika dioptimalkan, justru membuka ruang inovasi yang lebih luas di tingkat satuan pendidikan.

Salah satu inti paparan Dr. Lily adalah strategi pengelolaan childcare center yang sukses. Pentingnya manajemen yang profesional, kolaboratif, serta berorientasi pada kesejahteraan anak secara holistik. “Childcare bukan sekadar penitipan, tapi institusi pembentuk fondasi pendidikan anak. Oleh sebab itu, pengelolaannya harus melibatkan manajemen kurikulum, sumber daya manusia, serta pendekatan psikopedagogis yang menyeluruh,” jelasnya.

Baca Juga: 32 Mahasiswa Magister Pendidikan Universitas Muria Kudus Lulus 1,5 Tahun

Dr. Lily menyarankan agar pengelolaan childcare center dilakukan dengan mengadopsi prinsip-prinsip internasional dalam pengasuhan anak usia dini, seperti child-centered learning, penguatan literasi awal, dan pendidikan karakter. Ia juga mengingatkan pentingnya pelatihan kompetensi bagi pendidik PAUD, serta perlunya supervisi berkala dan sistem evaluasi yang jelas.

Kegiatan workshop internasional ini menjadi bagian dari strategi besar Program Magister Pendidikan Dasar UMK dalam mencapai akreditasi internasional dan memperkuat posisi akreditasi UNGGUL yang telah diperoleh sebelumnya. Workshop ini merupakan bentuk komitmen MPD UMK dalam memberikan layanan akademik berkualitas dan bertaraf internasional kepada mahasiswa.

"Kami ingin memastikan bahwa mahasiswa MPD tidak hanya mendapatkan ilmu dari dalam negeri, tetapi juga memperoleh wawasan global langsung dari para pakar internasional. Ini adalah bagian dari transformasi pendidikan tinggi di Indonesia untuk menjawab tantangan global," ujar Dr. Nur Fajrie, M.Pd., selaku Kaprodi MPD UMK.

Baca Juga: MPD UMK dan Dinas Dikpora Jepara ‘Sinau Bareng’: Kuatkan Kompetensi Guru Menuju Pembelajaran Bermutu

Dengan semangat internasionalisasi, Program MPD UMK telah secara rutin menghadirkan program kolaboratif, termasuk kuliah tamu, seminar, dan workshop dengan narasumber dari luar negeri. Hal ini tidak hanya meningkatkan kapasitas akademik mahasiswa, tetapi juga memperluas jaringan profesional antar negara.

Mahasiswa MPD UMK menyambut positif kegiatan ini. Melalui diskusi dan tanya jawab, mahasiswa memperoleh perspektif baru tentang pentingnya manajemen berbasis visi dan kolaborasi lintas sektor dalam mengelola lembaga pendidikan anak usia dini.

Yunita Dwi Kurniasih, salah satu mahasiswa peserta workshop mengungkapkan bahwa materi dari Dr. Lily memberikan gambaran konkret tentang sistem pendidikan internasional dan pengelolaan pendidikan anak yang terstruktur. "Saya merasa terbuka wawasannya. Kita perlu banyak belajar dari negara lain, tetapi tetap mengadaptasi dengan nilai-nilai lokal kita," ujarnya.

Workshop internasional ini menjadi momentum penting dalam membangun paradigma baru pengelolaan pendidikan anak usia dini di Indonesia. Persandingan sistem pendidikan Malaysia dan Indonesia yang disampaikan oleh Dr. Lily Muliana Mustafa memberi gambaran bahwa keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh desain kebijakan, implementasi manajerial, dan keterlibatan semua pihak.

Program Pascasarjana MPD UMK menunjukkan bahwa upaya peningkatan kualitas tidak cukup hanya di dalam ruang kuliah, tetapi juga perlu mewujud dalam kegiatan yang menghadirkan perspektif global. Langkah ini akan memperkuat daya saing lulusan dan menciptakan lulusan yang siap menjadi agen perubahan dalam dunia pendidikan. (*/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#Magister Pendidikan Dasar #universitas muria kudus #City University #workshop #Pascasarjana UMK #Malaysia