RADARSEMARANG.ID — Tradisi Rebo Wekasan kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.
Hari Rabu terakhir di bulan Safar ini sangat lekat dengan ritual spiritual dan kebudayaan di berbagai daerah Indonesia.
Banyak warga mencari tahu kapan tanggal pastinya serta amalan apa saja yang dianjurkan untuk menolak bala.
Berikut adalah panduan lengkap jadwal, sejarah singkat, dan ragam amalan Rebo Wekasan 2026 yang dirangkum dari berbagai sumber keagamaan.
Jadwal Rebo Wekasan 2026 Tahun Ini
Berdasarkan kalender Hijriah, bulan Safar 1448 H jatuh pada bulan Juli hingga Agustus 2026.
Rebo Wekasan atau Rabu Pungkasan tahun ini diperkirakan jatuh pada:
Hari: Rabu
Tanggal: 12 Agustus 2026 (Mulai Selasa malam, 11 Agustus 2026)
Catatan: Kepastian tanggal tetap mengikuti konfirmasi penanggalan resmi dari otoritas keagamaan setempat.
Tradisi Rebo Wekasan Terdapat di Jawa, Madura, dan Banten
Tradisi Rebo Wekasan adalah salah satu warisan budaya yang masih rutin dijalankan di berbagai daerah Indonesia, terutama di Jawa, Madura, dan Banten.
Jatuh setiap Rabu terakhir bulan Safar, tradisi ini dipercaya sebagai momen untuk berdoa agar terhindar dari musibah.
Biasanya diisi dengan doa bersama, sedekah, mandi di sumber air, hingga ziarah makam leluhur sebagai bentuk memohon perlindungan.
Sekarang, melestarikan Rebo Wekasan sudah tak semudah dulu.
Arus globalisasi, gaya hidup yang serba cepat, dan dominasi teknologi membuat sebagian anak muda jarang ikut langsung dalam ritualnya.
Apalagi, banyak yang lebih sibuk dengan urusan sekolah, kerja, atau main gadget.
Tapi, di sisi lain, ada juga komunitas dan organisasi pemuda yang justru melihat ini sebagai peluang.
Mereka mulai mengembangkan Rebo Wekasan dengan cara kreatif, memadukan seni modern dengan budaya lokal, sampai memanfaatkan media sosial, supaya tradisi ini tetap seru, dekat, dan relevan di hati generasi sekarang.
Salah satu cara yang cukup terlihat adalah lewat media sosial.
Anak muda sekarang seringkali upload foto dan video prosesi Rebo Wekasan di Instagram, TikTok, atau YouTube.
Tak hanya jadi dokumentasi untuk sebuah kenangan, tapi juga jadi promosi budaya yang bisa nyebar luas, bahkan sampai ke orang-orang yang sebelumnya belum pernah dengar soal tradisi ini.
Menjaga Nilai-nilai tradisi dan Sentuhan Kreatif Ala Zaman Modern
Selain itu, Rebo Wekasan sekarang juga sering dibawa ke event budaya daerah.
Baca Juga: Teks Khutbah Jumat 7 Agustus 2026: Naskah Pertama dan Kedua Hikmah Rebo Wekasan Bulan Safar
Seperti di daerah Pekalongan misalnya, pemerintah bersama karang taruna membuat kirab budaya, lomba masak makanan khas Rebo Wekasan, sampai pameran kerajinan.
Anak muda nggak cuma datang sebagai penonton atau peserta, tapi juga ikut jadi panitia.
Jadi, mereka nggak cuma kenal tradisinya, tapi juga merasa punya andil langsung dalam menjaga dan meramaikannya.
Baca Juga: Makanan Khas Rebo Wekasan di Bulan Safar Agustus 2025
Tak mau ketinggalan di dunia kuliner.
Mereka membuat ulang makanan khas Rebo Wekasan seperti ketupat, apem, dan bubur merah putih, lalu dibagi-bagikan ke tetangga dengan menceritakan soal makna simboliknya.
Suasananya jadi hangat, apalagi kalau sambil kumpul bareng.
Kerja sama antara generasi tua dan muda menjadi salah satu kunci agar Rebo Wekasan tetap bertahan.
Anak-anak muda bisa belajar langsung dari para sesepuh desa tentang doa, tata cara ritual, sampai cerita sejarahnya.
Di sisi lain, orang-orang tua juga tak menutup diri dan memberi kebebasan untuk anak muda berkreasi mengemas acara dengan sentuhan baru.
Perpaduan pengetahuan lama dan ide segar ini membuat tradisi tetap hidup, berkembang, dan nggak kehilangan makna aslinya meski zaman terus berubah.
Baca Juga: Kapan Waktunya Mandi dan Sholat Rebo Wekasan di Bulan Safar?
Jadi, menjaga Rebo Wekasan di era sekarang butuh kerja sama antara nilai-nilai tradisi dan sentuhan kreatif ala zaman modern.
Selama anak muda masih sadar kalau tradisi ini bagian dari jati diri dan cara untuk mempererat kebersamaan, Rebo Wekasan bakal terus hidup.
Contoh-contoh upacara adat pada hari Rebo Wekasan di Tanah Jawa,
Sedekah Ketupat, Sidekah Kupat di daerah Dayeuhluhur, Cilacap.
Baca Juga: Amalan Penolak 320.000 Bala, Pantangan dan Larangan Rebo Wekasan Rabu Terakhir di Bulan Safar 2025
Upacara Rebo Pungkasan, Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta.
Ngirab, di daerah Cirebonan.
Safaran di beberapa daerah.
Dan banyak orang muslim tertentu yang melakukan sembahyang tertentu.
Makanan yang dibuat untuk upacara biasanya di antaranya Ketupat, Apem, dan Nasi tumpeng.
Baca Juga: Air 7 Ayat Salamun dalam Al Qur’an pada Hari Rebo Wekasan, Begini Cara Membuatnya
Sumber Kitab Amalan Rebo Wekasan
‘Asal-Usul Amalan Rebo Wekasan’ dijelaskan bahwa terdapat beberapa sumber kitab yang menyebutkan tentang amalan di hari Rabu terakhir bulan Safar atau dikenal Rebo Wekasan, diantaranya sebagai berikut:
- - Kanz al-Najah wa al-Surur karya ‘Abdul Hamid Quds al-Makki (w. 1917).
- - Mujarrabat al-Dayrabi karya al-Dayrabi (w. 1801 M).
- - Nihayat al-Zain karya Syekh Nawawi (w.1897 M).
- - Na’t al-Bidayah karya Muhammad al-Fadhil bin Mamayn (w.1910 M).
- - Al-Jawahir al-Khams karya Muhammad bin Khatir al-Din (w. 1562 M).
- - Wasilah al-Tahlibin Ila Mahabbati rabb al-Alamin karya murid Hussamuddin (w. 1567 M) yang dikutip dalam kitab Majmu’ah Rasa’il al-Laknawi ketika menjelaskan hukum shalat-shalat tertentu, karya ‘Abd al-Hayy al-Laknawi (w. 1886), dan kitab lainnya.
Baca Juga: Niat, Cara, Doa, Mandi dan Sholat Rebo Wekasan di Bulan Safar Agustus 2025
Rebo Wekasan merupakan wujud Akulturasi Budaya Jawa (Islam dan Jawa).
Daerah yang mengenal dan melakukan tradisi ini mayoritas adalah daerah pesisiran yang dikenal lebih dulu, kuat, dan kosmopolit keislamannya dibanding daerah pedalaman Jawa. (fal)
Editor : Baskoro Septiadi